Pidie, Infoaceh.net — Di tengah tanah yang masih basah oleh lumpur dan rumah-rumah yang belum pulih dari hantaman air bah, muncul gelombang lain yang tak kalah melukai: permainan harga sembako dan BBM oleh oknum yang memanfaatkan derita warga yang sedang mengalami bencana.
Banjir bandang yang melanda Aceh bukan hanya merusak bangunan dan harta benda, tetapi juga mengguncang kestabilan kebutuhan hidup sehari-hari rakyat kecil.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh, Drs M. Isa Alima, menyuarakan keresahannya dengan nada tegas namun penuh empati. Ia mengecam keras tindakan sebagian oknum masyarakat maupun pengusaha yang menaikkan harga sembako dan BBM sesuka hati, seakan-akan penderitaan warga hanyalah kesempatan emas untuk meraup keuntungan.
“Para oknum masyarakat atau pengusaha jangan bermain di atas luka masyarakat yang sedang ketimpa musibah. Jangan jadikan banjir sebagai panggung mencari untung besar. Ini pengkhianatan terhadap kemanusiaan,” ujarnya dengan nada yang menggigit nurani.
Sebagai mantan Ketua Komisi C DPRK Pidie, Isa Alima tidak hanya meminta Aparat Penegak Hukum (APH) turun tangan mengawal situasi ini dan menindak tegas praktik menaikkan harga secara liar di tengah bencana, tetapi juga menekankan perlunya perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait.
“Kita mintak APH mengawal oknum-oknum nakal ini. Jangan ada yang meraih kembaran dalam kesempitan masyarakat. Jika kedapatan, tindak tegas. Rakyat sudah cukup menderita,” tegasnya.
Ia juga menambahkan pemerintah, khususnya Pertamina, harus segera menstabilkan harga BBM dan memastikan pasokan tersedia, agar tidak semakin banyak warga yang terluka akibat krisis ini.
Warga di sejumlah titik melaporkan kenaikan harga beras, minyak goreng, telur, hingga gas melon. Lebih parah lagi, stok BBM, baik di pertashop maupun pengecer—hampir tak tersedia, menambah kecemasan masyarakat yang masih terisolasi akibat jalan rusak dan akses logistik yang terbatas.
Seruan Isa Alima mendapat dukungan luas dari tokoh masyarakat. Mereka menegaskan stabilitas harga adalah penyangga utama agar warga tetap mampu bertahan melewati masa-masa penuh lumpur dan duka ini.
Di antara bau lumpur yang belum hilang dan langit yang masih menyimpan sisa-sisa kelabu, suara Ketua PBN Aceh itu menjelma sebuah pengingat: bahwa bencana bukan ruang untuk kerakusan, melainkan panggilan bagi nurani untuk bekerja tanpa pamrih.



