Belasan Sapi Jadi Mangsa, Teror Harimau Hantui Warga Aceh Timur

ACEH TIMUR, Infoaceh.net — Konflik antara manusia dan satwa liar kembali pecah di Provinsi Aceh. Kemunculan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dilaporkan telah meneror warga dan memangsa belasan ekor sapi di area perkebunan kelapa sawit PTPN, Desa Julok Rayeuk Selatan (JRS), Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur.

Rentetan serangan yang terjadi sejak pertengahan Agustus hingga Oktober 2026 ini memicu keresahan mendalam bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sektor perkebunan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari warga setempat, intensitas serangan kucing besar ini meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sedikitnya 10 hingga 13 ekor sapi milik warga dilaporkan hilang atau ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan akibat terkaman predator puncak tersebut.

Kasus terbaru dilaporkan menimpa hewan ternak milik Abah Saha, warga Desa Julok Rayeuk Selatan. Sapi miliknya ditemukan mati di tengah hutan semak dengan kondisi tubuh yang sudah tidak utuh pada Jumat, 9 Oktober 2026.

“Sudah lebih dari 10 ekor sapi warga yang dimangsa sejak pertengahan Agustus. Serangan terus berulang selama beberapa pekan terakhir, dan dalam tiga hari belakangan ada satu ekor lagi yang menjadi korban,” ujar Mukhlis, salah seorang warga setempat.

Selain menderita kerugian materi akibat hilangnya hewan ternak, masyarakat kini diliputi rasa cemas dan ketakutan yang luar biasa. Kehadiran harimau liar yang kerap mondar-mandir di dekat permukiman dan wilayah operasional kebun kelapa sawit memaksa para petani membatasi aktivitas harian mereka.

Banyak petani yang kini memilih tidak pergi ke kebun karena khawatir berhadapan langsung dengan satwa dilindungi tersebut.

Pengamat lingkungan juga mulai menyoroti bahwa fenomena turunnya harimau ke area perkebunan warga disebabkan oleh kerusakan koridor satwa dan berkurangnya habitat asli serta pasokan makanan di hulu hutan.

Merespons situasi darurat tersebut, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah menerjunkan tim khusus ke lokasi konflik. Petugas di lapangan telah memasang camera trap (kamera pengintai) untuk memantau pergerakan dan mengidentifikasi jumlah harimau yang berkeliaran.

BKSDA juga terus berpatroli guna menggiring satwa liar tersebut agar kembali masuk ke dalam hutan dan menjauh dari permukiman warga.

Aparat kepolisian dan perangkat desa setempat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak pergi ke area perkebunan atau hutan sendirian.

Menghindari aktivitas pada malam hari, terutama di area rawan tempat penampakan satwa. Mengamankan hewan ternak ke tempat yang lebih dekat dengan permukiman agar tidak mudah dijangkau predator.

Segera melapor kepada petugas terdekat jika menemukan jejak kaki baru atau melihat visual keberadaan harimau, serta dilarang keras memasang jerat yang dapat melukai atau membunuh satwa dilindungi tersebut.

Warga berharap pemerintah dan instansi terkait dapat mengambil langkah yang lebih tegas, seperti pemasangan perangkap atau opsi pemindahan satwa (relokasi), agar keselamatan warga dan kelestarian Harimau Sumatra sama-sama terjaga.