PORA XV Batal Digelar 2026, Diundur ke Awal Mei 2027

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Pelaksanaan Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV yang sedianya digelar di Kabupaten Aceh Jaya pada November 2026 resmi ditunda dan dijadwalkan berlangsung pada awal Mei 2027.

Keputusan tersebut disepakati Pemerintah Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dalam rapat persiapan PORA XV/2026 yang berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Aceh, Banda Aceh, Rabu (7/10/2026).

Rapat dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taufik, didampingi Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh, Dr A Murtala MSi.

Pertemuan turut dihadiri Bupati Aceh Jaya Safwandi, jajaran Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Jaya, Bappeda Aceh, BPKA, Dispora Aceh, Biro Hukum Setda Aceh, KONI Aceh, KONI Aceh Jaya, serta Pengurus Besar (PB) PORA XV.

Pergeseran jadwal dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi Aceh yang masih berada dalam proses pemulihan akibat bencana hidrometeorologi. Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Jaya menilai pelaksanaan PORA perlu disesuaikan agar proses pemulihan dan persiapan penyelenggaraan dapat berjalan secara optimal.

Bupati Aceh Jaya Safwandi mengatakan, PORA XV yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada November 2026 akan digeser ke awal Mei 2027.

“Pergeseran jadwal dilakukan karena mempertimbangkan kondisi Aceh yang masih dalam proses pemulihan akibat bencana hidrometeorologi,” kata Safwandi, Rabu (7/10/2026).

Nama PORA Tetap 2026

Meskipun pelaksanaan bergeser ke tahun 2027, nomenklatur kegiatan tetap menggunakan PORA XV/2026.

Hal tersebut menjadi salah satu kesepakatan dalam rapat antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya. Sementara berbagai aspek teknis dan administrasi terkait perubahan jadwal akan ditindaklanjuti sesuai arahan Pemerintah Aceh.

Penundaan tersebut sekaligus memberikan tambahan waktu bagi panitia dan pemerintah daerah untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan penyelenggaraan, khususnya pembangunan venue, sarana pendukung, pendanaan serta kesiapan pelayanan bagi atlet dan ofisial.

Sebelumnya, persiapan PORA XV memang membutuhkan dukungan anggaran cukup besar. Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya memperkirakan kebutuhan penyelenggaraan mencapai sekitar Rp210 miliar, termasuk pembangunan Stadion Salem sebagai venue utama yang nilainya sekitar Rp74 miliar.

Plt Sekda Aceh Taufik menegaskan, PORA XV merupakan tanggung jawab bersama sehingga seluruh pihak harus serius memastikan pesta olahraga terbesar di Aceh tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Menurut Taufik, kepastian jadwal menjadi penting agar seluruh tahapan persiapan dapat segera disusun dan pelaksanaan PORA tetap berada dalam jalur yang tepat menuju agenda olahraga nasional berikutnya.

Ia juga meminta berbagai kebutuhan yang masih belum tuntas segera dikejar, terutama menyangkut pendanaan dan kesiapan infrastruktur.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Terkait pendanaan dan persiapan infrastruktur perlu segera kita kejar, mengingat waktu persiapan yang semakin singkat,” ujar Taufik.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh juga telah menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah provinsi, Pemkab Aceh Jaya dan KONI untuk memastikan venue serta fasilitas pertandingan memenuhi standar yang ditetapkan.

29 Cabang Olahraga Dipersiapkan

PORA XV Aceh Jaya merupakan ajang olahraga multi-cabang yang mempertemukan atlet dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Berdasarkan persiapan sebelumnya, sebanyak 29 cabang olahraga direncanakan dipertandingkan. Rencana tersebut telah dibahas KONI Aceh dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan venue yang tersedia di Aceh Jaya.

PORA XV melibatkan 23 kontingen kabupaten/kota dengan sekitar 29 cabang olahraga dan lebih dari 2.500 atlet.

Dengan adanya penundaan, para atlet, kontingen, panitia dan tuan rumah memperoleh waktu tambahan untuk melakukan persiapan.

Namun, perubahan jadwal juga membuat pemerintah harus memastikan seluruh tahapan administrasi, anggaran, pemusatan latihan serta kebutuhan teknis dapat disesuaikan.

Bupati Aceh Jaya Safwandi menyambut positif keputusan penjadwalan ulang tersebut. Menurutnya, tambahan waktu dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pembangunan sarana dan prasarana olahraga yang akan digunakan selama PORA.

Safwandi berharap seluruh venue yang dipersiapkan dapat dituntaskan selama masa penundaan sehingga tidak hanya siap digunakan ketika PORA berlangsung, tetapi juga menjadi aset jangka panjang bagi pembinaan olahraga di Aceh Jaya.

Ia juga meminta dukungan Pemerintah Aceh dan DPRA dalam pemenuhan kebutuhan anggaran penyelenggaraan.

Selain venue pertandingan, kesiapan daerah juga mencakup sektor pendukung seperti akomodasi, rumah makan, transportasi, kebersihan, keamanan hingga destinasi wisata.

Pemkab Aceh Jaya menilai keberhasilan PORA bukan hanya ditentukan oleh suksesnya pertandingan, tetapi juga kemampuan daerah memberikan pelayanan kepada ribuan atlet, ofisial dan tamu yang datang dari seluruh Aceh.

Pergeseran PORA XV ke Mei 2027 menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi Pemerintah Aceh dan Aceh Jaya.

Di satu sisi, pemerintah harus memastikan penundaan tidak mengganggu program pembinaan atlet serta agenda olahraga Aceh. Di sisi lain, tambahan waktu dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan infrastruktur dan memastikan kesiapan anggaran.

PORA sendiri bukan sekadar ajang perebutan medali. Kompetisi empat tahunan tersebut menjadi salah satu tahapan penting pembinaan atlet Aceh sebelum berlaga di tingkat nasional. Karena itu, kepastian jadwal dan kualitas penyelenggaraan menjadi perhatian penting bagi KONI, pemerintah daerah dan seluruh kontingen.

Dengan keputusan terbaru tersebut, fokus pemerintah kini diarahkan pada penyelesaian seluruh pekerjaan yang masih tertunda agar PORA XV/2026 dapat benar-benar digelar di Aceh Jaya pada awal Mei 2027 dengan kesiapan yang lebih matang.

Pemerintah Aceh, Pemkab Aceh Jaya, KONI dan PB PORA selanjutnya diminta memperkuat koordinasi sehingga perubahan jadwal tidak sekadar menjadi penundaan, tetapi menjadi kesempatan untuk menghadirkan penyelenggaraan PORA yang lebih siap, tertib dan memberikan manfaat jangka panjang bagi olahraga serta perekonomian Aceh Jaya.