HIV di Banda Aceh Capai 942 Kasus, Meningkat 94 Kali Lipat

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Banda Aceh menunjukkan peningkatan signifikan dalam kurun waktu 18 tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sejak 2008 hingga Agustus 2026 mencapai 942 kasus, meningkat hingga 94 kali lipat dibandingkan 2008 yang hanya mencatat 10 kasus.
Dari total tersebut, sebanyak 771 merupakan kasus HIV dan 171 kasus AIDS. Peningkatan kasus yang terus terjadi ini menjadi perhatian serius, terutama karena kelompok usia produktif, yakni 15–39 tahun, menjadi kelompok yang paling banyak terdampak.
Kondisi tersebut mendorong Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, mengajak kader remaja Posyandu mengambil peran lebih aktif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS melalui edukasi sebaya, penyebaran informasi yang benar, serta penghapusan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Menurut Farid, remaja tidak boleh hanya menjadi sasaran edukasi kesehatan, tetapi juga harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi untuk menghadapi persoalan HIV/AIDS di Banda Aceh.
“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujar Farid.
Pernyataan tersebut disampaikan Farid saat membuka kegiatan penyuluhan, sosialisasi, dan edukasi kesehatan bagi remaja bertema Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026, tersebut diikuti 50 remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo.
Farid yang membidangi kesejahteraan rakyat, kesehatan, dan keistimewaan di DPRK Banda Aceh menyambut baik kegiatan tersebut.
Ia menilai edukasi kesehatan yang menyasar kalangan remaja menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kesadaran sejak dini mengenai risiko penularan HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, serta pentingnya menjaga pola hidup sehat.
Farid mengungkapkan, data kasus HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan sekitar 25 persen kasus terjadi pada kelompok remaja berusia 15–24 tahun.
Sementara di Banda Aceh, kasus HIV/AIDS juga menjadi perhatian karena banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Ia memaparkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, pada 2008 tercatat 10 kasus HIV/AIDS, terdiri dari sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 36 kasus pada 2018, dengan rincian 31 kasus HIV dan lima kasus AIDS.
Peningkatan semakin terlihat pada 2024, ketika tercatat 147 kasus, terdiri dari 104 kasus HIV dan 43 kasus AIDS. Angka tersebut menjadi salah satu catatan kasus tahunan tertinggi di Banda Aceh sejak 2008.
Sementara itu, hingga Agustus 2026, tercatat 68 kasus baru atau kasus yang dilaporkan pada periode tersebut, terdiri dari 49 kasus HIV dan 19 kasus AIDS.
Secara kumulatif, sejak 2008 hingga Agustus 2026, jumlah kasus HIV/AIDS di Banda Aceh telah mencapai 942 kasus.
“Setiap tahun angkanya terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus. Artinya, terjadi peningkatan hingga 94 kali lipat,” kata Farid.
Ia menilai, angka tersebut harus menjadi perhatian seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, keluarga, hingga masyarakat di tingkat gampong.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, agar informasi mengenai HIV/AIDS dapat menjangkau lingkungan pergaulan mereka.
Farid menjelaskan, HIV/AIDS bukan persoalan yang jauh dari kehidupan remaja. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, perilaku seksual berisiko, serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA), khususnya melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian, merupakan sejumlah faktor yang perlu mendapatkan perhatian.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan terhadap remaja dalam menghadapi berbagai informasi di media sosial, termasuk konten pornografi yang dapat memengaruhi pemahaman dan perilaku mereka.
“Penularan bukan hanya karena hal-hal yang jauh dari kita, tetapi juga dari hal-hal yang dekat dengan remaja saat ini, seperti pergaulan bebas, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, penyalahgunaan NAPZA suntik, dan paparan konten pornografi di media sosial,” ujarnya.
Karena itu, Farid menekankan pentingnya memberikan edukasi secara terbuka, tepat, dan sesuai dengan usia remaja. Pendidikan kesehatan, menurutnya, harus mampu memberikan pemahaman mengenai perilaku berisiko, cara penularan HIV, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
Ia juga menyebutkan bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter dan ketahanan diri generasi muda di Banda Aceh yang menerapkan Syariat Islam.
“Islam sudah mengajarkan pencegahan terbaik, yaitu menjaga kehormatan diri, menjaga pergaulan, dan menguatkan iman,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa edukasi kesehatan juga harus disertai pengetahuan medis yang benar sehingga remaja mampu membedakan informasi yang tepat dari mitos dan kesalahpahaman mengenai HIV/AIDS.
Dalam kegiatan tersebut, Farid menggarisbawahi tiga pesan utama yang menjadi inti edukasi HIV/AIDS, yakni mengenali risiko, mencegah penularan, dan menghilangkan stigma terhadap ODHA.
Pertama, remaja harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengenali berbagai perilaku yang berisiko dan memahami cara penularan HIV. Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam mengambil keputusan yang dapat melindungi kesehatan diri sendiri maupun orang lain.
Kedua, pencegahan harus dilakukan melalui edukasi, penguatan karakter, penerapan pola hidup sehat, serta akses terhadap layanan kesehatan yang tepat. Menurut Farid, edukasi tidak seharusnya disampaikan dengan cara menakut-nakuti, melainkan melalui pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami remaja.
Ketiga, masyarakat harus menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.
Farid mengingatkan bahwa ODHA membutuhkan dukungan, pendampingan, serta akses terhadap pengobatan, bukan pengucilan dari lingkungan sosial.
“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat dapat membangun lingkungan yang lebih terbuka dan ramah bagi ODHA sehingga mereka tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan, mendapatkan pengobatan, serta menjalani kehidupan sosial secara wajar.
Menurutnya, stigma yang masih berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi penghalang bagi upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS. Karena itu, penyebaran informasi yang benar harus berjalan beriringan dengan upaya membangun empati dan kepedulian sosial.
Farid secara khusus meminta para kader remaja Posyandu yang mengikuti kegiatan tersebut agar tidak berhenti pada pemahaman yang diperoleh selama pelatihan. Mereka diharapkan dapat meneruskan informasi kepada teman sebaya dan masyarakat di lingkungan gampong masing-masing.
Ia menilai kader remaja memiliki posisi strategis karena lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda. Melalui pendekatan sebaya, pesan-pesan kesehatan diharapkan dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih mudah diterima dan tidak menimbulkan rasa takut maupun malu.
“Kehadiran adik-adik hari ini menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri, teman sebaya, dan masyarakat di gampong masing-masing. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di Banda Aceh,” katanya.
Farid bahkan memberikan tantangan kepada para peserta agar setelah kembali ke lingkungan masing-masing, mereka dapat menyampaikan informasi mengenai HIV/AIDS kepada sedikitnya 10 orang teman sebaya.
“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” pesannya.
Selain berperan sebagai edukator sebaya, para kader juga diharapkan menjadi teladan dalam menerapkan perilaku hidup sehat, seperti menjauhi rokok, vape, NAPZA, serta perilaku berisiko lainnya.
Farid juga mendorong para kader membantu pemerintah gampong dan Posyandu dalam kegiatan pendataan, penyebaran informasi kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat dengan tetap memperhatikan kerahasiaan dan perlindungan data pribadi.
Ia menegaskan, DPRK Banda Aceh, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung program-program yang berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan dan perlindungan generasi muda.
“Kami di DPRK, khususnya Komisi IV, akan terus mendukung program seperti ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Banda Aceh hebat, remaja sehat, dan keluarga kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut menyampaikan pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan jasmani dan rohani, terutama bagi kalangan remaja.
Menurut Febri, kesehatan seseorang tidak hanya dilihat dari kondisi fisik atau penampilan luar, tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan jiwa, kestabilan emosi, dan kualitas kehidupan spiritual.
Ia menjelaskan, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan diri, menerapkan pola hidup sehat, memperhatikan asupan makanan, serta membiasakan perilaku yang mendukung kesehatan.
“Apalagi peserta hari ini dari kalangan remaja. Mereka harus memperhatikan tingkat stres, pola makan, dan olahraga,” ujar Febri.
Ia juga mengingatkan bahwa aktivitas fisik yang teratur, menjaga kebersihan, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperkuat ibadah merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Menurutnya, pembinaan kesehatan bagi remaja perlu dilakukan secara berkesinambungan agar mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkaitan dengan kesehatan fisik, mental, sosial, maupun spiritual.
Kegiatan edukasi tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari bidang kesehatan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada para peserta.
drg. Supriayadi R, M.Kes dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menyampaikan materi bertajuk Perilaku Berisiko Remaja dan Seks Bebas, Narkoba dan HIV/AIDS.
Materi tersebut membahas berbagai perilaku yang dapat meningkatkan risiko kesehatan pada remaja, termasuk penyalahgunaan narkoba dan risiko penularan HIV/AIDS. Pemahaman mengenai faktor risiko diharapkan dapat membantu peserta mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menjaga kesehatan diri.
Sementara itu, dr. Cut Nonda Maracilu, Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, memberikan materi bertema Hidup Sehat Bebas HIV/AIDS dengan penekanan pada pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan memahami langkah-langkah pencegahan HIV/AIDS.