Harga Material Mahal, Wagub Aceh Sebut Bantuan Rumah Korban Bencana Rp60 Juta Tidak Cukup

BATAM, Infoaceh.net — Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fad menilai bantuan pembangunan kembali rumah masyarakat yang menjadi korban bencana sebesar Rp60 juta per unit perlu dievaluasi.

Pasalnya, tingginya harga material bangunan membuat anggaran tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk membangun rumah yang layak.

Hal itu disampaikan Fadhlullah dalam Rapat Anggota DPD RI Subwilayah Barat I yang membahas sejumlah isu strategis di Pulau Sumatera, di Hotel Wyndham Panbil, Batam, Jum’at (11/9/2026).

Rapat tersebut dihadiri Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamuddin, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Sestama BNPB, perwakilan kementerian terkait, serta sejumlah kepala daerah dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.

Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau Haji Uma, Tgk Ahmada dan Azhari Cage, juga hadir dalam forum tersebut.

Dalam kesempatan itu, Dek Fad menyampaikan kondisi yang dihadapi masyarakat Aceh dalam proses pemulihan pascabencana.

Salah satu persoalan yang menurutnya perlu segera mendapat perhatian pemerintah adalah besaran bantuan pembangunan kembali rumah warga.

Ia mempertanyakan relevansi bantuan Rp60 juta dengan kondisi harga bahan bangunan saat ini.

“Dengan harga semen mahal saat ini apakah wajar nilai bantuan bangun ulang rumah Rp60 juta? Karena itu perlu dievaluasi dan ditinjau kembali,” ujar Dek Fad.

Menurut Dek Fad, tingginya harga semen menjadi salah satu faktor yang membuat biaya pembangunan rumah meningkat.

Ia menyebut kapasitas produksi Semen Andalas di Aceh sekitar 3.700 ton per hari.

Sementara kebutuhan semen di Aceh mencapai sekitar 4.200 ton per hari.

Adanya selisih antara kapasitas produksi dan kebutuhan tersebut, kata dia, menyebabkan ketersediaan semen di pasaran mengalami tekanan.

Kondisi itu kemudian berdampak terhadap harga yang harus dibayar masyarakat.

Dek Fad menyebut harga semen di sejumlah kabupaten di Aceh telah mencapai sekitar Rp120 ribu per sak.

Dengan kondisi tersebut, menurutnya, pemerintah perlu melakukan penghitungan ulang terhadap kebutuhan biaya pembangunan rumah korban bencana.

“Dengan harga semen mahal saat ini apakah wajar nilai bantuan bangun ulang rumah Rp60 juta?” katanya.

Ia berharap besaran bantuan disesuaikan dengan kondisi harga material di lapangan sehingga masyarakat korban bencana tidak kembali terbebani ketika membangun rumahnya.

Pemulihan Aceh Butuh Anggaran Besar

Persoalan bantuan rumah tersebut merupakan bagian dari tantangan besar pemulihan Aceh pascabencana.

Dalam forum DPD RI, Dek Fad mengungkapkan kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang dituangkan dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) mencapai sekitar Rp153 triliun.

Namun, pemerintah pusat disebut menyetujui sekitar Rp58 triliun.

Menurutnya, selisih antara kebutuhan dan anggaran yang tersedia menunjukkan masih besarnya kebutuhan pembiayaan untuk memastikan seluruh proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan optimal.

Karena itu, ia meminta pemerintah pusat melihat kebutuhan Aceh secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi pembangunan kembali rumah, tetapi juga infrastruktur dasar dan fasilitas publik yang rusak akibat bencana.

Dek Fad juga mengingatkan agar pembangunan kembali rumah warga tidak dilakukan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan dan sistem pengendalian air.

Ia meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap sungai-sungai yang mengalami kerusakan akibat bencana.

Menurutnya, kapasitas sungai harus mampu menampung debit air ketika hujan deras. Jika tidak, rumah dan infrastruktur yang baru dibangun berisiko kembali terdampak banjir.

“Harus kita pastikan sungai mampu menampung air kalau hujan. Tidak merembes ke darat,” tegasnya.

Karena itu, rehabilitasi sungai dinilai harus menjadi bagian penting dari agenda pemulihan Aceh.