INFOACEH.netINFOACEH.netINFOACEH.net
  • Beranda
  • Aceh
  • Nasional
  • Dunia
  • Umum
  • Ulama Aceh
  • Syariah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Opini
  • Olahraga
  • Hukum
  • Gaya Hidup
Cari Berita
© 2026 PT. INFO ACEH NET. All Rights Reserved.
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INFOACEH.netINFOACEH.net
Cari Berita
  • Beranda
  • Aceh
  • Nasional
  • Luar Negeri
  • Umum
  • Biografi Ulama Aceh
  • Syariah
  • Politik
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Opini
  • Olahraga
  • Hukum
  • Kesehatan & Gaya Hidup
Follow US
© 2026 PT. INFO ACEH NET. All Rights Reserved.
Opini

100 Tahun Hasan Tiro: Deklarator GAM yang Membelah Sejarah Indonesia

Last updated: Kamis, 25 September 2025 00:07 WIB
By Redaksi - Wartawati Infoaceh.net
Share
Lama Bacaan 6 Menit
SHARE
Oleh: Muhammad Saman

TEPAT 25 September 2025, genap 100 tahun kelahiran Dr. Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sosok yang namanya tak pernah berhenti diperdebatkan dalam sejarah Indonesia.

Ia adalah pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), deklarator kemerdekaan Aceh, sekaligus figur yang mengubah arah politik Tanah Rencong: dari perlawanan berdarah puluhan tahun sejak tahun 1976 hingga berakhir dengan jalan damai pada tahun 2005.

Aceh Bukan Kolam Ikan:  Menggugat Syahwat Proyek di Tengah Bencana Banjir

Bagi sebagian orang, Hasan Tiro adalah pemberontak yang menantang kedaulatan negara Indonesia.

- ADVERTISEMENT -

Namun bagi banyak orang Aceh, ia adalah pejuang yang konsisten mempertahankan martabat bangsanya.

Seratus tahun sejak kelahirannya, jejak Hasan Tiro tetap membelah sejarah: antara konflik dan rekonsiliasi, antara stigma dan penghormatan.

- ADVERTISEMENT -
Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Alibasyah memimpin upacara serah terima jabatan 4 PJU dan 3 Kapolres, di Meuligoe Polda Aceh, Senin (5/1). (Foto: Ist)
Kapolda Aceh Lantik 4 Pejabat Utama dan 3 Kapolres

Dari Darah Perlawanan ke Dunia Akademik

Hasan Tiro lahir di Gampong Tanjong Bungong, Pidie, 25 September 1925. Ia tumbuh dalam keluarga besar ulama pejuang.

Ayahnya, Leube Muhammad, seorang ulama terpandang. Ibunya, Cut Fatimah Tiro, adalah cucu dari Teungku Mahyuddin, anak dari pahlawan nasional Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.

40 hari pascabencana banjir Aceh-Sumatera, Pemerintahan Prabowo Subianto dinilai tidak hanya gagal memenuhi hak-hak korban, tetapi juga membangun iklim ketakutan yang membungkam kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. (Foto: Ist)
Catatan Kritis 40 Hari Bencana Ekologis Sumatera: Kebebasan Pers Dibungkam, Pendekatan Militeristik Dominan

Dari jalur ibunya pula, Hasan Tiro masih berkerabat dengan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar.

- ADVERTISEMENT -

Dengan latar keluarga seperti itu, darah perjuangan seakan mengalir deras dalam dirinya.

Selepas menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta, Hasan Tiro berangkat ke Amerika Serikat. Ia belajar di Universitas Columbia, New York, sembari bekerja di Misi Indonesia untuk PBB.

Namun, pengalaman di luar negeri justru membuatnya semakin kritis terhadap arah politik Indonesia.

Pada 1953, ia mendeklarasikan diri sebagai “Menteri Luar Negeri Darul Islam”, mendukung gerakan Tgk. Daud Beureueh di Aceh. Pemerintah Indonesia murka. Kewarganegaraannya dicabut, dan ia sempat ditahan di Ellis Island sebagai imigran ilegal.

Deklarasi GAM: Aceh Bukan Indonesia

Puncak perlawanan Hasan Tiro terjadi pada 4 Desember 1976. Di Gunung Halimun, Tangse, Pidie, ia mendeklarasikan berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dalam deklarasi itu, ia menolak konsep Aceh hanya diberi status otonomi. Baginya, Aceh adalah bangsa merdeka sebelum kolonialisme Belanda, sehingga berhak berdiri sendiri.

Indonesia, menurut Hasan Tiro, hanyalah konstruksi buatan Belanda yang menyatukan bangsa-bangsa berbeda tanpa dasar sejarah yang kokoh.

“Bangsa Aceh harus kembali kepada statusnya sebelum dijajah,” demikian garis besar pernyataannya kala itu.

GAM pun mengangkat senjata. Targetnya bukan hanya aparat militer dan polisi Indonesia, tetapi juga para transmigran yang dianggap bagian dari strategi negara menguasai tanah Aceh. Konflik bersenjata pun pecah, membawa luka panjang dan darah yang tak sedikit.

Buronan Militer dan Pengasingan di Swedia

Tak lama setelah deklarasi, Hasan Tiro diburu militer Indonesia. Pada 1977 ia tertembak di kaki dalam sebuah penyergapan, lalu melarikan diri ke Malaysia. Sejak 1980, ia memilih menetap di Stockholm, Swedia, hingga memperoleh kewarganegaraan negara itu.

Dari pengasingan, ia tetap memimpin GAM. Para pengikutnya di Aceh menjadikannya simbol perjuangan. Sementara itu, ia menggalang dukungan internasional, memanfaatkan jaringan diaspora Aceh.

Tokoh-tokoh GAM yang kelak menjadi pemimpin Aceh pascaperdamaian, seperti Malik Mahmud dan Zaini Abdullah, merupakan orang-orang yang dekat dengannya selama di Swedia.

Namun, bagi pemerintah Indonesia, Hasan Tiro tetap sosok berbahaya. Bahkan beberapa kali pemerintah keliru mengumumkan kematiannya, padahal ia masih hidup di pengasingan.

Dari Tsunami ke Damai Helsinki

Gelombang tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi titik balik sejarah. Bencana dahsyat yang menewaskan lebih dari 170 ribu orang itu meluluhkan sekat permusuhan.

GAM dan pemerintah Indonesia sepakat membuka perundingan. Pada 15 Agustus 2005, keduanya menandatangani Perjanjian Damai Helsinki.

GAM setuju melucuti senjata, sementara pemerintah memberi Aceh otonomi luas, hak membentuk partai lokal, serta pengakuan atas identitas keistimewaan Aceh.

Meski sakit-sakitan, Hasan Tiro menyetujui kesepakatan itu. Dari Stockholm, ia merestui lahirnya jalan damai setelah puluhan tahun pertempuran.

Pulang dan Berakhir di Tanah Kelahiran

Setelah lebih dari tiga dekade di pengasingan, Hasan Tiro kembali ke Aceh pada Oktober 2008. Kepulangannya disambut dengan haru, meski ia dalam kondisi lemah dan tak lagi aktif berpolitik.

Pada 2 Juni 2010, pemerintah Indonesia resmi mengembalikan kewarganegaraannya. Sebuah ironi terjadi: hanya sehari setelah itu, pada 3 Juni 2010, ia menghembuskan napas terakhir di Banda Aceh pada usia 84 tahun.

Ia dimakamkan di Meureu, Indrapuri, Aceh Besar, berdampingan dengan buyutnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.

Warisan yang Membelah Sejarah

Kini, seratus tahun setelah kelahirannya, nama Hasan Tiro tetap membelah persepsi.

Bagi pemerintah pusat, ia dikenang sebagai tokoh separatis. Tetapi bagi banyak orang Aceh, ia adalah Wali Nanggroe, pewaris darah pejuang yang tak pernah menyerah.

Warisan Hasan Tiro nyata terlihat dalam: lahirnya MoU Helsinki dan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Terbukanya ruang politik lokal dengan partai-partai Aceh, berdirinya lembaga Wali Nanggroe sebagai simbol persatuan budaya.

Refleksi Seabad Hasan Tiro

Peringatan 100 tahun Hasan Tiro bukan sekadar mengenang kelahiran seorang tokoh, melainkan juga refleksi perjalanan panjang Aceh.

Apakah ia pemberontak atau pejuang? Pahlawan atau musuh negara? Jawabannya bisa berbeda, tergantung dari mana sejarah dibaca.

Namun satu hal pasti: Hasan Tiro adalah sosok yang membentuk arah Aceh modern, dari konflik bersenjata menuju damai yang bersemi.

Seabad Hasan Tiro adalah seabad perdebatan, luka, dan harapan. Dari Tiro ke Stockholm, lalu kembali ke Aceh, ia menutup hidupnya di tanah kelahiran, dengan warisan yang tetap hidup di hati rakyat Aceh.

TAGGED:utama
Previous Article Barmas Nilai Bupati Aceh Selatan Gagal Pahami Reformasi Birokrasi
Next Article Seorang janda berinisial In (27) bersama pemuda TS (22) diamankan usai digerebek warga di sebuah rumah di Gampong Tutong, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Selasa dini hari (23/9). (Foto: Ist) Janda dan Pemuda Digerebek Warga Saat Hendak Pesta Sabu di Matangkuli, Tiga Lainnya Kabur

Populer

Viral Link Video Syakirah Versi Terbaru Berdurasi 16 Menit Beredar di X dan TikTok
Umum
Viral Link Video Syakirah Versi Terbaru Berdurasi 16 Menit Beredar di X dan TikTok
Rabu, 28 Mei 2025
Siapa Andini Permata Videonya Berdurasi 2 Menit 31 Detik Bareng Adiknya Viral di Medsos
Umum
Siapa Andini Permata? Sosok Fiktif di Balik Video 2 Menit 31 Detik yang Jadi Umpan Penipuan Digital
Jumat, 11 Juli 2025
Umum
AKBP Chairul Ikhsan Gantikan Sujoko sebagai Kapolres Aceh Besar
Sabtu, 20 Desember 2025
Terdakwa korupsi dana Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) Aceh Jaya T. Reza Fahlevi, meninggal dunia pada Jum'at malam, 2 Januari 2026. (Foto: Ist)
Hukum
Sekda Nonaktif Terdakwa Korupsi PSR Aceh Jaya Meninggal Dunia  
Sabtu, 3 Januari 2026
LBH-YLBHI melontarkan kritik keras terhadap Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto atas penanganan bencana ekologis yang melanda Aceh-Sumatera selama lebih dari 40 hari terakhir. (Foto: Ist)
Nasional
40 Hari Berlalu, Pemerintahan Prabowo Dinilai Gagal Tangani Bencana Ekologis Aceh-Sumatera
Senin, 5 Januari 2026

Paling Dikomentari

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fad saat melepas pelari bercelana pendek di event olahraga FKIJK Aceh Run 2025 yang digelar di lapangan Blang Padang Banda Aceh, Ahad pagi (11/5). (Foto: Dok. Infoaceh.net)
Olahraga

Tanpa Peduli Melanggar Syariat, Wagub Fadhlullah Lepas Pelari Bercelana Pendek di FKIJK Aceh Run

Sabtu, 11 Oktober 2025
Anggota Komisi III DPR RI asal Aceh, M Nasir Djamil
Aceh

Komisi III DPR RI Minta Polisi Tangkap Gubsu Bobby Terkait Razia Mobil Plat Aceh

Minggu, 28 September 2025
UMKM binaan BRI sukses ekspansi pasar Internasional
Ekonomi

Negara Diam, UMKM Digasak Shopee-Tokopedia-TikTok

Jumat, 25 Juli 2025
Anggun Rena Aulia
Kesehatan & Gaya Hidup

Serba Cepat, Serba Candu: Dunia Baru Gen Z di Media Sosial

Minggu, 19 Oktober 2025
Fenomena penggunaan jasa joki akademik di kalangan dosen untuk meraih gelar profesor mulai menjadi sorotan di Aceh. (Foto: Ilustrasi)
Pendidikan

Fenomena Joki Profesor di Aceh: Ancaman Serius bagi Marwah Akademik

Jumat, 12 September 2025
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
TelegramFollow
WhatsAppFollow
ThreadsFollow
BlueskyFollow
RSS FeedFollow

Berita Lainnya

Pendidikan

Lumpur, Air Mata dan Pengabdian Terakhir Kepala SDN 1 Tualang Cut  

Minggu, 4 Januari 2026
Kondisi rumah warga yang terkubur lumpur akibat banjir bandang di Gampong Blang Awe Kecamatan Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. (Foto: Ist)
Opini

Di Balik Luka dan Tangisan Rakyat Aceh Akibat Kelalaian Negara

Sabtu, 3 Januari 2026
Ketika hukum pidana buruk berada di tangan aparat korup, birokrasi inkompeten dan kekuasaan cenderung otoriter, maka negara sedang menapaki jalur darurat hukum. (Foto: Ist)
Opini

Indonesia dalam Kondisi Darurat Hukum

Sabtu, 3 Januari 2026
Tumpukan kayu di lokasi banjir bandang Kecamatan Serba Jadi Lokop, Aceh Timur, Kamis (1/1/2026). (Foto: Ist)
Ekonomi

Kerugian Sektor Perikanan Aceh Timur Capai Rp2,64 Triliun Akibat Banjir

Sabtu, 3 Januari 2026
Lebih satu bulan pascabanjir bandang dan longsor melanda Aceh, warga korban bencana masih belum mampu membersihkan rumah mereka yang terkubur lumpur setinggi dua hingga empat meter. (Foto: Ist)
Aceh

Tak Mampu Bersihkan Rumah Terkubur Lumpur, Korban Banjir Aceh Minta Bantuan Pemerintah

Jumat, 2 Januari 2026
Presiden Prabowo Subianto saat rapat koordinasi dalam kunjungannya meninjau pembangunan Huntara pengungsi korban banjir bandang dan longsor yang dibangun Danantara di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). (Foto: Ist)
Nasional

Prabowo Koreksi Uang Lelah bagi TNI: Itu Uang Semangat

Jumat, 2 Januari 2026
Sebuah ironi telanjang terkuak dalam skema pembiayaan penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Aceh-Sumatera. (Foto: Ist)
Aceh

Ironi Anggaran Bencana Aceh-Sumatera: Rp165 Ribu per Hari untuk TNI, Pengungsi Banjir Hanya Rp10 Ribu

Jumat, 2 Januari 2026
Puluhan ribu personel TNI yang dikerahkan dalam penanganan bencana Aceh-Sumatera tidak bekerja cuma-cuma. Setiap personel yang bertugas di lapangan memperoleh uang makan dan uang lelah dengan total Rp165 ribu per hari. (Foto: Ist)
Nasional

Tidak Gratis, Personel TNI Tangani Bencana Aceh–Sumatera Terima Uang Rp165 Ribu per Hari

Kamis, 1 Januari 2026
TAMPILKAN LAINNYA
INFOACEH.netINFOACEH.net
Follow US
© 2026 PT. INFO ACEH NET. All Right Reserved.
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
Logo Info Aceh
Selamat datang di Website INFOACEH.net
Username atau Email Address
Password

Lupa password?