Caracas, Infoaceh.net — Pemerintah Venezuela menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman kolonialis setelah menyatakan bahwa wilayah udara di sekitar negara tersebut seharusnya dianggap tertutup.
Pernyataan Trump itu menuai kecaman keras dari Caracas. Pemerintah Venezuela menilai sikap Presiden AS tersebut sebagai bentuk agresi baru yang berlebihan, ilegal, dan tidak beralasan terhadap kedaulatan serta rakyat Venezuela.
Meski Amerika Serikat tidak memiliki dasar hukum internasional untuk menutup wilayah udara negara lain, unggahan Trump di media sosial dinilai berpotensi menimbulkan kebingungan serius di kalangan maskapai penerbangan internasional. Situasi ini dikhawatirkan mendorong sejumlah perusahaan penerbangan menghindari rute menuju Venezuela.
Amerika Serikat belakangan juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Karibia dengan dalih memerangi penyelundupan narkoba. Namun Presiden Venezuela Nicolás Maduro menolak klaim tersebut dan menilai langkah Washington sebagai manuver politik untuk menggulingkan pemerintahannya.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis:
“Kepada seluruh Maskapai Penerbangan, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Pedagang Manusia, mohon pertimbangkan Wilayah Udara di Atas dan di sekitar Venezuela untuk ditutup seluruhnya.”
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari media internasional.
Peringatan FAA dan Respons Caracas
Pernyataan Trump muncul tak lama setelah Badan Penerbangan Federal AS (FAA) mengeluarkan peringatan kepada maskapai terkait meningkatnya aktivitas militer di dalam dan sekitar wilayah udara Venezuela.
Pemerintah Venezuela menyebut Amerika Serikat juga secara sepihak telah menangguhkan penerbangan repatriasi mingguan bagi migran asal Venezuela.
Caracas pun menyerukan dukungan komunitas internasional.
“Kami menyerukan langsung kepada komunitas internasional, pemerintah berdaulat di dunia, PBB, dan organisasi multilateral terkait untuk dengan tegas menolak tindakan agresi yang tidak bermoral ini,” demikian pernyataan resmi pemerintah Venezuela.
Dalam waktu bersamaan, otoritas Venezuela melarang enam maskapai besar—Iberia, TAP Portugal, Gol, Latam, Avianca, dan Turkish Airlines—untuk mendarat di negaranya karena dinilai tidak mematuhi batas waktu 48 jam yang ditetapkan untuk melanjutkan operasional penerbangan.
Pengerahan Militer AS dan Tuduhan Kartel
Amerika Serikat diketahui mengerahkan kapal induk USS Gerald Ford beserta sekitar 15.000 personel militer ke wilayah yang masih berada dalam jangkauan Venezuela. Washington menyatakan pengerahan ini bertujuan memerangi perdagangan narkoba.
Namun Caracas menilai langkah tersebut sebagai tekanan politik terbuka untuk menjatuhkan Presiden Nicolás Maduro.
Trump bahkan menyebut operasi darat untuk menghentikan perdagangan narkoba Venezuela akan segera dimulai. Militer AS mengklaim telah melakukan sedikitnya 21 serangan terhadap kapal yang dituduh membawa narkoba, yang disebut menewaskan lebih dari 80 orang, meski belum disertai bukti terbuka.
Amerika Serikat juga menetapkan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing, sebuah langkah yang memberi kewenangan luas bagi aparat AS untuk menargetkan jaringan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Venezuela menolak penetapan itu secara tegas, keras, dan mutlak. Sementara Menteri Dalam Negeri dan Kehakiman Venezuela, Diosdado Cabello, yang turut dituding terlibat, menyebut tuduhan tersebut sebagai rekayasa politik.
Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS tetap bersikukuh bahwa Cartel de los Soles benar-benar ada dan telah memengaruhi institusi militer, intelijen, legislatif, hingga yudikatif Venezuela.



