Habib Ahmad Muhdar Alatas Ajak Jamaah Arafah Rawat Istiqamah Subuh Berjamaah

Banda Aceh, Infoaceh.net — Pimpinan Majelis Taklim Al-Bahjah Jakarta, Habib Ahmad Muhdar Alatas, mengajak seluruh jamaah untuk terus merawat istiqamah dalam meramaikan masjid melalui salat Subuh berjamaah.

Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi tausiyah dalam Safari Subuh Jama’ah Arafah di Masjid Besar Syuhada, Gampong Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Ahad pagi (27/9/2026).

​Ratusan jamaah dari berbagai wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar tampak antusias memadati shaf masjid sejak sebelum fajar.

Rangkaian kegiatan keagamaan yang bertepatan dengan 15 Rabiul Akhir 1448 Hijriah ini, setelah shalat subuh berjamaah diawali dengan zikir dan pembacaan shalawat yang dipimpin oleh Ustaz Zul Arafah, Pimpinan Majelis Zikir dan Jamaah Subuh Arafah.

​Dalam ceramahnya yang berlangsung penuh kekhusyukan, Habib Ahmad Muhdar Alatas membedah mendalam keutamaan waktu Subuh dan rahasia hubungan hamba dengan Sang Pencipta.

Mengawali tausiyah, Habib mengutip doa Rasulullah SAW yang memohonkan keberkahan bagi umatnya yang beraktivitas dan beribadah di pagi hari. Menurutnya, beruntunglah mereka yang melangkahkan kaki menuju masjid di saat manusia lainnya masih tertidur lelap.

​Lebih lanjut, Habib Ahmad mengupas tuntas ganjaran luar biasa bagi hamba yang mendirikan salat Subuh secara berjamaah. Menjelaskan hadits Nabi SAW, beliau menegaskan bahwa orang yang melengkapi salat Isya berjamaah lalu dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah, akan dicatat oleh Allah SWT seolah-olah ia mendirikan salat dan beribadah penuh sepanjang malam, dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar.

​”Taufik dari Allah itu adalah kekuatan di dalam diri yang menggerakkan langkah kita, baik yang berjalan kaki maupun berkendara menuju rumah Allah. Salat Subuh berjamaah ini adalah pintu pintu keberkahan dan sebab turunnya rahmat Allah SWT,” papar Habib Ahmad.

​Tak hanya itu, penceramah asal Jakarta tersebut juga mengulas pentingnya zikir dan merujuk pada wasiat mulia Rasulullah SAW kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari RA.

Beliau mengingatkan jamaah agar tidak pernah melepaskan doa yang diajarkan Nabi seusai salat, yakni memohon tiga perkara utama kepada Allah: pertolongan untuk senantiasa berzikir (zikrika), kemampuan untuk terus bersyukur (syukrika), dan bimbingan untuk memperbaiki kualitas ibadah (husni ‘ibadatik).

​Habib Ahmad menekankan betapa besarnya kemuliaan orang-orang yang lisannya basah oleh zikir. “Jika nama kita disebut oleh seorang presiden atau tokoh besar, kita pasti merasa bangga. Lalu bagaimana jika yang mengingat dan menyebut nama kita adalah Allah SWT, Rabb Pencipta alam semesta? Sungguh itu adalah kemuliaan tertinggi bagi seorang hamba,” tegasnya.

​Beliau juga mengisahkan keteladanan dari ulama sufi Sayyidina Ibrahim bin Adham saat bertemu seorang lelaki di pasar yang mengalami ujian fisik berat—buta, lumpuh dan menderita penyakit kulit—namun lisannya tak henti-hentinya mengumandangkan alhamdulillah.

Ketika ditanya sebab syukurnya, lelaki tersebut menjawab bahwa Allah masih menyisakan dua nikmat teragung: lisan yang senantiasa berzikir dan hati yang selalu ingat kepada-Nya. Pesan moral ini menjadi teguran keras bagi setiap hamba yang diberikan fisik sempurna namun sering lalai dalam bersyukur.

​Mengakhiri ceramahnya, Habib Ahmad mengingatkan agar ibadah tidak dijadikan sekadar pemenuh hajat duniawi atau digantungkan pada pencapaian sukses semata, melainkan dijadikan kebutuhan hidup utama yang terus dirawat hingga akhir hayat (khusnul khatimah).

Beliau juga menggarisbawahi bahwa kehadiran jamaah di masjid tidak hanya memperkuat hubungan vertical dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga merekatkan tali kasih sayang dan persaudaraan antarsesama hamba (hablum minannas).

​Usai tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan aksi kepedulian sosial. Panitia penyelenggara menggandeng Rumah Sakit Putri Bidadari Aceh untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para jamaah.

Tak lupa, perhatian khusus diberikan kepada generasi penerus melalui pembagian jajan dan bingkisan bagi anak-anak usia TK, MIN, hingga SD yang hadir sebagai bentuk apresiasi bagi para Pejuang Subuh cilik.

​Rangkaian kegiatan Safari Subuh ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh penceramah untuk keselamatan daerah, kesembuhan bagi yang sakit, serta pelantunan shalawat yang digemakan secara khusyuk oleh seluruh jamaah.