Nasabah Capai 24,3 Juta, BSI Bukukan Laba Rp4,16 Triliun Semester I 2026

JAKARTA, Infoaceh.net – PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menutup Semester I 2026 dengan kinerja yang semakin solid. Penguatan teknologi dan kapabilitas digital yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan jumlah nasabah sekaligus kinerja keuangan perseroan.
Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta orang, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah bank syariah tersebut. Pertumbuhan nasabah mulai terlihat sejak awal 2026 dan semakin meningkat setelah proses transformasi teknologi BSI selesai pada Mei 2026.
Kinerja ini disampaikan Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo, Wakil Direktur Utama Bob T Ananta, Direktur Finance & Strategy Ade Cahyo Nugroho, Direktur Risk Management Grandhis Harumansyah dan Direktur Retail Banking Kemas Erwan Husainy pada paparan kinerja perseroan triwulan II/2026 di Kantor Pusat BSI Jakarta, Jum’at (21/8).
Sejak Mei 2026, jumlah nasabah BSI bertambah lebih dari 200 ribu per bulan. Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah BSI sekaligus membuka ruang lebih besar bagi perseroan untuk mengembangkan berbagai lini bisnis.
Pertumbuhan basis nasabah tersebut berpotensi memperkuat penghimpunan dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, investasi besar yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sistem teknologi informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih cepat, aman, dan andal bagi jutaan nasabah.
“Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah,” ujar Anggoro.
Menurutnya, penguatan kapabilitas teknologi telah meningkatkan kapasitas sistem BSI secara signifikan. Dengan kapasitas tersebut, perseroan dapat mengakomodasi pertumbuhan volume transaksi serta jumlah pengguna layanan digital yang terus meningkat.
Penguatan infrastruktur teknologi menjadi landasan BSI untuk terus mengembangkan layanan digital melalui BYOND by BSI.
Aplikasi tersebut kini menjadi salah satu kanal utama transaksi nasabah dengan layanan yang semakin terintegrasi. Sepanjang 2026, interaksi nasabah tercermin dari lebih dari 1 miliar akses login.
Melalui BYOND by BSI, nasabah dapat mengakses berbagai layanan dalam satu platform, mulai dari transaksi perbankan sehari-hari, investasi, pembiayaan, pengelolaan emas, hingga layanan haji dan berbagai kebutuhan finansial lainnya.
BSI juga memperluas solusi digital melalui Hasanah KKI Card Digital. Produk tersebut merupakan kartu KKI syariah pertama di Indonesia dan menjadi salah satu strategi perseroan untuk memperkuat penetrasi pembiayaan ritel.
Melalui Hasanah Digital, nasabah dapat mengakses kartu pembiayaan virtual tanpa kartu fisik secara lebih mudah dan fleksibel melalui aplikasi BYOND by BSI.
Limit pembiayaan yang tersedia mulai dari Rp4 juta hingga Rp100 juta, dengan sejumlah fitur seperti cicilan 0 persen, sumber dana pembayaran melalui QRIS, pemantauan limit dan tagihan, riwayat transaksi, serta notifikasi transaksi secara real time.
Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus mendorong peningkatan aktivitas transaksi digital nasabah.
Tidak berhenti di sana, BYOND by BSI juga dilengkapi berbagai fitur seperti Nabung Rutin Haji, Gadai dari Cicil Emas yang akan lunas, serta pembukaan rekening tabungan yang terintegrasi dengan tabungan emas dan tabungan haji.
BSI turut menghadirkan fitur BYOND Affiliate yang memungkinkan nasabah merekomendasikan layanan BYOND sekaligus memperoleh reward sebagai affiliator.
Pertumbuhan digitalisasi juga mendorong semakin luasnya ekosistem bisnis BSI.
Hingga Juni 2026, BSI melayani 7,69 juta nasabah haji, 1,22 juta nasabah emas, 594,6 ribu nasabah cicil emas, serta 209,7 ribu nasabah gadai emas.
Selain itu, jumlah merchant QRIS yang dilayani BSI telah mencapai lebih dari 585 ribu merchant.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa basis nasabah BSI tidak hanya bertambah dari sisi jumlah, tetapi juga semakin beragam dalam menggunakan produk dan layanan perseroan.
Kombinasi status BSI sebagai bank syariah sekaligus bank emas atau bulion juga dinilai membuka peluang baru untuk memperluas hubungan dengan nasabah melalui layanan digital.
Laba Bersih Tembus Rp4,16 Triliun
Pertumbuhan jumlah nasabah dan penguatan ekosistem digital berjalan seiring dengan kinerja keuangan yang tetap positif.
Hingga Juni 2026, BSI membukukan laba bersih Rp4,16 triliun, tumbuh sekitar 11 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Pertumbuhan laba ditopang ekspansi bisnis yang berkualitas, meningkatnya kontribusi bisnis emas, serta penguatan penghimpunan dana pihak ketiga.
Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI tumbuh 22 persen menjadi Rp393 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai Rp238 triliun.
Dari jumlah tersebut, tabungan mencapai Rp173 triliun, sementara giro berada di level Rp65,5 triliun.
Struktur pendanaan yang semakin kuat turut membantu BSI menekan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga profitabilitas.
Di sisi pembiayaan, pertumbuhan terjadi pada berbagai segmen. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, sementara pembiayaan ritel dan UMKM mencapai Rp55,83 triliun. Adapun pembiayaan konsumer meningkat menjadi Rp189,25 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan tersebut tetap diiringi dengan kualitas aset yang terjaga. Hal itu tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) Gross sebesar 1,80 persen dan NPF Net sebesar 0,33 persen.
Diversifikasi sumber pendapatan BSI juga menunjukkan perkembangan positif.
Fee Based Income (FBI) meningkat 38,15 persen menjadi Rp4,1 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong semakin berkembangnya ekosistem bisnis BSI, termasuk bisnis emas dan peningkatan transaksi digital.
Sementara itu, total aset BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp464,5 triliun, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital yang dilakukan BSI mulai berjalan beriringan dengan pertumbuhan bisnis dan penguatan fundamental keuangan perseroan.
Anggoro menegaskan, pencapaian 24,3 juta nasabah bukanlah tujuan akhir. Menurutnya, pertumbuhan jumlah nasabah justru menjadi modal awal untuk memperdalam hubungan dengan nasabah dan meningkatkan nilai bisnis.
“Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, kapasitas sistem yang semakin andal, dan basis nasabah yang terus bertambah, kami memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendalaman hubungan dengan nasabah melalui berbagai solusi keuangan syariah,” katanya.
BSI, lanjut Anggoro, ke depan tidak hanya akan mengejar pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga meningkatkan nilai dan kualitas layanan yang diterima setiap nasabah.
“Ke depan, fokus kami bukan hanya menambah jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai yang dapat kami berikan kepada setiap nasabah melalui layanan digital yang semakin relevan, mudah, dan terintegrasi,” ujarnya.
Dengan jumlah nasabah yang telah menembus 24,3 juta, aset Rp464,5 triliun, serta laba bersih Rp4,16 triliun, BSI memasuki paruh kedua 2026 dengan modal bisnis yang semakin besar.