Oleh: Drs M. Isa Alima (Pemerhati Sosial Budaya dan Kebijakan Publik Aceh)
Malam hari di kota Banda Aceh memiliki pesona tersendiri. Khidmatnya seperti doa yang dilantunkan perlahan, namun sarat makna. Di Bundaran Simpang Lima, denyut nadi ibu kota Provinsi Aceh terasa begitu kuat.
Cahaya lampu menembus kegelapan, memantul di aspal yang basah oleh embun, membingkai monumen kebanggaan kota dengan wibawa yang tenang.
Dari kejauhan, tulisan “Banda Aceh” menyala, seakan menegaskan identitas: inilah pusat kota, tempat berbagai arah bertemu dan nilai-nilai diuji.
Bundaran Simpang Lima di waktu malam bukan sekadar ruang lalu lintas. Ia adalah panggung peradaban. Di sana, monumen menjulang ke langit, simbol harapan dan keteguhan. Kendaraan bergerak tertib, mengikuti irama lampu lalu lintas yang setia bekerja tanpa lelah.
Lampu merah menyala, tegas namun bijak, mengingatkan setiap pengendara untuk berhenti, menahan laju, dan memberi ruang bagi keselamatan bersama.
Di sudut pandang mata, terpampang jelas lampu peringatan bertuliskan “Taati Rambu Lalu Lintas dan Marka Jalan”. Kalimat itu sederhana, namun sarat makna.
Ia bukan sekadar imbauan teknis, melainkan seruan moral. Di kota yang menjunjung tinggi syariat, ketaatan di jalan raya adalah cerminan ketaatan dalam hidup.
Disiplin berlalu lintas adalah wujud kecil dari akhlak besar: menghormati hak orang lain, menahan ego dan mendahulukan kemaslahatan bersama.
Keindahan panorama Simpang Lima pada malam hari mengajarkan kita bahwa estetika sejati tidak berdiri sendiri.
Cahaya lampu akan kehilangan maknanya jika diiringi kebut-kebutan. Monumen akan tampak hampa bila aturan diabaikan.
Kota akan kehilangan rohnya bila warganya abai pada tertib dan adab. Karena itu, keindahan visual harus berjalan seiring dengan keindahan perilaku.
Banda Aceh adalah Serambi Mekkah. Sebutan itu mengandung amanah sejarah, budaya dan spiritual. Kota ini bukan hanya etalase bangunan dan tata kota, melainkan miniatur Provinsi Aceh, cermin nilai, sikap, dan arah masa depan.
Maka, ketika lampu lalu lintas dipatuhi dan marka jalan dihormati, sesungguhnya kita sedang merawat wajah Aceh di mata dunia.
Di Simpang Lima, malam menjadi guru yang diam. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu bising. Ia hadir dalam keteraturan, dalam kesabaran menunggu lampu hijau, dalam kesediaan berhenti walau jalan tampak lengang.
Di sanalah kota ini menemukan martabatnya: ketika warganya memilih taat, bukan karena diawasi, tetapi karena sadar.
Keindahan Bundaran Simpang Lima di waktu malam adalah undangan refleksi. Bahwa hidup, seperti lalu lintas, membutuhkan rambu.
Bahwa kebebasan tanpa aturan hanya akan melahirkan kekacauan. Dan bahwa Aceh, dengan seluruh kekhasan syariahnya, menuntut keselarasan antara cahaya fisik dan cahaya nurani.
Jika keindahan kota diikuti oleh keindahan menaati aturan, maka Banda Aceh tidak hanya akan terang di malam hari, tetapi juga bercahaya dalam peradaban.
Dari Simpang Lima, pesan itu mengalir ke setiap sudut kota: tertib adalah keindahan, taat adalah kemuliaan dan disiplin adalah jalan sunyi menuju keselamatan dunia dan akhirat.



