Bireuen, Infoaceh.net — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen mulai membangun sebanyak 1.000 unit rumah hunian tetap (Huntap) bagi korban banjir bandang dan longsor.
Pembangunan perdana ditandai dengan peletakan batu pertama di Gampong Bale Panah, Kecamatan Juli, Rabu (7/1/2026).
Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Bupati Bireuen Mukhlis, didampingi Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen TNI (Purn) Yan Namora, unsur Forkopimda, serta jajaran pemerintah daerah.
Kegiatan tersebut juga dirangkai prosesi peusijuek atau tepung tawar oleh Tgk Ismail Huda (Abu Main), Imum Chik Masjid Al-Assas Gampong Bale Panah.
Keuchik Bale Panah, Muntazar melaporkan, banjir bandang dan longsor yang terjadi pada Rabu, 26 November 2025 lalu telah menyebabkan kerusakan parah di wilayahnya.
Ratusan meter permukiman warga hilang terseret arus Krueng Peusangan.
“Dampaknya, sebanyak 58 unit rumah hilang, 14 rumah tertimbun material longsor, dan 27 unit rumah dalam kondisi rawan ambruk yang tersebar di Dusun Kaye Jatoe, Dusun Barona, serta Dusun Alue U atau Kubang Itam,” ungkapnya.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum juga lenyap akibat bencana tersebut, di antaranya Gedung Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), gedung ketahanan pangan, serta kandang kambing milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang baru dibangun di Dusun Kaye Jatoe.
Muntazar menambahkan, pembangunan Huntap perdana di Gampong Bale Panah dilakukan di atas lahan milik korban yang rumahnya hilang.
Pada tahap awal, satu unit rumah dibangun untuk Zainal Abidin Sulaiman (77) yang terdampak bersama dua anaknya, M. Saiful (36) dan M. Anwar Sadad (39).
Sementara Sekretaris Desa Bale Panah, M. Nur (43), menyebutkan terdapat 25 korban di desanya yang memiliki lahan sendiri untuk pembangunan Huntap.
Lahan tersebut telah dilengkapi dengan surat keterangan keuchik dan fotokopi akta tanah.
“Lahan milik warga tersebar di beberapa gampong di Kecamatan Juli, seperti Bale Panah, Beunyot, Teupin Mane, Buket Mulia, dan beberapa lokasi lainnya,” jelasnya.
Bupati Bireuen Mukhlis menyampaikan dampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Bireuen tersebar di 17 kecamatan.
Secara keseluruhan, lebih dari 3.000 rumah dilaporkan hilang dan rusak berat, serta hampir 16.000 rumah mengalami kerusakan sedang-ringan.
“Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan. Karena itu, kita harus mengambil langkah-langkah bijak agar masyarakat korban bencana dapat terbantu dan bisa menjalankan ibadah puasa dengan nyaman,” kata Mukhlis.
Ia menegaskan, pembangunan 1.000 unit Huntap ini merupakan tahap pertama dan menjadi yang perdana tidak hanya di Bireuen, tetapi juga di Aceh.
Prioritas diberikan kepada korban yang telah memiliki lahan sendiri.
“Ini adalah harapan masyarakat korban banjir. Pembangunan Huntap ini menunjukkan keseriusan Pemkab Bireuen. Kami berharap rumah-rumah ini dapat selesai dan sudah bisa ditempati saat bulan puasa,” ujarnya.
Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen TNI (Purn) Yan Namora menjelaskan bagi korban banjir yang tidak lagi memiliki lahan, pemerintah pusat berharap pemerintah daerah dapat menyiapkan lahan pengganti yang berstatus clear and clean.
Ia juga mengungkapkan, total pembangunan Huntap di Bireuen pada tahap pertama direncanakan sebanyak 3.626 unit. Sementara tahap kedua masih dalam proses pendataan dengan estimasi lebih dari 4.000 unit rumah.
“Sebagian besar masyarakat penerima Huntap telah memiliki lahan sendiri dengan status Sertifikat Hak Milik (SHM), yang menjadi salah satu syarat pembangunan. Untuk rumah rusak sedang diberikan bantuan stimulus sebesar Rp30 juta, dan rumah rusak ringan Rp15 juta per unit,” jelas Yan Namora.



