Ekonomi

Meski Terdampak Bencana, BPMA Optimis Kejar Target Produksi Migas 2026  

Banda Aceh, Infoaceh.net — Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) tetap optimistis dapat mengejar target produksi minyak dan gas bumi (migas) pada 2026 meskipun kinerja operasional terdampak sejumlah bencana dan insiden fasilitas produksi yang terjadi sepanjang 2025.

Kepala BPMA Nasri mengatakan prospek peningkatan lifting migas Aceh pada 2026 masih terbuka, asalkan dibarengi pengawasan yang ketat dan langkah penanganan operasional yang tepat.
Menurut Nasri, kenaikan target lifting tahun 2026 menjadi tantangan besar bagi BPMA. Pasalnya, pada 2025 terjadi sejumlah kejadian tak terduga, seperti bencana banjir dan longsor di wilayah kerja migas serta kebakaran tangki F-2101 di Arun.
“Peristiwa tersebut memengaruhi kemampuan operasional produksi, terutama terhadap capaian lifting 2026 di tingkat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS),” ujar Nasri, Sabtu (7/2).
BPMA menetapkan target lifting 2026 sebesar 1.880 barel per hari (BOPD) untuk kondensat dan 48,40 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk gas.
Berdasarkan target Work Program & Budget (WP&B) 2026, total lifting gabungan gas dan minyak ditetapkan mencapai 10.519 barel setara minyak per hari (BOEPD).
Produksi migas Aceh pada 2026 ditopang oleh wilayah kerja yang saat ini aktif berproduksi, yakni Wilayah Kerja A yang dioperatori PT Medco E&P Malaka, Wilayah Kerja B oleh PT Pema Global Energi, serta Wilayah Kerja Pase yang dioperasikan Triangle Pase Inc.
Namun, dampak bencana banjir dan longsor pada 2025 masih cukup memengaruhi stabilitas produksi tahun ini.
Nasri menjelaskan sejumlah faktor yang berpotensi menjadi tantangan produksi, antara lain kebutuhan peremajaan fasilitas produksi, upaya mengurangi ketergantungan pada fasilitas pihak lain yang membuat operasi dan perawatan tidak sepenuhnya dapat ditangani langsung oleh KKKS, serta ketersediaan peralatan untuk kegiatan peningkatan produksi seperti pengeboran (drilling), workover, dan well service.
Selain itu, pascakebakaran tangki F-2101 di Arun, diperlukan penyesuaian penyaluran kondensat.
BPMA mengimplementasikan skema injeksi kondensat selama sekitar tiga bulan.
Kebijakan tersebut berdampak pada capaian lifting minyak, sementara produksi gas tetap berada pada level 48,40 MMSCFD.
Akibatnya, produksi minyak tercatat turun menjadi 1.603 BOPD sehingga total lifting gabungan gas dan minyak menjadi 10.246 BOEPD.
Dengan demikian, terdapat penurunan capaian lifting sebesar 273 BOEPD dibandingkan target WP&B 2026.
Penurunan ini didominasi oleh berkurangnya produksi minyak selama periode injeksi kondensat pascainsiden tangki F-2101.
Di sisi lain, BPMA mencatat adanya peluang penguatan produksi melalui penambahan wilayah kerja baru.
Saat ini, beberapa wilayah kerja berstatus open area telah diminati calon KKKS, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
BPMA bersama KKKS terus mengupayakan langkah-langkah strategis agar produksi minyak pascainsiden dapat kembali optimal.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas capaian lifting minyak sekaligus meminimalkan penurunan total produksi agar tetap mendekati target yang telah ditetapkan dalam WP&B 2026.

Beri Komentar

Artikel Terkait