Pakar Ekonomi Syariah Israk Ahmadsyah Tutup Usia, UIN Ar-Raniry Kehilangan Akademisi dan Pengabdi Masyarakat

BANDA ACEH, Infoaceh.net – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Akademisi sekaligus pakar ekonomi syariah Aceh, Israk Ahmadsyah BEc MEc PhD meninggal dunia pada Selasa (13/10/2026) dalam usia 54 tahun.
Kepergian dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, kolega akademisi, serta kalangan yang mengenalnya melalui kegiatan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Almarhum diketahui pernah mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang II FEBI UIN Ar-Raniry. Dalam perjalanan akademik dan pengabdiannya, ia dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan ekonomi Islam, keuangan mikro syariah, serta upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurut kesaksian sahabat dan rekan sejawatnya, Israk bukan hanya dikenal karena latar belakang pendidikan dan keluasan ilmunya, tetapi juga karena kepribadiannya yang ramah, bersahaja, dan mudah bergaul.
Kepergiannya menjadi kehilangan bagi dunia akademik Aceh, terutama di tengah kebutuhan terhadap pemikiran dan praktik ekonomi syariah yang mampu menjawab persoalan ekonomi masyarakat.
Sahabat almarhum, Saifuddin A. Rasyid, dalam tulisan reflektif berjudul “Ustaz Israk: Bergerak dalam Kerinduan”, menyebutkan bahwa Israk meninggal dunia setelah menjalani sakit, istirahat, dan pengobatan selama sekitar enam bulan terakhir.
Ketika mulai jatuh sakit, almarhum masih aktif menjalankan tugas sebagai Wakil Dekan Bidang II FEBI UIN Ar-Raniry.
Saifuddin mengaku berharap sahabatnya itu dapat kembali beraktivitas, berdiskusi, berbagi ilmu, dan melanjutkan pengabdian di kampus. Namun, takdir berkata lain.
“Yang tersisa adalah kenangan, doa, dan kerinduan,” demikian inti refleksi Saifuddin dalam mengenang sosok sahabatnya tersebut.
Bagi Saifuddin, Israk bukan sekadar kolega sesama dosen. Hubungan keduanya telah terjalin sejak 1993, ketika mereka sama-sama menempuh pendidikan di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur.
Selama lebih dari tiga dekade mengenalnya, Saifuddin menggambarkan Israk sebagai pribadi yang hangat, bersahabat, dan menyenangkan ketika diajak berbincang.
Dalam bahasa Aceh, ia menyebut almarhum sebagai sosok yang Rumeh, yakni ramah, mudah akrab, dan mampu mencairkan suasana dalam pergaulan.
Karakter tersebut menjadi salah satu kenangan yang paling membekas bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Selain aktif dalam dunia pendidikan tinggi, Israk Ahmadsyah juga memiliki pengalaman dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Saifuddin menyebutkan mereka pernah bersinggungan dalam sejumlah kegiatan pemberdayaan, termasuk melalui Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) serta program ekonomi dan keuangan mikro syariah, seperti Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dan Baitul Qiradh.
Keterlibatan dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi syariah tidak hanya berkaitan dengan teori, transaksi keuangan, atau pembahasan akademik di ruang kuliah. Bidang ini juga menyentuh persoalan akses permodalan, pengembangan usaha kecil, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Melalui lembaga keuangan mikro syariah, masyarakat dapat memperoleh pendampingan dan akses layanan keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah. Lembaga semacam ini juga berpotensi menjadi sarana pengembangan usaha mikro dan kecil, terutama jika didukung tata kelola yang baik serta pendampingan berkelanjutan.
Dalam kenangan Saifuddin, Israk merupakan akademisi yang memiliki keluasan wawasan di bidang ekonomi syariah dan mampu mempertemukan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Warisan seorang akademisi, dengan demikian, tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban atau karya ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga dari pengetahuan yang dibagikan, hubungan yang dibangun, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Menempuh Pendidikan hingga Inggris
Perjalanan akademik Israk Ahmadsyah juga membawanya menempuh pendidikan di luar negeri. Rekam jejak akademiknya tercatat dalam profil tenaga pengajar FEBI UIN Ar-Raniry, yang menyebutkan bahwa ia merupakan dosen berpangkat Lektor Kepala di bidang Ekonomi Islam, dengan gelar doktor dari University of Gloucestershire, Inggris. Ia juga menempuh pendidikan magister di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Sahabatnya, Said Muniruddin, yang memperkenalkan diri sebagai Rektor The Suficademic Supertraining, turut menyampaikan kenangan melalui tulisan berjudul “Selamat Jalan Brother!.
Said mengenang pertemuannya dengan Israk ketika keduanya menempuh pendidikan pascasarjana di Birmingham Business School, University of Birmingham, Inggris, pada 2006.
Menurut Said, Israk datang ke Birmingham untuk melanjutkan pendidikan magister keduanya di bidang Governance. Pada pekan pertama kedatangannya, Israk sempat tinggal di rumah kontrakan Said sebelum memperoleh tempat tinggal sendiri.
Pengalaman selama di Inggris itu menjadi bagian dari ikatan persahabatan mereka. Said mengingat Israk sebagai sahabat yang memiliki ketertarikan kuat terhadap persoalan keislaman dan kemudian banyak menggeluti isu dakwah serta ekonomi syariah.
Meski sesekali berbeda pandangan dalam membahas sejumlah persoalan, hubungan keduanya tetap terjalin baik. Setiap bertemu, mereka kerap kembali mengenang pengalaman dan cerita lucu selama berada di Inggris.
Bagi Said, kabar meninggalnya Israk merupakan kehilangan seorang sahabat yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Kenangan tersebut sekaligus memperlihatkan sisi lain Israk di luar aktivitas akademik: seorang sahabat yang membangun hubungan personal dan menjaga silaturahmi lintas waktu serta perbedaan pandangan.
Meninggalkan Jejak Penelitian Ekonomi Syariah
Jejak keilmuan Israk Ahmadsyah juga dapat ditelusuri melalui sejumlah publikasi ilmiah yang membahas perbankan syariah, keuangan mikro, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Salah satu penelitiannya bersama Riza Aulia Azhary berjudul “Model Pengukuran Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS): Studi pada Nasabah Wanita di Wilayah Kabupaten Aceh Besar”, yang diterbitkan dalam Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam pada 2022.
Penelitian tersebut mengangkat peran lembaga keuangan mikro syariah dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial, khususnya bagi nasabah perempuan di Aceh Besar.
Ia juga menulis bersama sejumlah peneliti mengenai pengaruh pembiayaan modal kerja, pembiayaan investasi, dan pembiayaan konsumtif terhadap total aset Bank Aceh Syariah. Penelitian itu diterbitkan dalam Jurnal Ekonomi Regional Unimal pada 2019.
Selain itu, profil publikasi akademiknya memuat kajian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah terhadap Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah, serta tulisan mengenai fungsi perbankan syariah dalam memperkuat keuangan sosial dan mengurangi kemiskinan di Aceh.
Pada 2024, Israk juga tercatat mendampingi mahasiswa FEBI UIN Ar-Raniry dalam kunjungan akademik ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai hukum, regulasi, literasi keuangan syariah, dan perlindungan konsumen.
Pada tahun yang sama, ia membimbing mahasiswa dalam kunjungan edukatif ke Pegadaian Syariah Banda Aceh. Sementara pada Juni 2025, ia memimpin kunjungan mahasiswa Perbankan Syariah ke Bank Syariah Indonesia (BSI) Aceh sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik.
Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam menghubungkan pembelajaran akademik dengan praktik industri keuangan syariah. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep yang dipelajari di kelas, tetapi juga diajak memahami penerapannya dalam kegiatan usaha dan pelayanan keuangan.
Kepergian Israk Ahmadsyah menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kesinambungan pengembangan ekonomi syariah di Aceh.
Sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, Aceh memiliki tantangan untuk memastikan bahwa prinsip ekonomi syariah tidak berhenti pada regulasi dan kelembagaan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Kajian tentang keuangan mikro, akses pembiayaan usaha kecil, penguatan literasi keuangan, dan pemberdayaan kelompok masyarakat merupakan bagian dari upaya menjawab tantangan tersebut.
Dalam konteks ini, karya dan pengalaman Israk menjadi bagian dari khazanah akademik yang dapat terus dipelajari serta dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Kepergiannya tentu tidak serta-merta menghentikan perjalanan pemikiran ekonomi syariah di Aceh. Namun, kehilangan seorang akademisi yang telah mengabdikan diri pada pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat menjadi pengingat akan pentingnya meneruskan pengetahuan dan pengabdian yang telah dirintis.
Saifuddin A. Rasyid dalam refleksinya mengajak keluarga, kolega, dan sahabat untuk merawat kenangan terhadap almarhum melalui doa, kepedulian kepada keluarga yang ditinggalkan, serta melanjutkan kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidupnya.
Menurutnya, kerinduan tidak seharusnya membuat orang berhenti bergerak. Sebaliknya, kerinduan dapat menjadi dorongan untuk meneruskan nilai-nilai baik yang diwariskan seseorang.
Bagi keluarga besar UIN Ar-Raniry, kenangan terhadap Israk akan melekat pada perjalanan akademik, persahabatan, serta pengabdian yang pernah dijalaninya.
Selamat jalan, Israk Ahmadsyah. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan ini.