Pendidikan

Mahasiswa Myanmar Ungkap Pengalaman Positif Kuliah di USK dan Kehangatan Warga Aceh

Banda Aceh, Infoaceh.net — Pengalaman kuliah di luar negeri kerap menjadi tantangan sekaligus peluang berharga bagi mahasiswa internasional.

Hal itu pula yang dirasakan Htet Htet Hlaing (23), mahasiswa asal Myanmar yang kini menempuh pendidikan di Program Kelas Internasional Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Selama menjalani masa studi di Banda Aceh, Htet mengaku memperoleh pengalaman akademik yang positif, sekaligus merasakan kehangatan budaya masyarakat setempat yang membuatnya betah tinggal jauh dari kampung halaman.

Ia menjelaskan sistem pembelajaran di kelas internasional yang didominasi penggunaan bahasa Inggris sangat membantunya dalam memahami materi perkuliahan serta berpartisipasi aktif dalam diskusi.

Meski sempat menghadapi kendala ketika beberapa mata kuliah disampaikan dalam Bahasa Indonesia, ia mampu beradaptasi seiring waktu.

“Seiring waktu, saya mulai terbiasa dan merasa lebih nyaman mengikuti perkuliahan di sini,” ujarnya, Selasa (7/4).

Htet juga memberikan apresiasi terhadap para dosen di Universitas Syiah Kuala yang dinilainya ramah, terbuka, dan suportif terhadap mahasiswa, termasuk mahasiswa asing.

Baca Juga:  DAMASQUSS V Dayah Darul Quran Aceh Berakhir, MAS RIAB dan MTsN 1 Banda Aceh Juara Umum

Menurutnya, para pengajar tidak hanya fokus pada penyampaian materi, tetapi juga aktif mendorong mahasiswa untuk berdiskusi serta tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan.

“Saya merasa sangat terbantu karena para dosen selalu bersedia memberikan bimbingan dan membantu saya memahami materi,” tambahnya.

Di luar ruang kelas, kehidupan kampus di Universitas Syiah Kuala disebutnya sangat dinamis. Beragam kegiatan kemahasiswaan membuka peluang besar untuk mengembangkan diri dan memperluas jaringan pertemanan lintas jurusan maupun budaya.

Tak hanya kehidupan akademik, pengalaman sosial Htet di Banda Aceh juga meninggalkan kesan mendalam.

Ia menilai masyarakat Aceh memiliki kebanggaan kuat terhadap budaya dan bahasa daerah, yang tercermin dalam interaksi sehari-hari.

“Bahkan dalam percakapan sederhana, seperti saat menggunakan transportasi online, saya sering diajarkan beberapa kata dalam bahasa Aceh. Hal itu terasa sangat hangat dan menyenangkan,” ungkapnya.

Menurutnya, rasa ingin tahu masyarakat terhadap dirinya sebagai mahasiswa asing justru membuka ruang dialog yang positif.

Baca Juga:  Alumni Harvard Reza Idria Jadi Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry

Ia kerap mendapat pertanyaan mengenai alasan memilih Banda Aceh sebagai tempat studi, terutama karena daerah ini dikenal dengan nilai-nilai Islam yang kental.

Namun, ia memandang hal tersebut sebagai kesempatan untuk saling bertukar pengalaman dan memperdalam pemahaman lintas budaya.

“Percakapan seperti ini membuat saya lebih memahami identitas dan tradisi masyarakat Aceh, sekaligus belajar menghargai perbedaan,” katanya.

Selain itu, pesona alam Banda Aceh turut menjadi bagian penting dalam perjalanan studinya.

Keindahan pantai saat matahari terbenam serta lanskap pegunungan di sekitarnya memberikan ketenangan di tengah kesibukan akademik.

“Banda Aceh adalah tempat yang membuat saya merasa dekat dengan alam dan menemukan ketenangan,” ujarnya.

Pengalaman Htet Htet Hlaing menjadi gambaran nyata bahwa Universitas Syiah Kuala tidak hanya menawarkan kualitas pendidikan yang baik, tetapi juga lingkungan yang inklusif serta kaya akan nilai budaya.

Kombinasi tersebut menjadikan kampus ini semakin diminati oleh mahasiswa internasional dari berbagai negara.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait