Hadapi Risiko Bencana, PLN Aceh Bangun Backbone Transmisi 275 kV Sigli-Pangkalan Brandan

BANDA ACEH, Infoaceh.net — PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh memperkuat sistem kelistrikan di Aceh dengan membangun dan meningkatkan infrastruktur jaringan transmisi sebagai bagian dari strategi menghadapi risiko bencana hidrometeorologi yang semakin kompleks.

Selain menyiapkan sistem pemulihan kelistrikan saat kondisi darurat, PLN kini mendorong penguatan jaringan utama melalui pembangunan backbone transmisi 275 kilovolt (kV) dari Sigli hingga Pangkalan Brandan.

Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi salah satu tulang punggung sistem kelistrikan Aceh sekaligus meningkatkan fleksibilitas penyaluran daya ketika terjadi gangguan pada salah satu jalur.

General Manager PLN UID Aceh, Eddi Saputra, mengatakan keandalan pasokan listrik tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pembangkit, tetapi juga oleh kemampuan sistem transmisi dan distribusi dalam menghadapi berbagai gangguan, termasuk bencana alam.

Untuk itu, PLN UID Aceh telah menghadirkan Disaster Recovery Center (DRC) terintegrasi sebagai bagian dari langkah mitigasi menghadapi potensi gangguan akibat cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

“Langkah mitigasi ini sangat penting agar masyarakat tetap merasa aman dan nyaman. Disaster Recovery Center yang kami hadirkan ini terintegrasi dengan pihak-pihak terkait seperti BPBA dan BPBD, serta berfungsi sebagai posko utama sekaligus alur komando terpusat dalam penanganan krisis kelistrikan pascabencana,” ujar Eddi, Jum’at (21/8).

Menurutnya, keberadaan DRC memungkinkan koordinasi penanganan gangguan dilakukan secara lebih cepat, terukur dan terpusat. Sistem tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi PLN terhadap sejumlah kejadian bencana yang sebelumnya berdampak terhadap jaringan kelistrikan di Aceh.

Belajar dari Robohnya 14 Tower

Penguatan sistem tersebut tidak terlepas dari pengalaman PLN menghadapi gangguan infrastruktur transmisi akibat cuaca ekstrem.

Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah robohnya 14 tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) akibat kondisi cuaca ekstrem. Peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki desain dan lokasi infrastruktur agar lebih tahan terhadap ancaman bencana.

PLN kemudian melakukan penataan kembali infrastruktur transmisi tersebut. Saat ini, jaringan dalam proses relokasi permanen dengan menjauhkan posisi tower dari kawasan aliran sungai yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.

Relokasi itu diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan jaringan apabila terjadi banjir, erosi maupun perubahan kondisi lingkungan di sekitar jalur transmisi.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan sistem kelistrikan Aceh tidak hanya dilakukan dengan membangun jaringan baru, tetapi juga melalui evaluasi terhadap infrastruktur yang telah ada berdasarkan pengalaman gangguan di lapangan.

Backbone 275 kV Jadi Tulang Punggung

Di sisi lain, penguatan sistem kelistrikan Aceh juga dilakukan melalui sinergi PLN UID Aceh dengan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sumatera Bagian Utara (SBU).

Saat ini, UIP SBU tengah melaksanakan pembangunan backbone jaringan transmisi 275 kV dari Sigli hingga Pangkalan Brandan.

Jaringan tersebut menjadi proyek strategis dalam memperkuat sistem penyaluran listrik di wilayah Aceh dan kawasan sekitarnya. Selain jalur Sigli-Pangkalan Brandan, PLN juga tengah menyelesaikan jaringan transmisi dari Tapaktuan menuju Subulussalam.

Dengan semakin terintegrasinya jaringan transmisi, sistem kelistrikan Aceh diharapkan memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi serta kemampuan pemulihan yang lebih cepat ketika terjadi gangguan.

Eddi Saputra menjelaskan, keberadaan jalur alternatif akan membuat sistem kelistrikan tidak terlalu bergantung pada satu jalur penyaluran.

“Dengan dukungan pembangunan infrastruktur jaringan dari rekan-rekan UIP SBU, apabila terjadi gangguan pada satu jalur penyaluran, maka sistem transmisi cadangan akan langsung mengambil alih beban pasokan,” katanya.

Skema tersebut menjadi penting bagi Aceh yang memiliki wilayah geografis luas dan menghadapi risiko bencana seperti banjir, longsor serta cuaca ekstrem di sejumlah daerah.

PLTA 80 MW Ditargetkan Beroperasi Tahun Ini

Penguatan transmisi juga akan semakin strategis dengan bertambahnya kapasitas pembangkit energi di Aceh.

PLN menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 80 megawatt (MW) dapat beroperasi pada tahun ini.

Tambahan pasokan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kecukupan energi listrik, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi di Aceh.

“Di samping itu, keandalan listrik Aceh juga akan semakin meningkat seiring dengan target beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) 80 Megawatt pada tahun ini untuk mendorong kemajuan ekonomi dan investasi daerah,” ujar Eddi.

Bagi daerah yang tengah mendorong investasi dan industrialisasi, kepastian pasokan listrik menjadi salah satu faktor penting. Gangguan listrik yang berulang dapat meningkatkan biaya operasional dan berpotensi mengurangi daya tarik investasi.

Karena itu, pembangunan backbone transmisi dan tambahan kapasitas pembangkit menjadi bagian penting dari upaya PLN memastikan pertumbuhan ekonomi Aceh tidak terkendala persoalan infrastruktur energi.

PLN menilai kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dilakukan sebelum gangguan terjadi. Karena itu, strategi yang diterapkan mencakup pembangunan infrastruktur yang lebih kuat, relokasi jaringan dari kawasan rawan, penyediaan pusat pemulihan bencana hingga penguatan jalur transmisi alternatif.

Dengan pendekatan tersebut, PLN tidak hanya menargetkan percepatan pemulihan ketika jaringan mengalami gangguan, tetapi juga berupaya mengurangi potensi gangguan sejak awal.

PLN UID Aceh juga mengajak pelanggan memanfaatkan aplikasi PLN Mobile untuk memperoleh berbagai layanan kelistrikan, mulai dari pengaduan gangguan, permohonan pasang baru hingga pembayaran tagihan.

Melalui kombinasi penguatan infrastruktur, sistem mitigasi bencana dan digitalisasi layanan, PLN berharap keandalan kelistrikan Aceh semakin meningkat sehingga masyarakat maupun dunia usaha mendapatkan kepastian pasokan energi.

Pembangunan backbone transmisi 275 kV Sigli-Pangkalan Brandan pada akhirnya bukan sekadar proyek jaringan listrik. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem kelistrikan Aceh yang lebih terintegrasi, memiliki jalur cadangan dan lebih siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang.