Kenduri Maulid di Teupin Raya, Tradisi Berbungkus Daun yang Terus Dirawat Warga

Teupin Raya, Infoaceh.net – Suasana kebersamaan begitu terasa dalam kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar masyarakat Gampong Kaye Jatoe, Teupin Raya, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, Ahad (13/9/2026).

Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Fadhlullah atau akrab disapa Dek Fad turut hadir dalam kenduri tersebut. Kehadirannya menyatu dengan aktivitas masyarakat yang masih mempertahankan tradisi kenduri Maulid secara turun-temurun.

Usai melaksanakan salat Zuhur, Fadhlullah didampingi Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Aceh Akkar Arafat bersama rombongan, berbaur dengan warga di musala setempat.

Di halaman musala, aroma berbagai masakan khas kenduri menguar. Hidangan berupa ikan, daging, sayuran, serta aneka masakan khas Aceh disajikan dalam bungkus daun, sebagaimana tradisi yang masih dipertahankan masyarakat setempat.

Hidangan tersebut berasal dari sumbangan warga yang memiliki kemampuan dan diberikan secara sukarela untuk dinikmati bersama.

Bagi masyarakat Kaye Jatoe, kenduri bukan sekadar kegiatan makan bersama. Tradisi ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, sekaligus ruang untuk memperkuat silaturahmi, berbagi rezeki dan menjaga rasa kebersamaan antarwarga.

Uniknya, hidangan kenduri yang tersisa juga tidak dibiarkan begitu saja. Sebagian makanan sengaja disisihkan untuk kemudian dibungkus kembali dan dibawa pulang.

Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk berbagi rezeki di antara masyarakat. Makanan kenduri dipandang memiliki nilai kebersamaan dan keberkahan sehingga sebisa mungkin tidak terbuang percuma.

Kenduri Maulid di Gampong Kaye Jatoe juga tidak hanya diikuti warga setempat. Masyarakat dari sejumlah gampong tetangga turut hadir memenuhi undangan.

Tokoh masyarakat setempat, Muhammad Ishak, mengatakan pihaknya mengundang masyarakat dari delapan gampong tetangga yang berada di Kecamatan Glumpang Tiga.

“Kita mengundang delapan gampong tetangga dalam Kecamatan Glumpang Tiga,” kata Muhammad Ishak.

Menurutnya, pelaksanaan kenduri Maulid memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kenduri menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul, mempererat silaturahmi sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu.

“Tradisi ini terus kita pertahankan karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan silaturahmi,” ujarnya.

Bagi masyarakat Gampong Kaye Jatoe, tradisi kenduri Maulid telah menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat.

Di tengah perubahan zaman, tradisi menyajikan makanan dalam bungkus daun, makan bersama dan membawa pulang sebagian hidangan kenduri masih dipertahankan.

Kesederhanaan penyajian justru memperlihatkan kuatnya nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Masyarakat tidak hanya berkumpul untuk menikmati hidangan, tetapi juga berbagi, saling menyapa dan mempererat hubungan antarwarga.

Kehadiran Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dalam kenduri tersebut turut memberikan warna tersendiri. Pemerintah Aceh menunjukkan kehadirannya di tengah masyarakat dalam berbagai momentum keagamaan dan sosial yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.

Kenduri Maulid di Kaye Jatoe pun kembali mengingatkan bahwa tradisi yang diwariskan secara turun-temurun bukan sekadar seremoni.

Di balik hidangan yang dibungkus daun dan disantap bersama, terdapat nilai gotong royong, berbagi rezeki, silaturahmi serta persaudaraan yang terus dijaga masyarakat.