Warga Pidie Meninggal Ditembak, Mualem-Dek Fad Desak Penegakan Hukum yang Adil

BANDA ACEH, Infoaceh.net — Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fad) menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden penembakan yang menewaskan seorang warga sipil dalam peristiwa pengibaran Bendera Bintang Bulan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.

Pemerintah Aceh meminta insiden yang terjadi pada Rabu (4/11/2026) sore tersebut ditangani melalui proses hukum yang adil, dengan tetap mengedepankan perdamaian dan keselamatan masyarakat.

Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah terkena tembakan dalam ketegangan yang terjadi di lokasi. Sejumlah warga sipil lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan Gubernur Mualem dan Wakil Gubernur Dek Fad menginginkan persoalan tersebut diselesaikan secara baik, melalui mekanisme hukum dan tanpa memperkeruh situasi.

“Tentu penanganan secara hukum. Ada korban jiwa dari masyarakat sipil, ada korban yang terluka juga dari masyarakat sipil,” kata Nurlis di Banda Aceh, Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, Pemerintah Aceh menekankan pentingnya penegakan hukum yang adil terhadap peristiwa tersebut, sekaligus menjaga agar situasi keamanan dan perdamaian di Aceh tidak terganggu.

“Prinsip utamanya adalah tetap dalam koridor perdamaian, dan penegakan hukum yang seadil-adilnya. Jangan sampai melukai hati rakyat,” ujarnya.

Nurlis menjelaskan, Gubernur Mualem telah mengetahui kejadian tersebut dan menyampaikan keprihatinan serta duka mendalam atas meninggalnya warga.

“Gubernur menyampaikan keprihatinan dan duka yang mendalam,” kata Nurlis.

Dek Fad: Keselamatan Rakyat Harus Diutamakan

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya warga dalam insiden tersebut.

Dek Fad mengaku sangat sedih dan prihatin ketika menerima kabar kejadian itu. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh.

“Saya sangat sedih dan prihatin saat mendengar kejadian ini. Atas nama keluarga dan Pemerintah Aceh, saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dunia dalam peristiwa di Pidie,” kata Dek Fadh dalam keterangannya di Banda Aceh, Kamis (5/11/2026).

Ia mengatakan, peristiwa tersebut sangat memprihatinkan karena terjadi dalam suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang semestinya berlangsung dengan penuh kebersamaan, kedamaian, dan nilai-nilai keagamaan.

“Kita tentu sangat berduka. Tidak ada keluarga yang ingin kehilangan orang yang dicintainya, terlebih dalam suasana yang seharusnya dipenuhi kebersamaan dan nilai-nilai keagamaan,” lanjutnya.

Dek Fad mengimbau seluruh pihak agar menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, terlebih ketika persoalan tersebut berpotensi menimbulkan ketegangan yang lebih luas.

“Yang paling utama adalah keselamatan rakyat. Kita tidak ingin ada lagi masyarakat yang terluka, apalagi kehilangan nyawa. Saya berharap seluruh pihak dapat menahan diri, mengedepankan dialog, dan tidak membiarkan persoalan ini berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” ujarnya.

Pemerintah Aceh Minta Polemik Bendera Diselesaikan Secara Bermartabat

Dek Fad kembali menegaskan bahwa persoalan terkait Bendera Bintang Bulan harus diselesaikan dengan kepala dingin dan melalui pendekatan yang bermartabat.

Ia mengingatkan, perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan keselamatan masyarakat, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa.

Menurutnya, Aceh telah melalui perjalanan panjang dalam menjaga perdamaian sehingga seluruh pihak perlu mengedepankan dialog, persaudaraan, dan penyelesaian sesuai ketentuan hukum.

“Persoalan apa pun hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin. Kita harus menjaga Aceh agar tetap damai. Jangan sampai perbedaan pandangan justru mengorbankan nyawa dan merusak persaudaraan di antara sesama masyarakat Aceh,” kata Dek Fad.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa Pemerintah Aceh menginginkan persoalan pengibaran Bendera Bintang Bulan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Insiden di Gampong Pulo Keunari kembali menempatkan persoalan pengibaran Bendera Bintang Bulan dalam perhatian publik.

Peristiwa yang berujung meninggalnya warga sipil tersebut tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi perhatian terhadap pentingnya penanganan hukum yang transparan dan adil.

Pemerintah Aceh menegaskan bahwa penyelesaian persoalan harus tetap berada dalam koridor perdamaian, tanpa mengabaikan penegakan hukum terhadap peristiwa yang menimbulkan korban.

Dalam situasi seperti ini, kejelasan mengenai kronologi kejadian, pihak-pihak yang terlibat, serta pertanggungjawaban atas penggunaan kekuatan menjadi penting untuk memastikan penanganan berlangsung secara objektif.

Pemerintah Aceh juga mengingatkan agar seluruh pihak tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan dan memperbesar ketegangan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, penyelesaian insiden tersebut diharapkan dapat dilakukan secara adil, bermartabat, dan tidak menimbulkan persoalan baru yang mengancam perdamaian Aceh.

Pemerintah Aceh menyampaikan harapan agar seluruh pihak dapat menahan diri, mengedepankan dialog, serta memberikan ruang bagi proses hukum untuk berjalan sebagaimana mestinya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa menjaga perdamaian Aceh harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan warga dan penegakan hukum yang adil.