Keset Kaki Bermimpi Jadi Karpet Istana: Dulu Mengeluh, Kini Membela

DI Negeri Pulau Wisata Konoha, Provinsi Fufufafa, ada satu hukum yang tak pernah tertulis dalam kitab negara, tetapi hidup subur di lorong-lorong kekuasaan. Keset Kaki yang terlalu lama diinjak kadang bermimpi menjadi karpet istana.
Mungkin itulah sebabnya pasangan suami-istri yang oleh warga dijuluki Sang Keset Kaki tiba-tiba menjelma menjadi prajurit paling berani di medan perang media sosial BookBook.
Mereka tak membawa pedang, tak mengangkat tombak, cukup menghunus jempol, akun-akun samar, dan keberanian yang anehnya hanya tumbuh ketika wajah disembunyikan di balik layar.
Sasaran mereka hanya satu, seorang penulis yang memilih tetap menulis ketika sebagian orang memilih diam. Di Konoha, diam adalah mata uang paling aman, sedangkan tulisan adalah barang mewah yang harganya dibayar dengan risiko.
Semakin tajam kalimat dirangkai, semakin panas pula telinga para penghuni istana. Di negeri itu, tinta lebih ditakuti daripada hujan, sebab hujan hanya membasahi jalan, sementara tulisan mampu membasahi wajah pencitraan hingga riasannya luntur.
Tulisan-tulisan sang penulis berkeliling seperti burung yang enggan dikurung. Ia menyinggung kisah kursi yang konon memiliki harga, pinjaman yang aromanya lebih menyerupai setoran, janji jabatan yang nilainya lebih mahal daripada rumah megah, hingga cerita proyek yang bayangannya sudah bertransaksi sebelum pondasinya berdiri.
Dalam dunia satire ini, kebenaran bukan lagi perkara siapa yang benar, melainkan siapa yang memiliki pengeras suara paling besar. Dan pengeras suara terbesar kebetulan berada di tangan Sang Bos Kacamata Bulat.
Sang Bos dikenal warga sebagai Kancil yang tak pernah terlihat berlari, tetapi selalu berhasil tiba lebih dulu. Ia tak perlu mengeluarkan perintah dengan stempel resmi. Cukup satu kerutan di dahinya, lalu para loyalis membaca ekspresi itu seperti wahyu yang harus segera dilaksanakan.
Tak ada rapat terbuka, tak ada surat edaran, namun serangan mendadak memenuhi BookBook seolah seluruh jempol telah mendapat panggilan suci untuk membela citra sang majikan.
Di sinilah keajaiban paling lucu sekaligus tragis terjadi. Sang Keset Kaki yang beberapa bulan sebelumnya masih mengeluh, kini berubah menjadi benteng hidup.
Dulu mereka pernah berkoar-koar di warung kopi, mengaku tahu siapa dalang akun-akun bodong, menyebut nama demi nama dengan keyakinan setebal tembok.
Dulu mereka marah karena merasa dicueki. Dulu mereka merasa menjadi korban permainan Sang Bos Kacamata Bulat. Namun waktu memang pandai mencuci ingatan, terlebih ketika harapan datang membawa aroma pengadaan tempat tidur medis di rumah sakit Konoha.
Tempat tidur itu bahkan belum terlihat bentuknya. Belum disentuh tangannya. Belum lahir ke dunia. Namun kabarnya saja sudah cukup mengubah arah angin. Begitulah cara janji bekerja di Konoha.
Ia lebih empuk daripada kasur, lebih ringan daripada kapas, dan lebih mudah terbang daripada asap dapur. Anehya, orang-orang tetap berebut menangkapnya seolah janji adalah burung emas yang pasti hinggap, padahal sering kali ia hanya layang-layang putus yang terbawa angin.
Sejak itulah BookBook berubah menjadi arena pertunjukan pencitraan. Pagi menyerang kritik, siang memuji bos, sore membagikan narasi, malam melahirkan akun baru. Akun-akun tanpa wajah bergentayangan seperti kunang-kunang yang kehilangan cahaya.
Bedanya, kunang-kunang menerangi malam, sementara akun-akun itu hanya menerangi ego yang sedang mencari perhatian. Setiap komentar dilempar seperti batu ke jendela rumah penulis, berharap kaca keberaniannya retak. Namun mereka lupa bahwa jendela yang terbuat dari keyakinan tak mudah pecah hanya karena kerikil tudingan.
Sang Kancil tampaknya memahami ilmu tua yang tak diajarkan di sekolah mana pun, yakni seni menjinakkan manusia tanpa perlu menyentuhnya. Ia tak harus memberi emas, cukup menawarkan kemungkinan.
Kemungkinan mendapat proyek, kemungkinan diajak masuk lingkaran, kemungkinan dianggap orang penting, kemungkinan memperoleh remah-remah dari meja kekuasaan. Kemungkinan selalu lebih berbahaya daripada kepastian, sebab kepastian memiliki batas, sedangkan kemungkinan bisa dijual tanpa stok.
Yang paling menyedihkan justru bukan Sang Penulis yang diserang dari segala penjuru, melainkan Sang Keset yang perlahan lupa pernah menjadi korban. Dulu mereka kecewa, hari ini membela.
Dulu menuding, kini menyangkal. Dulu bersumpah, sekarang bersorak. Bukan karena ingatan mereka hilang, melainkan karena kepentingan sering menjadi penghapus paling ampuh. Di Konoha, memori bisa berubah warna lebih cepat daripada bunglon ketika mendekati dahan kekuasaan.
Warga kemudian menemukan perumpamaan yang paling pas untuk menggambarkan watak Sang Keset. Jika hari ini dipesan Mie Goreng Ia akan menjadi Mie Goreng Spesial, mengepul harum mengikuti selera pemesan.
Jika besok diminta menjadi Martabak, ia akan menjadikan dirinya Martabak Mesir, melipat dirinya tanpa keberatan. Lusa ia mungkin berubah menjadi bubur ayam, asalkan mangkuknya mengarah ke meja yang dianggap menjanjikan.
Bukan karena ia tak memiliki kemampuan, melainkan karena pendiriannya terlalu lentur hingga prinsipnya bisa digulung seperti adonan.
Ironinya, Sang Bos Kacamata Bulat sendiri dikenal sebagai sosok yang gemar menebar janji lebih cepat daripada menepatinya.
Di warung-warung kopi Fufufafa, warga sering berbisik bahwa jika kepada pemberi modal miliaran saja ia mampu membuat janji berputar-putar seperti komidi putar, maka apalagi kepada mereka yang hanya datang bermodal harapan dan segelas kopi. Namun anehnya, harapan tetap menjadi candu yang tak pernah kehilangan pembeli.
Di Negeri Pulau Wisata Konoha, penjilat bukan lagi sekadar sebutan, melainkan profesi yang memiliki cabang spesialisasi.
Ada penjilat musiman yang muncul saat proyek datang. Ada penjilat serba guna yang selalu hadir di kolom komentar. Ada pula penjilat profesional yang rela mengganti warna lidah demi tetap terlihat setia.
Mereka lupa bahwa matahari memang memberi cahaya, tetapi siapa yang terlalu dekat justru akan hangus lebih dahulu.
Maka pertanyaan terakhir menggantung di langit Fufufafa seperti layang-layang yang tak kunjung jatuh yakni siapakah sebenarnya yang paling patut dikasihani?
Sang Penulis yang terus diserang karena memilih berbicara, atau Sang Keset Kaki yang berlari mengejar janji yang bahkan bayangannya belum tentu pernah ada?
Sementara Sang Kancil tetap berjalan tenang melewati jalan yang setiap hari dibersihkan oleh para keset yang berharap suatu saat diangkat menjadi karpet istana, padahal setiap tamu yang datang tetap menginjak mereka lebih dulu sebelum memasuki pintu kekuasaan.
Catatan Penulis: Seluruh tokoh, tempat, peristiwa, dialog, dan simbol dalam tulisan ini merupakan karya fiksi satire. Tidak merujuk kepada orang, kelompok, institusi, atau peristiwa di dunia nyata. Apabila ada Kesamaan nama, sifat, atau kejadian dan persitiwa merupakan kebetulan semata.
Penulis Riandi Armi adalah Anggota PWI Aktif Kota Sabang sebagai Penasihat