Jakarta, Infoaceh.net – Emas semakin mengukuhkan posisinya sebagai aset investasi unggulan dalam beberapa tahun terakhir. Logam mulia yang dikenal sebagai instrumen lindung nilai ini tercatat mengalami kenaikan harga lebih dari 230 persen sejak 2020.
Lonjakan harga tersebut tidak hanya menarik minat investor ritel, tetapi juga mendorong bank sentral di berbagai negara untuk meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi cadangan devisa.
Selain berfungsi sebagai aset aman (safe haven), emas dinilai semakin penting di tengah ketegangan geopolitik, fluktuasi nilai tukar, serta upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat. Bagi banyak bank sentral, emas dianggap sebagai aset yang netral secara politik sekaligus penopang stabilitas keuangan.
Data World Gold Council menunjukkan bahwa 15 negara dengan pembelian terbesar secara kolektif menambah hampir 2.000 ton emas sepanjang periode 2020–2025. Gelombang akumulasi ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.
Berdasarkan laporan Visual Capitalist, berikut sepuluh negara dengan pembelian emas terbanyak selama lima tahun terakhir:
China menempati posisi teratas dengan penambahan lebih dari 350 ton emas. Kebijakan ini sejalan dengan strategi Beijing untuk mendiversifikasi cadangan devisa serta mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
Polandia berada di posisi kedua setelah menambah sekitar 314,6 ton emas guna memperkuat stabilitas finansial jangka panjang. Sementara itu, Turki meningkatkan cadangan emas sebesar 251,8 ton sebagai langkah menghadapi tekanan terhadap mata uang domestiknya.
India juga tercatat menambah sekitar 245,3 ton emas untuk menjaga ketahanan ekonomi eksternal di tengah dinamika global. Brasil melengkapi lima besar dengan penambahan sekitar 105,1 ton sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset cadangan.
Negara lain yang turut meningkatkan kepemilikan emas antara lain Azerbaijan (83,6 ton), Jepang (80,8 ton), Thailand (80,6 ton), Hungaria (78,5 ton), dan Singapura (77,3 ton).
Di sisi lain, beberapa negara seperti Filipina dan Kazakhstan justru mengurangi cadangan emasnya dalam periode yang sama. Perbedaan kebijakan tersebut menunjukkan bahwa emas kini menjadi instrumen yang fleksibel dalam strategi pengelolaan cadangan devisa.
Jika ketidakpastian ekonomi global berlanjut, tren pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.


















