Real Voice, Real Change: Ketika Flexing Menjadi Candu, Kesehatan Jiwa Dipertaruhkan

Coba buka linimasa kita sebentar. Ada yang memamerkan jam tangan, ada yang pamer liburan, ada yang pamer hubungan yang terlihat sempurna. Dalam situasi tertentu, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan, keinginan untuk diterima, atau kekhawatiran tentang bagaimana orang lain menilai diri kita
Oleh: dr Rina Hastuti Lubis Sp.KJ FISQua
Kedokteran adalah salah satu pencapaian terbesar peradaban. Kita mampu memetakan genom, menciptakan vaksin dalam hitungan bulan, bahkan kini kecerdasan buatan bisa membaca foto rontgen lebih cepat dari mata seorang residen. Kemajuan ini luar biasa. Tapi di balik semua kecanggihan itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Manusia tetaplah makhluk yang rapuh. Yang butuh didengar, bukan hanya diobati.
Hal yang sama terjadi pada pencapaian lain yang bernama media sosial. Kita berhasil menciptakan dunia di mana setiap orang bisa bersuara. Seorang anak muda di Banda Aceh hari ini bisa memiliki panggung yang sama luasnya dengan seorang selebritas di Jakarta.
Dulu, untuk didengar, kita harus menunggu giliran. Sekarang setiap orang memegang mikrofonnya sendiri. Namun, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan. Ketika semua orang bersuara, suara siapa yang sebenarnya kita dengar?
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini mengangkat tema Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change. Tema ini mengingatkan kita bahwa suara dan pengalaman nyata seseorang perlu didengar, bukan sekadar menjadi bagian dari kebisingan linimasa.
Karena yang banyak kita lihat hari ini bukan real voice, melainkan curated voice. Suara yang sudah dikurasi, diedit, dan diberi filter supaya terlihat sempurna. Di sinilah fenomena flexing itu menemukan maknanya.
Coba buka linimasa kita sebentar. Ada yang memamerkan jam tangan, ada yang pamer liburan, ada yang pamer hubungan yang terlihat sempurna. Sekilas kita ingin menghakimi, generasi ini kok suka pamer sekali. Padahal kalau kita mau berhenti sejenak, kita akan melihat hal yang lain.
Flexing tidak selalu menunjukkan kesombongan. Dalam situasi tertentu, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan, keinginan untuk diterima, atau kekhawatiran tentang bagaimana orang lain menilai diri kita. Tentu, kita tidak bisa menyimpulkan motif seseorang hanya dari apa yang ia unggah. Ia bukan selalu soal menunjukkan kelebihan. Bagi sebagian orang, flexing mungkin menjadi cara untuk menutupi rasa tidak aman yang sulit mereka ungkapkan secara langsung.
Anak muda hari ini hidup dalam paradoks yang melelahkan. Mereka adalah generasi yang vokal menyuarakan pentingnya kesehatan mental, tetapi juga menghadapi tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja.
Mereka ingin jujur, ingin bilang aku lelah, aku lagi tidak baik-baik saja. Tapi algoritma mengajarkan hukum yang berlawanan. Yang jujur dan rapuh sepi penonton. Yang sempurna dan berkilau ramai pujian. Akhirnya mereka belajar, kalau ingin didengar, harus flexing. Kalau ingin divalidasi, harus berpura-pura. Inilah yang disebut ekonomi validasi.
Dalam ekonomi lama orang bekerja untuk mendapatkan uang. Di ekonomi baru ini orang memposting untuk dapat pengakuan. Harga diri diukur bukan dari dalam, tapi dari luar. Dari likes, views, dan komentar. Ketika metrik itu naik, rasa percaya diri naik sesaat. Ketika sepi, harga diri runtuh dalam diam. Muncullah siklus yang tidak pernah selesai. Cemas, posting, dapat validasi sesaat, cemas lagi.
Ketika Pengakuan Menjadi Ukuran Harga Diri
Psikologi menyebutnya social comparison. Kita menilai diri dengan membandingkan diri dengan orang lain. Itu wajar. Masalah muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita terus-menerus merasa kurang, gagal, atau tidak berharga. Kita membandingkan seluruh kekacauan di balik layar hidup kita, skripsi yang macet, cicilan paylater, pertengkaran di rumah, dengan potongan adegan terbaik dari hidup orang lain yang sudah diedit dan diberi filter.
Kita membandingkan behind the scenes kita dengan highlight reel orang lain. Ya, kita bisa merasa kalah. Dan karena merasa kalah, kita mungkin terdorong untuk menunjukkan pencapaian yang lebih besar.
Harganya tidak murah. Kita melihatnya dalam bentuk utang demi outfit, pinjaman daring demi gawai baru, gangguan cemas, susah tidur, dan rasa kesepian yang aneh. Pengikutnya ribuan, tapi tidak ada satu pun tempat untuk bercerita jujur ketika benar-benar runtuh.
Tentu media sosial tidak otomatis menyebabkan gangguan jiwa, dan tidak setiap orang yang menggunakannya akan mengalami masalah psikologis. Dampaknya bergantung pada banyak hal, termasuk kondisi individu, pola penggunaan, dukungan sosial, dan jenis konten yang dikonsumsi.
Namun, ketika kebutuhan akan pengakuan mulai mengendalikan perilaku, mengganggu tidur, mendorong pengeluaran di luar kemampuan, atau membuat seseorang terus-menerus merendahkan dirinya, kita perlu memberi perhatian.
Ironis. Semakin keras kita berusaha terlihat sempurna, semakin jauh kita mungkin dari suara asli kita sendiri. Maka, kalau temanya adalah Real Voice, Real Change, mungkin sudah waktunya kita bertanya, di mana real voice itu?
Mendengar Suara Asli di Balik Linimasa
Real voice bukan suara yang paling keras di kolom komentar. Real voice adalah suara paling jujur di dalam diri kita. Suara yang bilang, aku tidak harus kaya untuk berharga. Aku tidak harus cantik menurut filter untuk dicintai. Aku tidak harus terlihat healing di Bali untuk dianggap bahagia. Aku boleh jadi biasa saja, dan itu tidak apa-apa.
Kejujuran terhadap diri sendiri bukan berarti kita harus membuka semua persoalan pribadi di media sosial. Kita tetap berhak menjaga privasi.
Yang penting, kita memiliki ruang untuk mengakui perasaan sendiri tanpa harus menyamarkannya menjadi penampilan yang selalu sempurna. Kita boleh merasa sedih, iri, cemas, atau tertinggal tanpa menjadikan perasaan itu sebagai ukuran nilai diri kita.
Real voice juga bukan cuma soal keberanian anak muda untuk bicara. Real voice adalah soal keberanian kita sebagai orang dewasa untuk mendengar tanpa langsung menghakimi. Ketika seorang anak muda bilang, “Aku cemas lihat teman-temanku sudah sukses di Instagram,” jawaban yang dia butuhkan bukan ceramah “jangan main HP terus”.
Yang dia butuhkan adalah validasi yang nyata. Wajar kok kamu cemas, saya juga pernah merasa tertinggal. Sini kita ngobrol pelan-pelan.
Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua perilaku atau menganggap setiap persoalan akan selesai dengan percakapan. Mendengarkan berarti memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan perasaannya sebelum kita menawarkan nasihat. Sikap ini dapat membantu orang merasa diterima dan lebih berani mencari dukungan ketika menghadapi masalah.
Orang yang bijak adalah orang yang mengenali batasnya. Ia tahu kapan harus tampil dan kapan harus berhenti sejenak, menatap orang di depannya bukan sebagai konten, melainkan sebagai manusia.
Ia tahu kapan harus bersuara dan kapan harus menahan diri untuk mendengarkan. Mungkin kesehatan jiwa di era media sosial juga butuh kebijaksanaan yang sama, yaitu mengenali batas.
Batas pertama adalah untuk diri sendiri. Kita perlu belajar digital minimalism, bukan anti media sosial. Kita tidak harus mematikan panggung itu, tapi kita harus tahu kapan turun dari panggung. Tidak memposting seminggu tidak akan membuat kita hilang dari dunia. Memberi jeda adalah cara merawat suara asli kita supaya tidak habis karena terus berteriak.
Batas kedua adalah mengembalikan validasi ke tempat asalnya. Sebelum memposting, coba tanya pelan-pelan ke diri sendiri. Apakah saya memposting ini karena memang ingin berbagi, atau karena saya butuh dilihat? Apakah saya akan tetap bangga dengan postingan ini kalau tidak ada satu pun yang menyukainya? Apakah ini suara asli saya, atau suara yang saya kira akan disukai orang lain?
Kita juga bisa mulai dengan langkah sederhana. Kurangi paparan terhadap akun yang berulang kali membuat kita merasa rendah diri. Matikan notifikasi yang tidak penting.
Beri waktu untuk kegiatan yang tidak membutuhkan dokumentasi, seperti berbincang dengan keluarga, berolahraga, membaca, atau menikmati waktu bersama teman. Sesekali, perhatikan suasana hati kita setelah menggunakan media sosial. Apakah kita merasa lebih terhubung, atau justru semakin cemas dan kesepian?
Jika kecemasan, gangguan tidur, atau perasaan tidak berharga berlangsung terus-menerus hingga mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional. Kita tidak harus menunggu sampai benar-benar terpuruk untuk meminta pertolongan.
Dari Kesadaran Pribadi Menuju Perubahan Nyata
Batas ketiga membawa kita pada tanggung jawab yang lebih luas, yaitu menciptakan real change. Perubahan nyata tidak cukup hanya melalui kampanye bijak bermedia sosial setahun sekali setiap 10 Oktober. Real change membutuhkan dukungan dari keluarga, sekolah, kampus, dan lingkungan sosial yang membantu setiap orang merasa diterima tanpa harus terus-menerus membuktikan dirinya.
Di rumah, mari kita mengganti pujian yang hanya berfokus pada prestasi, seperti “Kamu hebat karena juara”, dengan pujian yang menghargai proses, seperti “Ayah menghargai usahamu yang tidak menyerah”.
Anak yang harga dirinya dibangun di atas proses tidak akan mudah runtuh ketika likes-nya sepi. Anak juga perlu merasa diterima ketika gagal, melakukan kesalahan, atau belum mencapai sesuatu yang diharapkan. Penerimaan yang konsisten membantu mereka memahami bahwa kasih sayang tidak harus diperoleh dengan prestasi atau penampilan tertentu.
Di sekolah dan kampus, mari jadikan literasi emosi sebagai keterampilan hidup, bukan sekadar seminar. Ajarkan cara mengelola rasa iri, cara menolak dengan baik, cara berduka, dan cara gagal. Karena flexing dapat menjadi salah satu cara seseorang menghadapi rasa tidak aman atau takut gagal ketika ia belum memiliki cara lain yang lebih sehat untuk mengelola perasaannya.
Literasi digital juga perlu berjalan bersama literasi emosi. Anak muda perlu memahami bahwa konten yang mereka lihat merupakan pilihan yang ditampilkan seseorang, bukan gambaran lengkap kehidupannya. Mereka perlu belajar menilai informasi, mengenali tekanan sosial, dan menggunakan media sosial secara sadar. Keluarga, sekolah, kampus, dan lingkungan pertemanan dapat membantu membangun kebiasaan tersebut melalui percakapan yang terbuka dan konsisten.
Dan untuk kita semua, mari mulai menjadi ruang aman bagi real voice. Kalau ada teman curhat, jangan langsung dibalas dengan flexing balasan yang lebih hebat. Dengarkan saja. Kadang perubahan yang nyata tidak butuh solusi hebat. Ia hanya butuh satu orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Ruang aman bukan hanya tempat orang boleh berbicara, tetapi juga tempat mereka tidak dipermalukan karena mengakui kelemahan. Kita dapat memulainya dengan menjaga kepercayaan, tidak menyebarkan cerita pribadi orang lain, dan tidak meremehkan kesulitan yang mereka alami. Bila masalahnya membutuhkan bantuan lebih lanjut, kita dapat mendampingi mereka untuk mendapatkan pertolongan yang sesuai.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Seperti stetoskop, ia bisa dipakai untuk mendengar, bisa juga dipakai untuk memukul. Pilihannya ada pada kita. Di balik setiap foto flexing yang terlalu terang, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami orang di balik layar. Karena itu, kita perlu berhenti terburu-buru menghakimi, baik orang yang terlihat sukses maupun orang yang berani mengakui kesulitannya.
Di balik setiap unggahan, ada manusia yang ingin diterima, dihargai, dan didengar. Kita tidak perlu menunggu seseorang terlihat rapuh untuk memperlakukannya dengan empati. Kamu berharga, bahkan tanpa harus pamer.
Jika kita bisa mengatakan kalimat itu dengan tulus, tanpa menunggu kolom komentar, di sanalah real voice itu hidup. Dan dari sanalah real change akan dimulai.
Penulis adalah Psikiater Rumah Sakit Jiwa Aceh, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala