Tiga Golongan Tak Bertemu Rasulullah di Akhirat, Termasuk yang Menghujat Ulama

Banda Aceh, Infoaceh.net – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Taman Masjid Haji Keuchik Leumiek, Gampong Lamseupeung, Kota Banda Aceh, Jumat malam (25/9/2026), diisi dengan tausiah keagamaan oleh da’i kondang Tgk Ismail dari Labuhan Haji, Aceh Selatan.
Dalam ceramahnya, Tgk Ismail mengajak jamaah menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk mengevaluasi kualitas ibadah sekaligus memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan yang disampaikannya adalah tentang tiga golongan yang disebutnya tidak bertemu Rasulullah SAW di akhirat, yaitu anak yang durhaka kepada orang tua, orang yang mabuk karena khamar dan narkoba, serta orang yang membenci atau menghujat ulama.
Pesan tersebut disampaikan Tgk Ismail dalam konteks nasihat keagamaan agar jamaah menjaga hubungan dengan Allah SWT, Rasulullah SAW, orang tua dan para ulama.
Tiga amal jangan sampai kosong hati
Sebelum menyampaikan tiga golongan tersebut, Tgk Ismail terlebih dahulu mengingatkan jamaah mengenai pentingnya kualitas amal.
Menurutnya, ada ibadah yang secara lahiriah terlihat dilakukan, tetapi dapat menjadi kosong apabila hati tidak ikut hadir.
Ia menyebut tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni shalat, zikir dan shalawat.
Pertama, Tgk Ismail mengingatkan tentang shalat yang kosong, ketika seseorang hanya melakukan gerakan dan membaca bacaan shalat, tetapi hatinya tidak benar-benar menghadap kepada Allah SWT.
“Shalat yang kosong, hati yang tidak shalat, hanya lidah dan lisan saja baca Al-Fatihah saja,” ujar Tgk Ismail.
Ia menekankan bahwa ibadah harus dilakukan karena Allah SWT atau lillahi ta’ala, bukan semata-mata karena merasa ada kenyamanan fasilitas.
“Makanya ibadah karena Allah suka, lillahi ta’ala, bukan kita suka. Shalat bukan karena nyaman dan ada AC di masjid,” katanya.
Menurutnya, seorang muslim perlu menjaga keikhlasan dalam beribadah dan tidak menjadikan kondisi nyaman sebagai ukuran utama dalam menjalankan kewajiban.
Ia juga mengingatkan orang yang rajin melaksanakan shalat agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain. “Yang shalat jangan merasa lebih baik dari yang tidak shalat karena mendatangkan kesombongan,” pesannya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa meninggalkan shalat bukan sesuatu yang boleh dianggap ringan.
“Tapi mereka yang tidak shalat jangan pernah berharap surga,” lanjutnya.
Zikir Tidak Hanya di Lisan
Kedua, Tgk Ismail mengingatkan tentang zikir yang kosong dan hampa.
Ia menjelaskan, zikir bukan sekadar mengucapkan kalimat-kalimat tertentu dengan lisan, tetapi harus disertai dengan kesadaran hati dalam mengingat Allah SWT.
Ia mencontohkan seseorang yang mengucapkan Subhanallah, walhamdulillah, la ilaha illallah, tetapi hatinya tidak benar-benar mengingat Allah.
“Lidah Subhanallah, walhamdulillah, la ilaha illallah, tapi hati kosong dari mengingat Allah,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah agar zikir tidak berhenti pada gerakan lisan, melainkan juga memberikan pengaruh terhadap hati dan perilaku.
Ketiga adalah shalawat yang kosong.
Tgk Ismail mengingatkan bahwa membaca shalawat hendaknya disertai kecintaan kepada Rasulullah SAW dan upaya mengikuti ajaran serta akhlak Nabi.
Menurutnya, umat Islam memiliki jalan untuk mengharapkan syafaat Rasulullah SAW di hari akhirat kelak. “Ada jalan lain, bisa ketemu Rasulullah dibantu syafaat,” ujarnya.
Namun, ia kemudian mengingatkan jamaah mengenai tiga kelompok yang menurutnya perlu diwaspadai agar tidak terhalang dari perjumpaan dengan Rasulullah SAW di akhirat.
Pertama, anak yang durhaka kepada orang tua. Golongan pertama yang disebut Tgk Ismail adalah anak yang durhaka kepada orang tua. Ia mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbakti kepada ayah dan ibu selama keduanya masih hidup.
Menurutnya, keberadaan orang tua merupakan kesempatan bagi seorang anak untuk mendapatkan pahala melalui bakti, pelayanan dan penghormatan. “Tanda Allah sayang pada seorang anak dipanjangkan umur orang tuanya,” katanya.
Karena itu, Tgk Ismail mengajak jamaah untuk memperlakukan orang tua dengan baik dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti hati mereka.
Ia mengingatkan kesempatan berbakti kepada orang tua tidak selalu datang dua kali. Ketika orang tua telah meninggal dunia, kesempatan untuk melayani mereka secara langsung sudah tidak ada.
Kedua, orang yang mabuk khamar dan narkoba. Golongan kedua yang disebut dalam ceramah adalah orang yang mabuk karena khamar dan narkoba.
Tgk Ismail mengingatkan jamaah untuk menjauhi segala sesuatu yang dapat merusak akal dan kehidupan manusia.
Menurutnya, penyalahgunaan khamar dan narkoba bukan hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga dapat membawa persoalan bagi keluarga dan lingkungan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi peringatan kepada generasi muda agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika maupun berbagai bentuk perilaku yang dapat merusak masa depan.
Ia mengajak masyarakat memperkuat pegangan agama dan menjaga lingkungan pergaulan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh perilaku negatif.
Ketiga, membenci dan menghujat ulama
Golongan ketiga yang mendapat perhatian Tgk Ismail adalah orang yang membenci ulama atau orang alim.
Ia mengingatkan jamaah untuk menjaga adab terhadap para ulama, termasuk ketika terjadi perbedaan pendapat.
Menurutnya, ulama memiliki peran penting dalam menyampaikan ilmu agama kepada masyarakat, termasuk ilmu tauhid, fikih dan tasawuf. “Ulama pewaris nabi,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak mudah mencela, merendahkan atau menghujat ulama.
Jangan Hujat Ulama di Media Sosial
Tgk Ismail secara khusus menyoroti perilaku masyarakat di media sosial. Menurutnya, perkembangan media sosial memberikan ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Namun, ruang tersebut harus digunakan secara bertanggung jawab dan tetap memperhatikan adab. “Jangan menghujat ulama di medsos,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi kebencian dan penghinaan terhadap ulama.
Bagi Tgk Ismail, menjaga adab kepada orang berilmu merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim.
Ia kemudian mengingatkan jamaah agar tidak sampai melakukan perbuatan yang dapat menjadi penghalang untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat.
“Jangan sampai nanti tak jumpa Nabi di hari akhirat,” pesannya.
Peringatan Maulid turut dihadiri Ketua BKM Masjid Haji Keuchik Leumiek (HKL), HM. Kamaruzzaman HKL SE, Imum Chik Masjid Tgk Ridwan Ibrahim dan tokoh masyarakat dan alim ulama.
Acara juga dimeriahkan Grup Hadrah Baitul Quran pimpinan Tgk Taqdir Feriza serta Qari Nasional Tgk Muksalmina AW.
Melalui tausiah tersebut, Tgk Ismail mengajak jamaah tidak menjadikan peringatan Maulid hanya sebagai kegiatan seremonial.
Menurut pesan yang disampaikannya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus tercermin dalam kualitas ibadah dan perilaku sehari-hari.
Shalat harus dilakukan dengan ikhlas dan menghadirkan hati. Zikir tidak hanya dilakukan oleh lisan, tetapi juga menghidupkan hati. Begitu pula shalawat harus disertai kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Di sisi lain, seorang muslim juga dituntut menjaga hubungan dengan orang tua, menjauhi khamar dan narkoba serta menjaga adab kepada ulama.
Pesan Tgk Ismail tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan beragama tidak hanya berkaitan dengan banyaknya ibadah yang terlihat secara lahiriah, tetapi juga bagaimana ibadah tersebut membentuk hati, akhlak dan perilaku seseorang.
Melalui momentum Maulid Nabi, jamaah diajak memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperbaiki hubungan dengan Allah, orang tua, ulama dan sesama manusia.