Pohon Lingkungan Sekolah Ditebang, Siswa SMA 1 Simpang Ulim Demo Protes Kepsek

ACEH TIMUR, Infoaceh.net – Penebangan sejumlah pohon rindang di lingkungan SMA Negeri (SMAN) 1 Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, memicu gelombang protes dari kalangan siswa.
Aksi demonstrasi yang disertai mogok belajar pada Jum’at (23/10/2026) itu juga menuai keprihatinan guru, alumni, dan wali murid yang menyayangkan hilangnya pepohonan yang selama ini membuat lingkungan sekolah terasa sejuk dan asri.
Pohon-pohon yang ditebang diperkirakan telah berusia 10 hingga 15 tahun. Para siswa menilai keberadaan pepohonan tersebut bukan sekadar penghias halaman, melainkan bagian penting dari lingkungan belajar yang nyaman.
Selama bertahun-tahun, pepohonan rindang itu menjadi tempat berteduh dan mendukung kegiatan belajar di luar ruang kelas.
Informasi mengenai aksi protes tersebut beredar melalui media sosial, termasuk unggahan akun Instagram OSIS SMAN 1 Simpang Ulim dan siaran langsung melalui akun TikTok salah seorang siswa.
Dalam aksi itu, para pelajar menyampaikan kekecewaan karena lingkungan sekolah yang sebelumnya hijau kini terlihat lebih terbuka dan panas.
Sejumlah siswa juga mempertanyakan proses pengambilan keputusan penebangan pohon. Mereka berharap pihak sekolah memberikan penjelasan secara terbuka mengenai alasan, tujuan, serta rencana penataan kembali lingkungan sekolah setelah penebangan dilakukan.
Siswa Kecewa, Lingkungan Sekolah Berubah Gersang
Bagi para siswa, pepohonan yang ditebang memiliki nilai tersendiri karena telah tumbuh selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari keseharian mereka di sekolah.
Selain memberikan keteduhan, pohon berukuran besar membantu mengurangi paparan sinar matahari langsung, menyaring partikel udara, serta mendukung kenyamanan warga sekolah saat beraktivitas di luar ruangan.
Sejumlah siswa menyayangkan keputusan tersebut karena untuk mengembalikan kondisi lingkungan menjadi rindang diperlukan waktu bertahun-tahun. Penanaman pohon pengganti, menurut mereka, tidak serta-merta dapat menghadirkan keteduhan yang sama dalam waktu singkat.
Dalam aksi protes yang beredar di media sosial, para pelajar juga menyuarakan keinginan agar aspirasi mereka didengar oleh pihak sekolah dan instansi terkait.
Mereka menilai kebijakan yang menyangkut lingkungan bersama semestinya dikomunikasikan dengan baik kepada guru, siswa, dan unsur sekolah lainnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun keresahan.
Kepala Sekolah Jelaskan Alasan Penebangan
Di tengah protes tersebut, Kepala SMAN 1 Simpang Ulim, Laina Fariyani SE MM memberikan penjelasan mengenai alasan penebangan pohon di lingkungan sekolah.
Laina membenarkan adanya aksi demonstrasi siswa setelah sejumlah pohon ditebang. Ia menjelaskan kebijakan tersebut berkaitan dengan penataan lingkungan sekolah dan kekhawatiran terhadap dampak pertumbuhan pohon terhadap fasilitas sekolah.
Menurut Laina, akar pohon yang semakin membesar dikhawatirkan merusak lantai sekolah. Pepohonan juga disebut menghasilkan banyak sampah daun, sementara cabang yang menjulang berpotensi mengganggu kabel listrik.
Ia turut menjelaskan sebagian pohon berada di dekat saluran drainase. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menghambat aliran air ketika hujan turun dan berkontribusi terhadap genangan atau banjir di lingkungan sekolah.
Laina juga menyatakan penebangan dilakukan atas perintah Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Timur, yang menurut keterangannya telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Aceh.
Dengan demikian, pihak sekolah memandang penebangan tersebut sebagai bagian dari penataan lingkungan dan upaya mengantisipasi persoalan pada fasilitas sekolah, bukan semata-mata untuk menghilangkan pepohonan.
Keterangan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami polemik yang berkembang. Namun, penjelasan mengenai kondisi teknis pohon, tingkat risiko terhadap bangunan dan kabel listrik, serta kaitan akar pohon dengan tersumbatnya saluran air masih perlu diperjelas melalui pemeriksaan dan dokumentasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Timur, Rahmatsah Putra SPd MSM membenarkan adanya aksi protes siswa.
Ia menyatakan penebangan pohon dilakukan atas perintah Cabang Dinas Pendidikan karena akar pohon dikhawatirkan merusak fondasi bangunan dan memecahkan lantai kelas, sedangkan dahan yang membesar berpotensi merusak atap.
Ia juga menyebut pihak sekolah dan guru telah diminta menemui siswa untuk meredam situasi serta menampung aspirasi mereka.
Penjelasan pihak sekolah dan Cabang Dinas Pendidikan tersebut menunjukkan polemik ini tidak hanya berkaitan dengan keberadaan pohon, tetapi juga menyangkut penataan fasilitas sekolah, penanganan drainase, keselamatan warga sekolah dan komunikasi dalam pengambilan kebijakan.
Protes juga datang dari kalangan alumni dan wali murid. Sejumlah komentar yang beredar di media sosial menyayangkan penebangan pohon secara menyeluruh tanpa adanya komunikasi yang dianggap memadai dengan warga sekolah.
Seorang alumni menyampaikan bahwa SMAN 1 Simpang Ulim selama ini dikenal memiliki taman yang asri. Menurutnya, lingkungan tersebut mendukung kegiatan belajar di luar kelas karena guru dan siswa dapat memanfaatkan area di bawah pepohonan untuk kegiatan pembelajaran.
Alumni tersebut menilai persoalan drainase dan potensi banjir seharusnya dikaji dengan mempertimbangkan berbagai alternatif. Penanganan saluran air, pemangkasan dahan yang membahayakan, serta penebangan selektif terhadap pohon yang benar-benar berisiko dapat menjadi pilihan yang perlu dinilai berdasarkan kondisi lapangan.
Sementara itu, sejumlah wali murid mengungkapkan kekecewaan karena perubahan lingkungan sekolah dinilai berpengaruh terhadap kenyamanan siswa saat beraktivitas di luar kelas.
Mereka berharap Dinas Pendidikan Aceh turun tangan untuk mengevaluasi persoalan tersebut, mempertemukan pihak sekolah dengan guru, siswa, alumni, dan wali murid, serta memastikan setiap keputusan yang berdampak luas disertai penjelasan yang transparan.
Kepala Sekolah Laina Fariyani menyatakan pohon-pohon yang telah ditebang akan diganti dengan tanaman produktif yang manfaatnya dapat dirasakan warga sekolah dan generasi berikutnya.
Jenis tanaman yang disebutkan antara lain mangga, kelapa, sawo, dan rambutan. Ia juga menyampaikan penataan lingkungan tersebut diharapkan membuka ruang untuk pembangunan lapangan futsal dan fasilitas olahraga lainnya.
Rencana penanaman kembali itu menjadi salah satu hal yang perlu ditindaklanjuti secara konkret. Pemilihan jenis pohon, lokasi penanaman, jumlah bibit, serta jadwal pelaksanaannya penting agar lingkungan sekolah tetap memiliki ruang hijau dan keteduhan.
Tanaman pengganti juga perlu ditempatkan dengan mempertimbangkan jarak dari bangunan, jaringan listrik, dan saluran drainase.
Dengan perencanaan yang tepat, kebutuhan menjaga fasilitas sekolah dapat berjalan seiring dengan upaya melestarikan lingkungan.
Dinas Pendidikan Diharapkan Memfasilitasi Penyelesaian
Polemik penebangan pohon di SMAN 1 Simpang Ulim kini menjadi perhatian karena menyangkut kepentingan bersama warga sekolah.
Di satu sisi, keamanan bangunan, kelancaran drainase, dan keselamatan siswa harus diperhatikan. Di sisi lain, keberadaan ruang hijau merupakan bagian penting dari lingkungan pendidikan yang nyaman dan mendukung proses belajar.
Dinas Pendidikan Aceh diharapkan memfasilitasi dialog antara pihak sekolah, Cabang Dinas Pendidikan, guru, siswa, alumni, dan wali murid untuk mencari penyelesaian yang dapat diterima bersama.
Evaluasi juga perlu mencakup kondisi pohon sebelum ditebang, potensi risiko terhadap fasilitas sekolah, kebutuhan normalisasi drainase, serta realisasi rencana penghijauan kembali.
Penyelesaian persoalan ini diharapkan tidak berhenti pada meredanya aksi protes, tetapi juga menghasilkan perbaikan tata kelola lingkungan sekolah.
Dengan komunikasi terbuka dan langkah pemulihan yang terukur, SMAN 1 Simpang Ulim diharapkan kembali menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan hijau bagi para siswa.