Takengon, Infoaceh.net — Peran media lokal dalam penanganan dan peliputan bencana banjir bandang dan longsor di Aceh Tengah pada 26 November 2025 lalu tidak mendapat penghargaan yang semestinya dari Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan.
Pernyataan yang disampaikannya saat masa darurat bencana bahkan disebut melukai martabat wartawan lokal yang selama ini menjadi garda terdepan menyuarakan kondisi masyarakat dan kerusakan lingkungan.
Media lokal, selain ikut terdampak langsung oleh bencana, juga berperan penting dalam menyampaikan informasi terkini, jeritan korban, serta kondisi lapangan kepada publik dan pemangku kebijakan.
Namun di tengah situasi krisis tersebut, Muchsin Hasan justru dinilai merendahkan peran media lokal.
Pernyataan itu disampaikan Muchsin kepada bawahannya beberapa hari lalu, saat situasi darurat bencana, di Posko Utama Penanganan Bencana, Kompleks Setdakab Aceh Tengah.
Dalam arahannya, Muchsin disebut meminta agar wartawan lokal tidak perlu dilayani dan meminta jajaran pemerintah daerah hanya fokus melayani wartawan nasional.
Pernyataan tersebut bahkan disampaikan menggunakan istilah berbahasa Gayo dan terdengar langsung oleh sejumlah wartawan yang sedang meliput di lokasi.
“Media pemberitaannya hanya sampai ke Toweren, tidak perlu dilayani. Fokus saja kepada wartawan nasional,” demikian kutipan pernyataan Muchsin yang didengar langsung oleh para jurnalis di posko bencana.
Meski pernyataan itu ditujukan kepada internal pemerintahan, namun karena diucapkan di ruang terbuka, sejumlah wartawan lokal yang sedang bertugas mendengarnya secara langsung.
Salah satunya adalah Yusra Efendi, jurnalis yang saat itu aktif meliput penanganan bencana.
“Saya mendengar langsung pernyataan itu. Saat bencana, kami bekerja menyampaikan kondisi daerah kepada publik. Namun ucapan tersebut sangat melukai dan masih membekas sampai hari ini,” ujar Yusra Efendi, Senin (19/1/2026).
Reaksi keras juga datang dari Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh Tengah, Jurnalisa. Ia menilai pernyataan Wakil Bupati Aceh Tengah tersebut sangat tidak pantas dan mencerminkan sikap yang tidak memahami fungsi dan peran pers.
“Harusnya sebagai orang nomor dua di daerah ini, beliau paham fungsi media. Pernyataannya seperti kacang lupa kulitnya, sangat gegabah, dan justru bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri,” kata Jurnalisa, Senin (19/1/2026).
Menurut Jurnalisa, Muchsin Hasan seolah melupakan peran besar media lokal dalam perjalanan karier politiknya, baik saat menjadi Anggota DPRK hingga terpilih sebagai Wakil Bupati Aceh Tengah.
“Dia lupa bahwa media lokal yang selama ini ikut membesarkan namanya. Sosok politisi seperti itu hanya mengingat media saat dirinya diuntungkan, lalu merendahkan media lokal yang telah membuatnya dikenal publik,” tegasnya.
Ia menambahkan, Muchsin Hasan secara politis “lahir dari rahim media lokal” sehingga seharusnya lebih bijak dalam menjaga ucapan dan sikap terhadap insan pers.
“Jangan lukai pers dan jangan lupa daratan. Ucapan seperti itu sangat melukai kebebasan pers dan berpotensi menghambat kerja jurnalistik,” lanjut Jurnalisa.
Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Aceh Tengah sekaligus Wakil Bupati, lanjutnya, Muchsin Hasan seharusnya menunjukkan kedewasaan dan sikap negarawan dalam menghadapi media, bukan justru merendahkan peran wartawan lokal yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah daerah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi atau pernyataan resmi dari Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan terkait pernyataan tersebut.
Editor: Muhammad Saman
















