Aceh Bidik Lebih Banyak Penerbangan dari Bandara SIM, Rute Internasional Baru Dijajaki

Banda Aceh, Infoaceh.net — Pemerintah Aceh mendorong penguatan konektivitas udara melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar.
Selain meningkatkan kualitas pelayanan, pengembangan tersebut diarahkan untuk membuka lebih banyak rute penerbangan domestik maupun internasional, termasuk memperkuat penerbangan langsung jemaah umrah ke Arab Saudi.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fadh saat menerima audiensi General Manager PT Angkasa Pura, Rahmat Adil Indrawan, bersama sejumlah instansi terkait di Ruang Rapat Wakil Gubernur Aceh, Rabu (23/9/2026).
Pertemuan itu membahas sejumlah agenda strategis terkait pengelolaan dan pengembangan Bandara SIM, mulai dari rencana perpanjangan Nota Kesepahaman tentang pemanfaatan Barang Milik Aceh untuk operasional dan pengembangan bandara, penerbangan jamaah umrah, penjajakan rute baru, hingga peningkatan standar pelayanan dan keamanan.
Dek Fad menegaskan Pemerintah Aceh siap mendukung berbagai upaya pengembangan Bandara SIM.
“Selama ini saya melihat pelayanan PT Angkasa Pura sudah sangat baik. Apa yang masih kurang, mari kita sama-sama sempurnakan. Pemerintah Aceh akan mendukung sepenuhnya hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan pelayanan dan pengembangan Bandara SIM,” ujar Dek Fad.
Menurutnya, peningkatan konektivitas penerbangan tidak hanya berkaitan dengan mobilitas masyarakat, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan pengembangan pariwisata dan aktivitas ekonomi Aceh.
Karena itu, pengembangan rute penerbangan perlu dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah, pengelola bandara, maskapai dan berbagai instansi pendukung.
General Manager PT Angkasa Pura Rahmat Adil Indrawan menyampaikan bahwa pihaknya tengah menjajaki pembukaan sejumlah rute baru dari Bandara SIM.
Rute tersebut mencakup penerbangan domestik maupun internasional.
Untuk mendukung upaya tersebut, direncanakan pembentukan Route Development Team yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Tim tersebut nantinya diharapkan dapat memperkuat promosi potensi Aceh, terutama sektor pariwisata, sekaligus mengidentifikasi peluang rute baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Dengan adanya tim lintas instansi, pengembangan rute diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola bandara, tetapi menjadi agenda bersama untuk memperkuat konektivitas Aceh.
Pengembangan rute tersebut juga menjadi penting karena konektivitas udara dapat memengaruhi arus wisatawan, mobilitas masyarakat, aktivitas bisnis serta akses Aceh terhadap jaringan penerbangan nasional dan internasional.
Salah satu agenda utama yang dibahas dalam audiensi adalah penguatan penerbangan jemaah umrah dari Aceh menuju Arab Saudi.
Rahmat menyampaikan traffic penerbangan umrah terus mengalami peningkatan. Kondisi tersebut mendorong Angkasa Pura mengupayakan agar penerbangan langsung ke Arab Saudi dari Bandara SIM dapat berlangsung lebih rutin.
Upaya membuka penerbangan langsung tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian Pemerintah Aceh.
Pada Mei 2026, Pemerintah Aceh bahkan meminta dukungan Presiden agar maskapai asal Arab Saudi memperoleh izin technical stop with traffic rights di Bandara SIM. Skema tersebut memungkinkan maskapai asing tidak hanya singgah, tetapi juga mengangkut jemaah umrah dari Aceh menuju Arab Saudi.
Dinas Perhubungan Aceh sebelumnya menyebut penerbangan langsung diharapkan dapat mengurangi ketergantungan jemaah terhadap penerbangan transit, termasuk melalui Kuala Lumpur, sekaligus membuka peluang perjalanan yang lebih efisien.
Dengan meningkatnya traffic umrah, Bandara SIM kini kembali didorong menjadi salah satu pintu keberangkatan utama jemaah Aceh menuju Tanah Suci.
Pemerintah Aceh dan Angkasa Pura juga menekankan bahwa penambahan rute harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan.
Pengalaman pada awal September 2026 menunjukkan betapa pentingnya kesiapan seluruh unsur penerbangan. Saat Bandara Soekarno-Hatta terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau, sejumlah penerbangan dari dan menuju Bandara SIM ikut mengalami pembatalan. Pada 7 September, misalnya, sebanyak 10 penerbangan rute Aceh-Jakarta dan sebaliknya terdampak penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik.
Penerbangan rute Banda Aceh-Jakarta kemudian kembali beroperasi secara bertahap pada 8 September setelah kondisi memungkinkan. Angkasa Pura menyatakan pemulihan konektivitas dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan, keamanan dan pelayanan penumpang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penguatan konektivitas tidak semata-mata berkaitan dengan penambahan jumlah penerbangan, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai gangguan operasional dan kondisi keselamatan penerbangan.
Dalam audiensi tersebut, Angkasa Pura juga menyampaikan rencana audit keamanan Bandara SIM pada akhir September 2026.
Seluruh instansi terkait diharapkan memperkuat koordinasi agar berbagai standar keamanan yang dipersyaratkan dapat terpenuhi.
Aspek keamanan menjadi bagian penting dalam rencana pembukaan rute baru, terutama apabila Bandara SIM akan meningkatkan frekuensi penerbangan internasional.
Pengelola bandara sendiri sebelumnya menegaskan bahwa keselamatan penumpang, awak pesawat dan seluruh pengguna jasa menjadi prioritas utama dalam setiap kondisi operasional.
Selain konektivitas, pelayanan jemaah umrah juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.
Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Banda Aceh mengingatkan pentingnya pemenuhan ketentuan vaksinasi yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.
Dek Fadh menegaskan agar ketentuan tersebut dipatuhi oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pemberangkatan jemaah.
Ia juga meminta setiap pelanggaran, termasuk pemalsuan dokumen vaksinasi, ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan jemaah yang diberangkatkan dari Aceh memenuhi persyaratan kesehatan dan administrasi yang berlaku di negara tujuan.
Perpanjangan MoU Barang Milik Aceh
Agenda lain yang dibahas adalah rencana perpanjangan Nota Kesepahaman mengenai pemanfaatan Barang Milik Aceh untuk operasional dan pengembangan Bandara SIM.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu bagian yang perlu diselesaikan untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan dan pengembangan fasilitas bandara.
Pemerintah Aceh menyatakan kesiapan memperkuat koordinasi dengan Angkasa Pura dalam penyempurnaan pelayanan sekaligus mendukung pengembangan bandara.
Jika berbagai rencana tersebut terealisasi, Bandara SIM berpeluang memainkan peran yang lebih besar sebagai pintu gerbang transportasi udara Aceh, baik untuk perjalanan domestik, internasional maupun perjalanan ibadah.
Namun, pembukaan rute baru tetap membutuhkan dukungan maskapai, potensi penumpang yang memadai, kesiapan infrastruktur, aspek keamanan serta koordinasi lintas instansi.
Karena itu, pembentukan Route Development Team menjadi salah satu langkah yang diharapkan dapat mempertemukan kepentingan pemerintah daerah, pengelola bandara, maskapai dan sektor pariwisata dalam merancang pengembangan konektivitas udara Aceh.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh T. Robby Irza, Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh A. Murtala, Kepala Kanwil DJBC Aceh M. Rizki Baidillah, Kepala BKHIT NAD Ibrahim, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh Bambang Tri Cahyono, perwakilan Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Banda Aceh, Kepala Dinas Perhubungan Aceh Teuku Faisal, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi.
Dengan dukungan lintas instansi tersebut, Pemerintah Aceh berharap Bandara SIM tidak hanya menjadi pintu keluar-masuk penumpang, tetapi juga menjadi salah satu penggerak konektivitas pariwisata dan ekonomi Aceh ke tingkat nasional maupun internasional.