Banda Aceh, Infoaceh.net — Di tengah situasi darurat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh saat ini, DPD I Partai Golkar Aceh tetap melaksanakan pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) XII pada Ahad, 30 November 2025, di Hotel Hermes Palace Banda Aceh.
Acara pembukaan berlangsung dengan susunan agenda resmi yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 11.50 WIB.
Berdasarkan dokumen jadwal acara yang diperoleh, kegiatan dimulai dengan rombongan pengurus Partai Golkar memasuki ruangan.
Prosesi pembukaan Musda dilakukan dengan pemukulan rapa’i oleh Wakil Ketua Umum DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia Tanjung, didampingi para unsur pimpinan DPD I Golkar Aceh serta tamu undangan dari unsur Forkopimda Aceh.
Juga dijadwalkan sambutan Gubernur atau Wakil Gubernur Aceh, namun berdasarkan catatan panitia dalam dokumen, kehadiran masih menunggu konfirmasi.
Acara Musda ini digelar saat Aceh masih dalam masa tanggap darurat banjir dan longsor, dengan puluhan korban meninggal dunia, puluhan ribu warga mengungsi, dan beberapa kabupaten sempat terisolir.
Kondisi tersebut memunculkan sorotan dari sebagian publik yang menilai kegiatan politik besar seharusnya mempertimbangkan situasi darurat.
Hingga kini belum ada keterangan resmi apakah Musda akan diiringi agenda khusus untuk respon kebencanaan,
Informasi yang diperoleh menyebutkan musda ini akan dilaksanakan secara musyawarah dan mufakat.
Menurut kabar internal Partai Golkar Aceh, DPP Partai Golkar sudah menunjuk M Salim Fakhry sebagai Ketua DPD Partai Golkar Aceh periode 2025-2030.
Salim Fakhry saat ini menjabat Bupati Aceh Tenggara dan merupakan mantan Anggota DPR RI asal Aceh periode 2019-2024.
“Tapi ketetapan itu ada di musda dan akan ditetapkan dalam musda secara musyawarah dan mufakat atau aklamasi,” seorang pengurus partai Golkar Aceh.
Sebelumnya muncul sejumlah nama yang akan maju dalam musda ke-12 Partai Golkar Aceh.
Seperti Ali Basrah, Teuku Raja Keumangan (TRK), Mukhkis Takabeya, Bustami Hamzah dan M Salim Fakhry.
“Setelah koordinasi denhan DPP, dengan segala pertimbangan, sudah mengarah ke Salim Fakhry,” sebutnya.
Musda Golkar Aceh ini berlangsung ketika situasi kebencanaan di Aceh tengah menjadi perhatian nasional. BNPB melaporkan puluhan korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor dalam beberapa hari terakhir, serta sejumlah wilayah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues yang sempat terisolir akibat akses jalan terputus. Ribuan warga juga masih berada di pengungsian.
Meski mendapat sorotan, panitia Musda menyebutkan bahwa kegiatan telah disesuaikan dengan kondisi Aceh yang sedang dilanda bencana. “Kami terus mengikuti perkembangan situasi lapangan dan memastikan Musda tidak mengganggu proses penanganan bencana yang sedang dilakukan pemerintah,” ujar salah satu panitia pelaksana.
Sejumlah kader menyampaikan bahwa momentum Musda tidak hanya sekadar agenda rutin partai, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan langkah-langkah dukungan politik bagi percepatan penanganan bencana.
Menurut mereka, Golkar Aceh perlu mengambil peran nyata dalam membantu masyarakat yang terdampak.
Sejumlah kader Golkar menilai bahwa kegiatan politik seharusnya ditunda mengingat situasi darurat.
Mereka berharap seluruh elemen, termasuk partai politik, turun langsung memprioritaskan evakuasi, pengiriman bantuan, dan pemulihan pascabencana.
“Kita berharap Musda Golkar ditunda saja sementara, mengingat kondisi Aceh saat ini sedang darurat bencana,” ujar kader senior Partai Golkar Aceh Teuku Raja Keumangan yang juga Bupati Nagan Raya.



