BIREUEN, Infoaceh.net – Sebanyak 45 anak dari tingkat TK, PAUD hingga SD di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, diduga mengalami keracunan makanan pada Kamis (26/2/2026) malam.
Puluhan korban yang mayoritas masih berusia anak-anak itu mengalami gejala muntah dan diare setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan pada sore hari.
Peristiwa ini sontak menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua dan masyarakat setempat.
Para korban awalnya berdatangan ke Puskesmas Simpang Mamplam untuk mendapatkan penanganan medis. Namun karena keterbatasan kapasitas, sebagian pasien terpaksa dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.
Kepala Puskesmas Simpang Mamplam, Suryani, kepada wartawan mengatakan pihaknya telah merawat 13 siswa hingga Kamis malam.
“Korban terus bertambah, sebagian korban juga dirawat di sejumlah Polindes dalam Kecamatan Simpang Mamplam,” ujar Suryani.
Menurutnya, para siswa mulai berdatangan ke puskesmas setelah waktu berbuka puasa. Mereka diduga mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG yang dibagikan pada sore hari.
Karena lonjakan pasien, sejumlah anak kemudian dirujuk ke Puskesmas Pandrah dan Puskesmas Samalanga.
Beberapa lainnya bahkan harus mendapatkan penanganan lanjutan di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Fauziah Bireuen.
Dugaan Mengarah ke Menu Bakso
Informasi yang diperoleh menyebutkan MBG tersebut disalurkan oleh Yayasan Bumi Produksi Gizi.
Perwakilan yayasan, Zamzami, mengatakan pihaknya masih menelusuri penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
“Kita sedang mengecek dari pemasok, di mana permasalahannya. Karena kami mengambil bahan dari supplier UMKM lokal. Informasi sementara mungkin di menu bakso,” kata Zamzami.
Ia menambahkan, pihaknya telah menurunkan tim untuk memeriksa seluruh rangkaian proses, mulai dari bahan baku, pengolahan, hingga penyajian makanan.
“Apakah dari menu atau proses lainnya, semua harus dicek. Kami berharap tidak ada korban lanjutan. Soal pertanggungjawaban, tentu kami bertanggung jawab dan akan mengevaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Menurut Zamzami, selama bulan suci Ramadan pihaknya juga menyediakan menu kering sebagai alternatif, dan seluruh menu yang dibagikan telah melalui pengawasan ahli gizi.
Berdasarkan keterangan sejumlah orang tua, menu MBG yang dibagikan pada hari itu terdiri dari bakso, susu kotak, kue, kurma, telur rebus, kerupuk tempe, pisang ayam, serta kacang-kacangan.
Sebagian besar anak mengonsumsi makanan tersebut saat berbuka puasa bersama keluarga di rumah.
Hingga berita ini diturunkan, belum dapat dipastikan secara ilmiah makanan mana yang menjadi penyebab keracunan massal tersebut. Namun dugaan sementara mengarah pada salah satu menu dalam paket MBG.
Darmawati, warga Desa Krueng Meuseugop, menuturkan anaknya, Muhammad Alvin, mulai muntah sekitar satu jam setelah menyantap bakso dari paket MBG yang diambil dari TK setempat.
“Sore kemarin anak saya ambil MBG di TK Krueng Meuseugop, dibawa pulang. Sekitar satu jam setelah makan bakso, dia muntah-muntah,” ujarnya.
Melihat kondisi anaknya memburuk, Darmawati segera membawa Alvin ke Puskesmas Simpang Mamplam untuk mendapatkan perawatan.
Kisah serupa dialami Jauhari Hasballah dan istrinya, Nur Afni, warga Meunasah Dayah. Anak mereka, Muhammad Khairil Rizami (7), murid kelas 1 SD, juga mengalami muntah dan diare setelah mengonsumsi menu MBG yang diambil sekitar pukul 17.00 WIB.
Awalnya, sang ibu mencoba memberikan larutan gula dan garam untuk mengatasi dehidrasi.
Namun karena kondisi tak kunjung membaik, Khairil akhirnya dibawa ke Puskesmas Simpang Mamplam untuk penanganan medis lebih lanjut.
Hingga Kamis malam, jumlah siswa yang diduga terdampak terus bertambah dan sebagian masih dalam observasi tenaga medis. Pihak terkait diharapkan segera melakukan uji sampel makanan guna memastikan penyebab kejadian, sekaligus menjamin keamanan program MBG ke depan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.



















