Kualitas Udara Aceh Memburuk Drastis Dikepung Kabut Asap Pekat

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Sebaran kabut asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dilaporkan semakin meluas dan menyelimuti sebagian besar wilayah Provinsi Aceh pada Jum’at (16/10/2026).

Kondisi ini tidak hanya menurunkan jarak pandang secara drastis, tetapi juga memicu pembatalan jadwal penerbangan komersial dan penurunan kualitas udara hingga ke tingkat yang membahayakan kesehatan.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) per Jum’at pagi pukul 07.00 WIB, Provinsi Aceh secara akumulatif mencatatkan indeks kualitas udara terburuk di Indonesia dengan angka mencapai 9.415.

Wilayah Kabupaten Aceh Tengah menjadi daerah terdampak paling parah secara nasional. Stasiun pemantauan resmi KLH di Kelurahan Kuteni Reje, Kecamatan Lut Tawar, mencatat angka ISPU sempat menembus angka ekstrem pada parameter partikulat PM10.

Berdasarkan standar KLH, angka di atas 300 sudah masuk ke dalam kategori Berbahaya yang dapat merugikan kesehatan populasi secara serius.

Selain Aceh Tengah, kabut asap tebal terpantau menyelimuti Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, hingga Aceh Selatan.

Di Banda Aceh, warga melaporkan lapisan asap terlihat jelas sejak pagi hari dengan kondisi cahaya matahari yang tampak memerah akibat terhalang partikel polusi.

Penerbangan di Bandara Malikussaleh Lumpuh total

Sektor transportasi udara menjadi salah satu yang paling terdampak akibat fenomena ini. Manajemen Bandara Sultan Malikussaleh di Kabupaten Aceh Utara terpaksa menutup sementara aktivitas penerbangan komersial karena jarak pandang merosot hingga ke angka 2.500 meter (2,5 km).

Maskapai Wings Air rute Kualanamu (Medan) – Malikussaleh (Aceh Utara) pulang-pergi dilaporkan telah membatalkan seluruh jadwal penerbangannya dalam beberapa hari terakhir. Pelaksana Harian Kantor UPBU Malikussaleh, Niswan, menegaskan batas jarak pandang aman untuk operasional pesawat Wings Air adalah 5.000 meter.

Akibat pembatalan force majeure ini, ratusan penumpang terdampak dan pihak maskapai terpaksa menawarkan opsi penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian dana tiket (refund).

Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Aceh secara resmi juga telah mengeluarkan imbauan agar seluruh calon penumpang pesawat memeriksa status penerbangan mereka secara berkala kepada pihak maskapai sebelum menuju ke bandara.

Asap Kiriman dari Luar Daerah

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena langit berkabut ini disebabkan oleh transboundary haze atau kabut asap lintas batas. Citra satelit Himawari mendeteksi pergerakan massa udara dan asap yang dibawa oleh angin bertiup dari arah timur hingga tenggara.

Asap tersebut diduga kuat berasal dari akumulasi titik panas (hotspot) kebakaran lahan skala besar di wilayah lain di Indonesia, seperti Sumatera Selatan dan sebagian Kalimantan. Kendati demikian, untuk wilayah seperti Aceh Tamiang dan Aceh Timur, BMKG melaporkan kondisi mendung juga dipengaruhi oleh adanya potensi pertumbuhan awan hujan.

Imbauan Kesehatan bagi Warga

Dinas Kesehatan di berbagai kabupaten/kota di Aceh meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Paparan kabut asap ini dapat memicu iritasi mata, hidung, tenggorokan, serta memperparah penyakit pernapasan seperti asma dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Pemerintah daerah merilis protokol kesehatan darurat sebagai berikut:

1. Batasi Aktivitas: Kurangi kegiatan di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan riwayat penyakit paru atau jantung.

2. Gunakan Masker Standar: Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat sangat disarankan mengenakan masker pelindung polusi berkemampuan filtrasi tinggi seperti jenis N95 atau KN95.

3. Proteksi Dalam Rumah: Menutup rapat pintu dan jendela agar partikel asap tidak masuk ke dalam hunian.

4. Pola Hidup Sehat: Meningkatkan konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi saluran napas serta memperbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan (buah dan sayur).

Hingga berita ini diturunkan, warga di beberapa kota terdampak seperti Lhokseumawe masih mengeluhkan belum adanya aksi pembagian masker gratis secara masif dari instansi terkait, sehingga warga masih harus mengandalkan pelindung diri secara mandiri.