Jakarta, Infoaceh.net – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali berlanjut pada perdagangan Selasa (13/1/2026).
Di pasar spot, mata uang Garuda ditutup melemah 0,21 persen ke level Rp16.860 per dolar AS, mencatatkan titik terendah sejak April 2025 dan mendekati rekor terendah historisnya.
Faktor Eksternal dan Geopolitik Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan global, mulai dari konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan hingga dinamika hubungan AS-Venezuela dan ketegangan China-Taiwan.
Situasi ini mendorong investor global beralih ke aset aman (safe haven), yang memicu penguatan dolar AS secara masif.
Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyebutkan bahwa arus modal keluar (capital outflow) dari pasar surat utang negara menjadi motor utama pelemahan. “Investor cenderung mengamankan keuntungan di tengah risiko global yang tinggi,” jelasnya.
Tantangan Domestik dan Harga Minyak Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dunia turut memberikan sentimen negatif.
Hal ini memicu kekhawatiran pelebaran defisit transaksi berjalan akibat membengkaknya biaya impor energi. Secara teknikal, analis melihat level Rp16.992 sebagai batas atas pergerakan.
Meski peluang rupiah menembus level Rp16.900 masih terbuka lebar, Bank Indonesia diyakini akan tetap berada di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi guna mencegah volatilitas yang terlalu tajam.
Hingga akhir tahun 2026, nilai tukar diproyeksikan akan bergerak stabil di kisaran Rp16.700 per dolar AS.



