Mas Totok Pemburu Kursi Sekretaris atau Korban Permainan Bos Besar?

Di Negeri Pulau Wisata Konoha, ada sebuah kursi yang konon memiliki daya tarik luar biasa. Bukan karena terbuat dari emas, bukan pula karena dilapisi berlian, tetapi karena siapa pun yang duduk di atasnya bisa tiba-tiba terlihat jauh lebih penting.

Kursi itu bernama kursi Sekretaris. Dalam cerita fiksi ini, Mas Totok disebut-sebut sebagai orang yang sudah lama menunggu kursi tersebut.

Janji konon sudah beredar, harapan sudah ditanam, tetapi kursi tetap saja tidak bergeser satu sentimeter pun.

Mas Totok menunggu dengan sabar. Mungkin terlalu sabar. Sebab dalam politik Negeri Konoha, kesabaran kadang bukan tanda ketenangan, melainkan tanda bahwa seseorang masih percaya pada janji.

Masalahnya, janji politik memang unik. Saat diucapkan, suaranya terdengar sangat jelas. Ketika waktunya ditagih, suaranya mendadak berubah menjadi bisikan. Bahkan kadang-kadang menghilang sama sekali, seperti sinyal telepon di tengah laut.

Dalam cerita satire ini, Mas Totok kemudian mulai bertanya: kapan kursi itu diberikan? Pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana.

Tetapi di negeri yang penuh dengan teka-teki kekuasaan, pertanyaan sederhana bisa dianggap sebagai ancaman. Apalagi jika pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak dibicarakan terlalu keras.

Kemudian muncullah angka yang membuat kalkulator ikut tegang: Rp 1,5 miliar. Dalam kisah rekaan ini, angka tersebut disebut-sebut berkaitan dengan janji kursi. Lima ratus juta disebut berasal dari satu arah, kemudian satu miliar lainnya konon datang dari arah berbeda. Jika benar-benar dijumlahkan, kalkulator hanya bisa mengangguk: Rp 1,5 miliar. Tidak kurang, tidak lebih.

Tetapi yang menarik bukan sekadar jumlahnya. Yang menarik adalah bagaimana angka tersebut kemudian seolah kehilangan pemilik cerita.

Uangnya disebut-sebut ada, janjinya pernah dibicarakan, tetapi kursinya masih menjadi milik orang lain. Ini seperti membeli tiket pesawat kelas bisnis, tetapi ketika tiba di bandara justru disuruh naik becak.

Di titik inilah Mas Totok dalam cerita satire ini mulai terlihat bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai calon korban sebuah permainan besar.

Ia mungkin mengira sedang membeli masa depan, padahal bisa saja sedang membeli sebuah harapan yang tidak pernah memiliki jadwal keberangkatan.

Dan di balik permainan itu muncul sosok yang dalam cerita ini disebut Bos Besar Berkacamata. Sosok yang konon tidak perlu banyak bicara karena orang-orang di sekitarnya sudah cukup rajin berbicara untuknya. Ia tidak perlu berlari mengejar masalah. Masalah yang justru dibuat berlari mendekatinya.

Bos Besar dalam kisah ini punya satu keahlian yang sangat langka: mengubah arah pembicaraan. Ketika orang bertanya soal kursi, pembicaraan diarahkan ke surat. Ketika orang bertanya soal janji, perhatian dialihkan kepada intimidasi. Ketika orang mulai menghitung angka, tiba-tiba semua orang diajak menghitung kesalahan orang lain. Sungguh hebat.

Di Pulau Wisata Konoha, masalah rupanya tidak perlu diselesaikan. Cukup dipindahkan kameranya.

Maka ketika dua utusan muncul membawa surat kepada sekretaris yang masih menjabat, panggung pun berubah. Surat menjadi bintang utama. Kata “intimidasi” dipasang dengan huruf besar. Kegaduhan diperbesar. Orang-orang mulai sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Sementara itu, pertanyaan tentang janji awal perlahan berjalan ke belakang panggung.

Inilah bagian paling lucu sekaligus paling pahit dari cerita ini. Ketika seseorang menagih janji, ia bisa ditampilkan sebagai pembuat keributan. Ketika seseorang mempertanyakan kursi, ia bisa disebut terlalu berambisi.

Tetapi orang yang sejak awal membuat janji bisa saja cukup duduk tenang sambil berkata, “Bukan saya. Masyarakat tidak menghendaki.” Kalimat itu sungguh sakti.

Ia bisa menghapus jejak keputusan. Ia bisa mencuci tangan dari janji. Bahkan bisa membuat orang yang sebelumnya dijanjikan jabatan berubah status menjadi orang yang dianggap mengganggu ketertiban.

Kalau memang masyarakat tidak menghendaki, tentu pertanyaan berikutnya sederhana: mengapa janji itu pernah muncul?

Kalau sejak awal kursi tidak mungkin diberikan, mengapa harapan dibiarkan tumbuh?

Kalau tidak pernah ada janji, mengapa Mas Totok dalam cerita ini sampai begitu yakin bahwa kursi tersebut akan menjadi miliknya?

Dan kalau angka Rp1,5 miliar hanya bagian dari cerita fiksi, mengapa angka itu terasa begitu mengganggu setiap kali disebut?

Tentu saja, semua pertanyaan itu hanya berada di dunia rekaan. Tetapi justru di situlah kekuatan satire. Ia tidak perlu menunjuk hidung siapa pun. Cukup meletakkan sebuah cermin di tengah ruangan dan membiarkan siapa pun yang merasa wajahnya ada di sana mengambil kesimpulan sendiri.

Bos Besar pun tidak perlu marah. Ia hanya perlu tersenyum. Sebab dalam permainan kekuasaan, orang yang paling tenang sering kali adalah orang yang paling tahu bahwa perhatian publik sedang diarahkan ke tempat lain.

Para kuli tinta pun dalam cerita ini bisa saja ikut terseret. Mereka menulis tentang intimidasi, surat, utusan, dan kegaduhan. Tidak ada yang salah dengan berita tersebut.

Namun satire ini hanya ingin bertanya: jangan-jangan semua orang sedang sibuk menghitung asap, sementara api sebenarnya berada di tempat lain?

Mas Totok akhirnya berada di posisi yang aneh. Ia mengejar kursi, tetapi semakin dikejar semakin jauh. Ia menagih janji, tetapi semakin ditagih semakin banyak alasan. Ia berharap menjadi pejabat, tetapi bisa saja justru dipersiapkan menjadi kambing hitam ketika permainan mulai berantakan.

Inilah yang membuat kisah Pulau Wisata Konoha menjadi semakin absurd. Dalam satu adegan, seseorang dijanjikan kursi. Dalam adegan berikutnya, orang yang menagih kursi justru dianggap sumber masalah.

Lalu muncul surat, muncul utusan, muncul kegaduhan, muncul narasi intimidasi. Semua orang berbicara.

Hanya satu yang tidak pernah benar-benar berbicara: janji itu sendiri. Janji tidak punya mulut, uang tidak punya suara dan kursi tidak bisa memberikan kesaksian.

Tetapi ketiganya meninggalkan satu pertanyaan yang sangat keras: siapa sebenarnya yang sedang memainkan siapa?

Dalam cerita ini, Mas Totok mungkin bukan pemain utama. Bisa jadi ia hanya bidak yang terlalu percaya bahwa dirinya sedang menuju kemenangan. Padahal seorang bidak tidak pernah tahu seluruh strategi di papan catur. Ia hanya bergerak ketika diperintahkan.

Dan ketika sudah tidak berguna, bidak bisa saja dikorbankan.

Mungkin itulah nasib paling tragis seorang calon pemenang di Negeri Konoha: ketika janji belum terpenuhi, ia menjadi penagih; ketika penagihan menjadi gaduh, ia menjadi tersangka moral; dan ketika cerita sudah berubah, ia bisa saja menjadi korban dari permainan yang bukan dia ciptakan.

Sementara Bos Besar Masih duduk tenang, Kacamata bulat kecil dengan lensa tebal masih bertengger di wajahnya. Senyumnya masih sama. Kursi kekuasaannya masih empuk. Dan di atas meja, cerita terus berganti.

Hari ini soal kursi, Besok soal intimidasi, Lusa mungkin soal masyarakat dan Entah kapan soal Rp1,5 miliar.

Sebab dalam politik Negeri Konoha, rupanya ada satu seni yang lebih sulit daripada mendapatkan jabatan: membuat publik lupa mengapa jabatan itu sejak awal diperebutkan.

Maka Mas Totok masih menunggu, kursi masih ditempati orang lain, Pelantikan masih menjadi teka-teki, angka Rp1,5 miliar masih berkelana dalam dunia fiksi ini dan Bos Besar tetap tersenyum.

Sebab boleh jadi pertarungan sebenarnya bukan lagi tentang siapa yang mendapatkan kursi.

Melainkan tentang siapa yang lebih dulu menguasai cerita.

Dan jika Mas Totok memang hanya calon korban dalam permainan ini, maka pertanyaan terakhirnya sederhana, tetapi tajam:

Kalau kursinya tidak pernah diberikan, mengapa Mas Totok dibiarkan percaya bahwa kursi itu memang pernah menjadi miliknya?

Catatan Penulis: Reportase ini sepenuhnya merupakan karya fiksi dan satire. Tidak ada maksud untuk menuduh, mencemarkan nama baik, atau menyinggung individu, pejabat, lembaga, maupun pihak tertentu. Seluruh tokoh, nama, jabatan, tempat, dialog, serta rangkaian peristiwa merupakan bagian dari dunia rekaan. Apabila terdapat kesamaan dengan nama, tempat, jabatan, maupun peristiwa nyata, hal tersebut merupakan kebetulan semata.

Penulis Riandi Armi, merupakan anggota aktif PWI Kota Sabang sebagai Penasihat