Masyarakat Aceh Siap-siap Banjir Lagi: Oktober-Desember 2026 Curah Hujan Tinggi

Banda Aceh, Infoaceh.net – Masyarakat di seluruh wilayah Aceh diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana banjir dan tanah longsor seiring prakiraan meningkatnya intensitas curah hujan dalam tiga bulan ke depan.
Pemerintah Aceh telah meminta seluruh bupati dan wali kota melakukan langkah terpadu untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi dampak hujan pada periode Oktober hingga Desember 2026.
Imbauan tersebut disampaikan melalui Surat Sekretariat Daerah Aceh Nomor 300.2/11114 tertanggal 14 September 2026. Surat tersebut ditandatangani Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Taufik ST MSi atas nama Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
Permintaan tersebut disampaikan berdasarkan informasi prediksi curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh.
“Langkah itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari peningkatan intensitas curah hujan yang akan terjadi selama kurun waktu tiga bulan ke depan,” kata Taufik di Banda Aceh, Sabtu (19/9/2026).
BMKG memprediksi wilayah Aceh akan mengalami curah hujan kategori menengah hingga tinggi pada periode Oktober-Desember 2026. Untuk sejumlah wilayah, prakiraan bahkan menunjukkan potensi curah hujan sangat tinggi.
Data BMKG yang diperbarui pada September 2026 menunjukkan kondisi hujan Aceh memang tidak seragam. Pada Oktober, sejumlah wilayah Aceh diprediksi mengalami curah hujan 300-500 milimeter per bulan, sementara beberapa wilayah lainnya dapat mencapai lebih dari 500 milimeter per bulan.
Oktober, Sejumlah Wilayah Diprediksi Hujan Tinggi
Untuk Oktober 2026, BMKG memprakirakan Aceh Barat Daya menjadi salah satu wilayah dengan curah hujan kategori sangat tinggi, yakni lebih dari 500 milimeter per bulan.
Sementara itu, sejumlah daerah seperti Aceh Jaya, Pidie, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara dan Kota Subulussalam diprediksi berada pada kategori tinggi, yakni 300-500 milimeter per bulan.
Adapun Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Langsa berada pada kategori menengah dalam prakiraan BMKG tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman hidrometeorologi tidak hanya perlu diperhatikan di kawasan pegunungan atau pedalaman. Daerah perkotaan dan dataran rendah juga tetap perlu mengantisipasi genangan maupun banjir apabila hujan deras terjadi dalam waktu relatif lama dan kapasitas drainase tidak mampu menampung limpasan air.
November, Curah Hujan Tinggi Masih Menghantui Sejumlah Daerah
Memasuki November, pola hujan tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Aceh.
BMKG memprakirakan Aceh Barat, Nagan Raya dan Aceh Barat Daya berada dalam kategori curah hujan sangat tinggi, lebih dari 500 milimeter per bulan.
Sementara Aceh Jaya, Simeulue, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara dan Kota Subulussalam diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi, 300-500 milimeter per bulan.
Sebaliknya, wilayah Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Langsa masuk kategori menengah, yakni 100-300 milimeter per bulan.
Dengan demikian, tingginya curah hujan tidak berarti seluruh Aceh akan mengalami banjir. Namun, hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko bencana, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap luapan sungai, drainase buruk, lereng curam, maupun kawasan yang masih mengalami dampak bencana sebelumnya.
Pengalaman Bencana Tahun Lalu Jadi Peringatan
Kewaspadaan Pemerintah Aceh juga tidak terlepas dari bencana hidrometeorologi yang terjadi sebelumnya.
Pada September 2026, banjir dan longsor kembali terjadi di sejumlah wilayah Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Pemerintah Aceh menyebut kondisi tanah di sejumlah kawasan yang sebelumnya terdampak bencana masih labil sehingga perlu mendapatkan perhatian ketika memasuki periode hujan.
Di Aceh Tengah, longsor terjadi di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, pada Senin dini hari, 14 September 2026. Bencana tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka. Empat rumah terdampak dan akses jalan sempat tertutup material longsor.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf sebelumnya juga telah mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan.
Menurut Pemerintah Aceh, sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI, Polri dan unsur terkait diperlukan untuk memperkuat respons apabila bencana terjadi.
Menghadapi potensi peningkatan curah hujan, masyarakat diminta tidak menunggu sampai banjir terjadi.
Salah satu langkah yang ditekankan Pemerintah Aceh adalah membersihkan lingkungan dan saluran air secara berkala. Gotong royong membersihkan drainase, selokan dan sungai dari sampah dinilai penting untuk memperlancar aliran air ketika hujan deras turun.
Warga juga diminta memangkas dahan atau pohon yang sudah lapuk dan berpotensi tumbang saat terjadi hujan deras maupun angin kencang.
BMKG dan Pemerintah Aceh juga mendorong masyarakat yang berada di kawasan rawan untuk mempersiapkan Tas Siaga Bencana.
Tas tersebut dapat berisi dokumen penting seperti kartu keluarga, ijazah, surat tanah dan dokumen identitas lainnya yang disimpan dalam wadah kedap air.
Selain itu, perlengkapan dasar seperti obat-obatan pribadi, senter, makanan siap saji, air minum, pakaian ganti serta kebutuhan penting lainnya juga perlu dipersiapkan.
Aspek keselamatan kelistrikan juga menjadi perhatian. Apabila air mulai memasuki rumah dan berpotensi mencapai instalasi listrik, warga diminta segera mematikan sumber listrik utama dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Barang-barang elektronik, dokumen dan aset berharga juga sebaiknya dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi sebelum air semakin meningkat.
Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko korsleting maupun kerusakan barang ketika banjir terjadi.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan lereng, kewaspadaan tidak hanya diarahkan pada banjir, tetapi juga ancaman tanah longsor.
Retakan baru pada tanah, munculnya rembesan air, perubahan aliran air secara tiba-tiba serta air sungai yang berubah menjadi keruh dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Jika kondisi menunjukkan ancaman terhadap keselamatan, masyarakat diminta tidak bertahan di lokasi dan segera menuju tempat yang lebih aman melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Pemerintah Aceh juga meminta masyarakat terus mengikuti informasi resmi BMKG, BPBD dan pemerintah daerah. Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dapat berubah sesuai perkembangan kondisi atmosfer.
BMKG sendiri menekankan bahwa prakiraan hujan merupakan informasi prediksi dan perlu diperbarui secara berkala.
BMKG menyebut prediksi hujan untuk periode Oktober hingga Desember 2026 merupakan prakiraan tiga bulan ke depan dan masyarakat diharapkan mengacu pada informasi terbaru yang dikeluarkan BMKG setiap bulan.
Karena itu, potensi curah hujan tinggi tidak otomatis berarti seluruh wilayah Aceh akan dilanda banjir. Risiko bencana di lapangan juga dipengaruhi kondisi sungai, drainase, tutupan lahan, kemiringan lereng, tata ruang, kondisi tanah dan kemampuan daerah dalam mengelola limpasan air.
Namun, bagi Aceh yang masih menghadapi dampak bencana hidrometeorologi sebelumnya, prakiraan hujan tinggi menjadi alasan untuk memperkuat kesiapsiagaan sejak dini.
Pemerintah Aceh meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota tidak hanya mengandalkan respons ketika bencana telah terjadi, tetapi memastikan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, tempat pengungsian, personel, peralatan dan koordinasi antarlembaga siap digunakan sewaktu-waktu.
Masyarakat pun diminta mengambil langkah sederhana mulai sekarang: membersihkan saluran air, mengamankan dokumen penting, menyiapkan perlengkapan darurat, mengetahui lokasi evakuasi dan terus memantau informasi resmi.
Dengan demikian, menghadapi potensi hujan tinggi Oktober hingga Desember 2026 bukan sekadar soal menunggu apakah banjir datang, melainkan memastikan masyarakat dan pemerintah sudah siap sebelum air mulai naik.