Banda Aceh, Infoaceh.net — Dewan Dakwah Aceh (DDA) mengirimkan 16 dai dan daiyah Kafilah Dakwah Ramadan 1447 Hijriah untuk bertugas di sejumlah wilayah perbatasan Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).
Prosesi pelepasan para dai itu berlangsung di Markas Dewan Dakwah Aceh, Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Senin sore (16/2/2026).
Program dakwah tahunan tersebut menyasar sejumlah desa di wilayah Sumatera Utara, yakni Desa Mahala, Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Bharat, Desa Gunung Meriah, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Kabupaten Dairi, Desa Gunungtua, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Desa Juma Gerat, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi dan Kampung Jawa Bawah, Desa Lau Bagot, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi.
Selain itu, para da’i juga ditugaskan ke wilayah perbatasan Aceh, meliputi Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Singkil, dan Kabupaten Aceh Tengah.
Direktur ADI Aceh, Abizal Muhammad Yati MPd PhD menegaskan Kafilah Dakwah Ramadan bukan sekadar agenda rutin, melainkan amanah pengabdian kepada umat.
“Kafilah Dakwah ini bukan hanya tugas seremonial. Para dai membawa amanah besar untuk menghidupkan masjid melalui salat berjamaah, mengajar anak-anak, membina remaja, serta hadir membantu masyarakat dalam berbagai kebutuhan dakwah,” ujar Abizal.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran dai sebagai teladan di tengah masyarakat.
“Jadilah dai yang dekat dengan masyarakat, yang kehadirannya dirindukan, bukan sekadar datang untuk berceramah lalu pergi. Dakwah harus menyentuh dan memberi solusi,” tambahnya.
Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Prof Dr Muhammad AR MEd menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dan semangat dakwah selama menjalankan tugas di lapangan.
“Dakwah adalah jalan para nabi. Jalan ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi penuh kemuliaan di sisi Allah. Setiap langkah dakwah adalah ibadah yang bernilai besar,” ungkapnya.
Prof Muhammad AR berharap melalui program Kafilah Dakwah Ramadan 1447 Hijriah ini, syiar Islam semakin menguat, masjid-masjid semakin makmur dan generasi muda di wilayah perbatasan Aceh dan Sumatera Utara mendapatkan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan.
Selain itu para da’i juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat di lokasi penugasan.
“Ketika dai hadir, masyarakat harus merasa terbantu, merasa dilayani, dan merasakan bahwa Islam benar-benar hadir membawa rahmat,” pungkasnya.





















