Banda Aceh, Infoaceh.net — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, melaporkan tingginya harga tiket pesawat rute Aceh–Jakarta kepada Direktur Utama PT Garuda Indonesia saat menghadiri peresmian fasilitas haji di Banda Aceh.
Ia menyampaikan keprihatinan bahwa biaya penerbangan langsung dari Aceh ke Jakarta justru lebih mahal dibanding perjalanan transit melalui Kuala Lumpur.
Menurut Fadhlullah, kondisi tersebut dinilai ironis dan memberatkan masyarakat. Ia meminta pihak maskapai mempertimbangkan penyesuaian harga tiket agar lebih terjangkau, sejalan dengan kebutuhan mobilitas warga Aceh.
Selain persoalan harga tiket, Fadhlullah juga berharap Garuda Indonesia dapat kembali membuka rute Banda Aceh–Medan. Ia menilai rute tersebut penting untuk memperkuat konektivitas Aceh dengan Sumatera Utara serta menunjang aktivitas ekonomi, pemerintahan, dan sosial masyarakat.
Wagub juga mendorong pembukaan penerbangan reguler langsung bagi jamaah umrah rute Aceh–Arab Saudi.
Ia menyebut jumlah jamaah umrah asal Aceh mencapai lebih dari 30 ribu orang per tahun, sehingga membutuhkan dukungan konektivitas udara yang memadai.
“Di bawah kepemimpinan Dirut Garuda, kami berharap dapat dilakukan penyesuaian sehingga harga tiket dan hal terkait lainnya yang selama ini memberatkan dapat teratasi,” ujar Fadhlullah.
Ia juga mengingatkan Aceh memiliki status kekhususan sesuai amanat Undang-undang, sehingga kebijakan pusat diharapkan tetap mengedepankan karakteristik daerah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Fadhlullah saat menghadiri peresmian pesawat simulasi dan Gedung A2 Grand Misfalah di Asrama Haji Kelas I Aceh, Ahad (15/2/2026).
Peresmian dilakukan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak, bersama Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan. Kegiatan itu turut disaksikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Direktur Utama Citilink, Anggota DPR RI TA Khalid, unsur Forkopimda, kepala SKPA terkait, serta jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh.
Dalam sambutannya, Fadhlullah menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Haji dan Umrah dan Garuda Indonesia atas dukungan peningkatan fasilitas pelayanan haji di Aceh.
Ia menegaskan kehadiran pesawat simulasi dan Gedung A2 merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan bagi calon jamaah haji.
Menurutnya, pesawat simulasi tersebut merupakan wahana manasik pertama di Indonesia yang menggunakan badan pesawat asli, sehingga memberikan pengalaman nyata bagi jamaah dalam memahami proses penerbangan dan prosedur keselamatan.
Fasilitas itu diharapkan mampu meningkatkan kesiapan teknis dan mental jamaah sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, sementara Gedung A2 Grand Misfalah memperkuat kapasitas pemondokan dengan standar layanan yang lebih nyaman.
Pada kesempatan itu, Fadhlullah juga mengaitkan kehadiran pesawat simulasi dengan sejarah perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menyinggung peran Aceh saat Agresi Militer Belanda 1947–1948 serta kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh pada 16 Juni 1948 untuk menggalang dana pembelian pesawat bagi republik yang tengah diblokade.
Dana yang terkumpul dari para saudagar GASIDA dan masyarakat Aceh digunakan untuk membeli pesawat Dakota DC-3 yang menjadi cikal bakal Indonesian Airways dan kemudian berkembang menjadi Garuda Indonesia.
Pesawat yang dikenal sebagai Seulawah RI 001 itu menjadi simbol solidaritas rakyat Aceh bagi kelangsungan republik.
“Semua ini adalah bukti dan kenyataan betapa rakyat Aceh mencintai republik ini,” kata Fadhlullah.





















