Tak Perlu Jauh-jauh Cari Kebahagiaan, Lima Perkara Ini Kuncinya

Aceh Besar, Infoaceh.net — Kebahagiaan sering kali dicari jauh-jauh, padahal sumbernya bisa berada sangat dekat, di rumah, di tengah keluarga, di lingkungan tetangga, bahkan dari rezeki yang diperoleh di negeri sendiri.

Kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan atau luasnya perjalanan hidup, tetapi juga dari ketenteraman hati dan hubungan baik dengan sesama.

Pesan tersebut disampaikan aktivis dakwah Tgk H Musliadi Punie dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Kiram, Peukan Biluy, Kecamatan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar, Jum’at (2/10/2026), bertepatan 20 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.

Dalam khutbahnya, Tgk Musliadi mengangkat lima perkara yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai bagian dari kebahagiaan seseorang.

Kelima perkara tersebut adalah pasangan hidup yang sejalan, anak-anak yang berbakti, saudara atau sahabat yang baik, tetangga yang saleh, serta rezeki yang diperoleh di negeri sendiri.

Ungkapan tersebut antara lain dicatat dalam Tanbih al-Mughtarrin, karya yang dinisbatkan kepada Abdul Wahhab al-Sya’rani. Nasihat itu menggambarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan sosial, dan sumber penghidupan.

Menurut Tgk Musliadi, kelima perkara tersebut tidak boleh dipahami sebagai ukuran mutlak untuk menentukan bahagia atau tidaknya seseorang.

Sebaliknya, nasihat itu merupakan pengingat tentang berbagai nikmat kehidupan yang kerap luput disyukuri karena manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimilikinya.

Pertama, memiliki pasangan hidup yang sejalan

Pasangan yang sejalan bukan berarti suami dan istri harus selalu memiliki pendapat yang sama. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. Namun, yang paling penting adalah adanya kesamaan arah dalam menjalani kehidupan, saling memahami, menjaga kehormatan, serta bersama-sama membangun keluarga yang diridhai Allah SWT.

Hal tersebut sejalan dengan Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan pasangan bagi manusia agar memperoleh ketenteraman, serta menumbuhkan rasa mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) di antara keduanya.

Rumah tangga yang bahagia, karena itu, tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya rumah, kemewahan kendaraan, atau banyaknya harta yang dimiliki. Ada kebahagiaan yang jauh lebih mendasar, yakni ketika seseorang pulang ke rumah dan menemukan tempat untuk merasa aman, dihargai, diterima, serta mendapatkan dukungan dari pasangan hidupnya.

Pasangan yang baik juga bukan hanya hadir ketika kehidupan sedang menyenangkan, tetapi tetap saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan, persoalan ekonomi, maupun berbagai ujian kehidupan.

Kedua, memiliki anak-anak yang berbakti

Anak merupakan amanah sekaligus anugerah yang diberikan Allah SWT kepada orang tua. Anak bukan sekadar penerus nama keluarga, melainkan generasi yang perlu dibimbing agar tumbuh menjadi manusia beriman, berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Tgk. Musliadi mengingatkan bahwa banyaknya anak tidak secara otomatis menjadi ukuran kebahagiaan sebuah keluarga.

Kebahagiaan orang tua justru tumbuh ketika anak-anaknya memiliki akhlak yang baik, menghormati orang tua, menjalankan ajaran agama, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Oleh sebab itu, tanggung jawab orang tua tidak cukup hanya mewariskan rumah, tanah, kendaraan, atau harta benda. Warisan yang tidak kalah penting adalah iman, ilmu, adab, keteladanan, dan nilai-nilai kehidupan.

Pendidikan tersebut harus dimulai dari lingkungan keluarga. Anak-anak tidak hanya belajar melalui nasihat dan perintah, tetapi juga melalui perilaku yang mereka saksikan setiap hari.

Orang tua yang menginginkan anaknya rajin salat, jujur, disiplin, dan gemar melakukan kebaikan harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, keberhasilan mendidik anak bukan hanya terlihat dari prestasi akademik atau keberhasilan mereka memperoleh pekerjaan, tetapi juga dari karakter, tanggung jawab, dan kesalehan yang tumbuh dalam diri mereka.

Ketiga, memiliki saudara dan sahabat yang baik

Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan interaksi dengan orang lain.

Dalam menjalani kehidupan, seseorang tidak mungkin selalu mampu menghadapi seluruh persoalan seorang diri. Karena itu, keberadaan saudara dan sahabat yang baik menjadi salah satu sumber kekuatan dan ketenteraman.

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, seseorang mungkin memiliki ratusan bahkan ribuan teman di dunia maya. Namun, banyaknya hubungan virtual tidak selalu menjamin seseorang memiliki teman yang benar-benar hadir ketika dibutuhkan.

Sahabat yang baik bukan sekadar orang yang selalu menemani ketika tertawa dan menikmati kesenangan.

Lebih dari itu, sahabat sejati adalah mereka yang berani mengingatkan ketika seseorang mulai melakukan kesalahan, memberikan nasihat ketika menghadapi kesulitan, serta mendorong untuk tetap berada di jalan kebaikan.

Kualitas persahabatan, menurut pesan tersebut, bukan hanya diukur dari seberapa sering seseorang bertemu atau berkomunikasi, tetapi juga dari sejauh mana hubungan itu membawa manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Karena itu, penting bagi setiap orang untuk menjaga hubungan persaudaraan, memilih lingkungan pergaulan yang baik, serta menjadi sahabat yang mampu menghadirkan ketenangan dan memberikan pengaruh positif bagi orang lain.

Keempat, memiliki tetangga yang saleh dan lingkungan yang baik

Lingkungan tempat tinggal juga memiliki pengaruh besar terhadap kebahagiaan seseorang. Rumah yang megah dan fasilitas yang lengkap belum tentu menghadirkan ketenteraman apabila hubungan dengan tetangga dipenuhi perselisihan, kecurigaan, dan konflik berkepanjangan.

Sebaliknya, rumah sederhana dapat menjadi tempat yang membahagiakan ketika berada di lingkungan masyarakat yang saling menghormati, peduli, membantu, dan menjaga satu sama lain.

Tetangga merupakan orang-orang terdekat yang sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika seseorang mengalami kesulitan. Ketika terjadi musibah, sakit, atau persoalan mendesak, kepedulian tetangga dapat menjadi pertolongan yang sangat berarti.

Namun, pesan tentang pentingnya memiliki tetangga yang baik juga harus disertai kesadaran untuk memperbaiki diri sendiri. Setiap orang tidak cukup hanya berharap mendapatkan tetangga yang saleh, ramah, dan peduli, tetapi juga harus berusaha menjadi tetangga yang baik bagi orang lain.

Saling menghormati, menjaga ucapan, tidak mengganggu ketenteraman, serta membantu ketika dibutuhkan merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan yang harmonis.

Dengan demikian, kebahagiaan tidak hanya menjadi urusan pribadi dan keluarga, tetapi juga tumbuh dari kehidupan sosial yang dilandasi kepedulian dan persaudaraan.

Kelima, memperoleh rezeki di negeri sendiri

Perkara kelima berkaitan dengan rezeki yang diperoleh di negeri sendiri. Menurut Tgk. Musliadi, ungkapan tersebut tidak berarti Islam melarang seseorang pergi merantau atau mencari penghidupan di tempat lain.

Sejak dahulu, manusia telah melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, berdagang, bekerja, dan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Merantau juga dapat menjadi jalan untuk memperluas pengalaman, meningkatkan kemampuan, serta membantu keluarga dan masyarakat.

Namun, rezeki di negeri sendiri menggambarkan kenyamanan ketika seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus kehilangan kedekatan dengan keluarga, lingkungan sosial, dan kampung halaman.

Seseorang yang memperoleh penghidupan di daerah asalnya memiliki kesempatan lebih besar untuk hadir dalam kehidupan keluarga, terlibat dalam kegiatan masyarakat, serta menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.

Meski demikian, bagi mereka yang harus merantau, hubungan dengan keluarga dan kampung halaman tetap dapat dipelihara melalui komunikasi, perhatian, kepulangan secara berkala, serta tanggung jawab terhadap orang-orang yang ditinggalkan.

Hal yang paling penting bukanlah di mana seseorang memperoleh rezeki, melainkan bagaimana rezeki tersebut didapatkan melalui cara yang halal, digunakan untuk kebaikan, dan membawa keberkahan bagi kehidupan.

Tgk. Musliadi mengingatkan bahwa pencarian rezeki hendaknya tidak membuat seseorang melupakan keluarga, meninggalkan nilai-nilai agama, mengabaikan ibadah, atau memutuskan hubungan baik dengan lingkungan asalnya.

“Jangan sampai mencari rezeki membuat seseorang kehilangan keluarga, nilai, identitas, ibadah, dan hubungan baik dengan kampung halaman,” ungkapnya.

Menurutnya, kelima perkara tersebut memberikan pelajaran bahwa kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan sesuatu yang besar dan sulit dicapai. Kebahagiaan juga dapat hadir melalui hal-hal sederhana yang selama ini sudah berada di sekitar kehidupan manusia.

Pasangan yang saling menguatkan, anak-anak yang berbakti, sahabat yang mengajak kepada kebaikan, tetangga yang saling peduli, serta rezeki yang halal dan berkah merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi manusia yang sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, hingga kurang menghargai nikmat yang sudah berada dalam genggaman.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang dikumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau seberapa jauh seseorang pergi merantau. Kebahagiaan juga terletak pada kemampuan menjaga hubungan dengan Allah SWT, membangun keluarga yang harmonis, menjalin persaudaraan, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.

Tgk. Musliadi mengajak umat Islam untuk tidak selalu mencari kebahagiaan jauh di luar diri, sementara berbagai nikmat yang dekat justru sering terlupakan.

Bisa jadi, kebahagiaan yang selama ini dicari sebenarnya sedang menunggu di rumah, hadir melalui senyum keluarga, tumbuh dalam persahabatan, menyapa dari rumah tetangga, atau mengalir melalui rezeki yang diperoleh dengan penuh kejujuran dan keberkahan.