Diklat Laskar Gerindra Aceh: Menyatukan Kekuatan dan Pengabdian

Diklat Laskar Gerindra Aceh harus dipandang sebagai titik awal untuk memperkuat pengabdian, bukan sekadar agenda seremonial organisasi.

Oleh: Drs M. Isa Alima*

Diklat Laskar Gerindra Aceh yang berlangsung di Jantho, Aceh Besar 25-27 November 2025, bukan sekadar kegiatan organisasi yang mempertemukan kader dari berbagai daerah.

Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan momentum penting untuk membangun kembali semangat kebersamaan, kedisiplinan, loyalitas, solidaritas, serta kesiapan kader dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi.

Kehadiran 510 kader yang mewakili 23 kabupaten/kota se-Aceh memperlihatkan besarnya energi dan potensi yang dimiliki Gerindra di Tanah Rencong. Kekuatan tersebut tentu tidak boleh hanya berhenti pada jumlah peserta, barisan yang rapi, atau seragam yang dikenakan.

Kekuatan organisasi baru memiliki arti apabila mampu diterjemahkan menjadi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Karena itu, Diklat Laskar Gerindra Aceh harus dipandang sebagai titik awal untuk memperkuat pengabdian, bukan sekadar agenda seremonial organisasi.

Bagi saya, menjadi bagian dari Laskar Gerindra bukan hanya persoalan berdiri tegap dalam barisan, mengenakan seragam, atau mengikuti kegiatan organisasi dengan penuh disiplin.

Laskar sejati harus memiliki karakter yang kuat, disiplin yang teguh, loyalitas kepada organisasi, santun dalam bersikap, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Kader harus memahami bahwa masyarakat adalah bagian penting dari perjalanan sebuah organisasi politik.

Laskar harus mampu menjadi mata dan telinga organisasi. Mendengar keluhan masyarakat, memahami kebutuhan rakyat, mengetahui persoalan yang terjadi di tingkat bawah, kemudian menyampaikannya melalui saluran organisasi agar dapat diperjuangkan sesuai mekanisme yang ada.

Jangan sampai kader hanya mengetahui persoalan masyarakat ketika persoalan itu sudah menjadi berita besar.

Justru kader yang berada di tengah masyarakat seharusnya menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika ada persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, maupun berbagai kebutuhan dasar masyarakat. Di situlah arti penting keberadaan kader di tengah rakyat.

Kehadiran 510 kader dari seluruh kabupaten/kota di Aceh merupakan energi yang sangat besar. Namun, energi itu harus diarahkan dengan baik.

Organisasi yang besar tidak cukup hanya memiliki banyak anggota. Organisasi yang kuat membutuhkan kader yang memiliki kemampuan, kedisiplinan, integritas, loyalitas, dan kepedulian.

Karena itu, hasil dari Diklat Laskar Gerindra harus terlihat setelah para peserta kembali ke daerah masing-masing.

Semangat yang dibangun di Jantho harus dibawa ke Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam, Simeulue, Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, dan daerah lainnya.

Jangan sampai semangat itu hanya hidup selama diklat berlangsung.

Justru ukuran keberhasilan sebuah diklat adalah bagaimana pengetahuan, disiplin, solidaritas, dan semangat yang diperoleh dapat diwujudkan dalam aktivitas nyata setelah kembali ke tengah masyarakat.

Hadir Saat Rakyat Membutuhkan

Gerindra lahir dengan semangat memperjuangkan kepentingan rakyat. Karena itu, kader tidak boleh hanya hadir ketika ada kegiatan politik.

Kader harus hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, kader harus hadir. Ketika ada suara masyarakat yang perlu disampaikan, kader harus mendengarkan.

Ketika kepentingan masyarakat terancam, kader harus membantu mencari jalan penyelesaian sesuai kewenangan dan aturan yang berlaku.

Ketika terjadi musibah, kader harus menunjukkan kepedulian. Begitu pula ketika masyarakat menghadapi persoalan pendidikan, ekonomi, kesehatan, pekerjaan, maupun persoalan sosial lainnya, kader harus mampu menjadi bagian dari solusi.

Pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang, mendengarkan keluhan masyarakat dengan sungguh-sungguh, membantu menghubungkan masyarakat dengan pihak yang berwenang, atau menyampaikan aspirasi mereka secara benar sudah menjadi bagian dari pengabdian.

Yang terpenting adalah kehadiran tersebut bukan hanya ketika membutuhkan dukungan masyarakat.

Diklat di Jantho juga harus menjadi momentum mempererat persaudaraan antarkader.

Kader datang dari berbagai kabupaten/kota dengan latar belakang, pengalaman, usia, pendidikan, dan karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut jangan dijadikan sumber perpecahan.

Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan. 0Kita tidak harus memiliki latar belakang yang sama. Kita tidak harus memiliki pengalaman yang sama. Bahkan kita tidak harus selalu berpikir dengan cara yang sama.

Namun, kita harus mampu membangun kebersamaan untuk tujuan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Organisasi akan menjadi kuat apabila kadernya mampu saling menghargai, saling mendukung, dan saling mengingatkan.

Jangan sampai kepentingan pribadi atau kelompok kecil mengalahkan kepentingan organisasi dan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Diklat pada dasarnya adalah proses pembentukan karakter dan kesiapan kader.

Disiplin tidak boleh hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap jadwal atau aturan selama mengikuti kegiatan. Disiplin harus menjadi karakter yang terbawa setelah peserta meninggalkan lokasi diklat.

Begitu pula loyalitas. Loyalitas bukan berarti membenarkan semua hal tanpa kritik. Loyalitas yang sehat justru dibangun melalui tanggung jawab, ketulusan, kedewasaan, serta kesediaan memberikan masukan untuk perbaikan organisasi.

Kader yang loyal adalah kader yang mampu menjaga nama baik organisasi sekaligus tetap memiliki kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.

Jangan Berhenti pada Seremonial

Setiap kegiatan organisasi tentu memiliki nilai penting. Namun, masyarakat pada akhirnya tidak akan menilai organisasi hanya dari seberapa sering kegiatan dilaksanakan. Masyarakat akan melihat apa yang dilakukan setelah kegiatan selesai.

Apakah kader semakin dekat dengan masyarakat? Apakah aspirasi masyarakat semakin didengar?

Apakah kader semakin cepat merespons persoalan di lingkungan sekitar? Apakah kehadiran organisasi benar-benar memberikan manfaat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama.

Diklat jangan berhenti menjadi dokumentasi, laporan kegiatan, atau seremoni. Diklat harus menjadi proses pembentukan kader yang mampu bekerja secara nyata di tengah masyarakat.

Dari Jantho untuk Aceh

Saya berharap seluruh peserta membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan dan pengalaman mengikuti diklat. Bawalah semangat baru. Bawalah disiplin baru. Bawalah rasa tanggung jawab yang lebih besar.

Dan yang paling penting, bawalah tekad untuk semakin dekat dengan rakyat.

Dari Jantho, semangat ditempa. Dari 23 kabupaten/kota, kekuatan disatukan. Dari berbagai latar belakang, persaudaraan dibangun.

Setelah kembali ke daerah masing-masing, semua itu harus diwujudkan dalam tindakan.

Sebab perjuangan politik tidak semata-mata tentang memenangkan sebuah pertarungan. Lebih jauh dari itu, perjuangan adalah tentang membangun kepercayaan masyarakat melalui kerja nyata, sikap yang santun, konsistensi dalam pengabdian, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.

Kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya dengan kata-kata. Kepercayaan tumbuh dari kehadiran. Kepercayaan tumbuh dari kepedulian. Kepercayaan tumbuh dari kerja yang dapat dilihat dan dirasakan.

Karena itu, setelah Diklat Laskar Gerindra Aceh berakhir, sesungguhnya perjalanan baru saja dimulai.

Laskar Gerindra harus terus bergerak. Semakin kokoh dalam organisasi, semakin dewasa dalam bersikap, semakin disiplin dalam menjalankan tugas, dan semakin dekat dengan masyarakat.

Jangan hanya menjadi barisan yang terlihat ketika ada kegiatan. Jadilah barisan yang dirasakan manfaatnya ketika rakyat membutuhkan.

Diklat boleh berakhir. Perjuangan tidak boleh berhenti.

Jantho menempa semangat. Aceh menjadi ladang pengabdian. Dan rakyat adalah alasan kita terus berjuang.

Bila ingin dibuat lebih tajam sebagai opini politik, bagian tentang tantangan kader, kritik terhadap politik seremonial, dan tuntutan agar Laskar benar-benar hadir di tengah persoalan rakyat Aceh bisa diperkuat lagi.

Penulis adalah mantan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Pidie Periode 2008–2018