Pendidikan

Prof Ali Ramdhani: Kampus Keagamaan Tak Boleh Asyik dengan Dirinya Sendiri

Banda Aceh, Infoaceh.net — Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof Dr Muhammad Ali Ramdhani menegaskan, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik internal dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya.
Penegasan itu disampaikan Ali Ramdhani saat memberikan pembinaan kepada aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia (SDM) di PTKIN harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berorientasi pada penguatan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan pembentukan perilaku.
“Pengembangan SDM itu objek sekaligus subjeknya adalah manusia. Karena itu, yang diubah bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan perilaku,” ujarnya di hadapan dosen dan tenaga kependidikan.
Ali Ramdhani menekankan karakter manusia tidak dibentuk oleh tindakan sesaat, melainkan oleh kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Mengutip pemikiran Aristoteles, ia menyebutkan bahwa kualitas seseorang tidak bisa dinilai melalui evaluasi singkat.
“Menilai seseorang tidak bisa dengan one-shot evaluation. Yang dilihat adalah kebiasaan,” katanya.
Ia menjelaskan, kebiasaan dibangun dari tiga unsur utama, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kemauan atau usaha (effort). Ketiga unsur tersebut menjadi fondasi pembentukan karakter sekaligus kualitas SDM unggul.
Ali Ramdhani juga mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada tataran konseptual.
Menurutnya, ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan perilaku yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ilmu harus bergerak dari kepala, hati, hingga tangan. Tidak cukup dipahami, tetapi harus diimplementasikan,” tegasnya.
Dalam konteks PTKIN, ia menilai keselarasan antara iman, ilmu, dan amal merupakan ciri utama SDM unggul. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kecerdasan emosional, khususnya dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
“Jangan pernah mengambil keputusan saat marah. Setengah kecerdasan Anda hilang pada saat itu,” ujarnya.
Ali Ramdhani menegaskan perguruan tinggi keagamaan tidak boleh terlepas dari dinamika masyarakat.
“Kampus keagamaan tidak boleh asyik dengan dirinya sendiri. Ia harus hadir sebagai mercusuar yang memberi arah dan menerangi,” katanya.
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Mujiburrahman MAg menyampaikan, pembinaan ASN tersebut memiliki arti strategis, terutama dalam memperkuat layanan akademik dan administrasi di awal tahun.
Ia menyebutkan arah pengembangan UIN Ar-Raniry sejalan dengan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 yang menargetkan penguatan kelembagaan serta peningkatan daya saing nasional dan internasional.
Rektor juga memaparkan sejumlah capaian institusi, di antaranya perolehan akreditasi unggul dengan nilai 3,73, peningkatan jumlah guru besar dari 23 orang pada 2022 menjadi 60 orang saat ini, serta 33 dari 59 program studi yang telah berstatus Akreditasi Unggul.
Di bidang publikasi ilmiah, UIN Ar-Raniry memiliki 108 jurnal aktif, lima di antaranya terindeks Scopus Q1, serta 58 jurnal terakreditasi nasional.
Selain itu, kerja sama internasional juga terus diperluas, termasuk dengan Mohamed Bin Zayed University for Humanities.
UIN Ar-Raniry memperoleh dukungan Kementerian Agama RI melalui pengusulan pendanaan proyek strategis dengan skema Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN) untuk revitalisasi gedung kampus pascatsunami.
“Kami berharap pembinaan ini menjadi penguat langkah UIN Ar-Raniry dalam meningkatkan kualitas SDM serta layanan akademik ke depan,” pungkas Rektor.
Editor: Muhammad Saman 

Beri Komentar

Artikel Terkait