Surat Warga

Etika Komunikasi di Tengah Bencana, Kata-kata Jangan Jadi Luka Baru

Banda Aceh, Infoaceh.net — Di tengah suasana duka yang menyelimuti masyarakat Aceh akibat bencana banjir bandang dan longsor, etika komunikasi menjadi hal penting yang harus dijaga oleh semua pihak.
Cara berbicara, menyampaikan pendapat, maupun merespons keluhan warga terdampak bencana dinilai dapat menjadi penguat, namun juga berpotensi menambah luka baru jika tidak disampaikan dengan empati.
Hal tersebut disampaikan Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Drs M. Isa Alima, pada Sabtu (17/1/2026).
Ia menegaskan, masyarakat yang terdampak bencana berada dalam kondisi psikologis yang sangat rentan, sehingga setiap pernyataan yang muncul ke ruang publik harus diungkapkan dengan kehati-hatian.
“Warga terdampak sedang mengalami tekanan berat, kehilangan, dan ketidakpastian. Jangan sampai kata-kata yang kita sampaikan justru melukai perasaan mereka dan menambah beban trauma,” ujar Isa Alima.
Menurutnya, komunikasi yang tidak sensitif, bernada menyalahkan, atau mengabaikan kondisi emosional korban bencana dapat memicu keresahan sosial, memperkeruh suasana, bahkan membuka kembali luka lama yang belum pulih.
Karena itu, etika komunikasi harus menjadi panduan utama, baik bagi pejabat publik, tokoh masyarakat, media massa, maupun masyarakat umum.
Isa Alima menekankan bahwa pada masa krisis, informasi dan pernyataan seharusnya disampaikan secara akurat, menenangkan, serta mengedepankan empati dan rasa kemanusiaan.
Ia mengingatkan agar semua pihak menahan diri dari pernyataan yang berpotensi menimbulkan polemik atau perpecahan di tengah situasi yang sulit.
“Di saat seperti ini, kata-kata seharusnya menjadi penyejuk hati dan penguat jiwa. Bukan justru menjadi sumber luka baru bagi masyarakat yang sedang berduka,” tegasnya.
Ia juga menyoroti jeritan dan keluhan warga terdampak yang kerap disampaikan secara spontan.
Menurutnya, hal tersebut merupakan luapan duka dan tekanan batin yang dialami korban bencana, sehingga perlu disikapi dengan sikap mendengar yang tulus dan respons yang penuh empati.
“Jeritan warga lahir dari penderitaan yang mereka alami. Maka kita harus peka dalam mendengarkan dan meresponsnya, bukan menghakimi atau menyederhanakan rasa sakit mereka,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ketua Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Ia menilai bahwa bencana bukan hanya ujian dari alam, tetapi juga ujian empati dan tanggung jawab sosial semua pihak.
“Cara kita berkomunikasi di tengah bencana mencerminkan kualitas empati dan kepedulian kita sebagai masyarakat. Mari pastikan kata-kata yang kita ucapkan menjadi penguat, bukan luka baru,” pungkasnya.

Beri Komentar

Artikel Terkait