Ekonomi

Ekspor Kelapa Sawit Aceh Melonjak, Devisa Tembus Rp360 Miliar hingga April 2026

Banda Aceh, Infoaceh.net – Kinerja ekspor komoditas kelapa sawit Aceh menunjukkan tren positif yang signifikan pada awal tahun 2026.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh mencatat lonjakan drastis nilai devisa ekspor komoditas kelapa sawit, baik Crude Palm Oil (CPO) maupun Palm Kernel Shell (PKS) atau cangkang sawit, yang diekspor langsung melalui pelabuhan di Aceh.

ADVERTISMENT
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Berdasarkan data kepabeanan periode Januari hingga April 2026, total nilai devisa ekspor komoditas sawit mencapai Rp360,06 miliar.

Angka tersebut meningkat sangat tajam atau lebih dari 445 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang hanya tercatat Rp65,97 miliar, serta tahun 2024 sebesar Rp55,10 miliar.

Peningkatan ini dinilai menjadi indikator kuat bahwa sektor perkebunan kelapa sawit masih menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi Aceh, khususnya dalam kontribusinya terhadap peningkatan devisa daerah melalui jalur ekspor langsung.

Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2025, total devisa ekspor komoditas kelapa sawit Aceh tercatat mencapai Rp1,18 triliun, memperlihatkan besarnya potensi ekonomi sektor ini jika terus dikembangkan secara berkelanjutan.

Kakanwil DJBC Aceh Bier Budy Kismulyanto mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menyampaikan perkembangan ekspor dan impor berbagai komoditas secara berkala dan transparan kepada masyarakat.

Baca Juga:  BSI Raih Sertifikasi ISO 27701:2025, Dapat Pengakuan Global Sistem Keamanan Data Nasabah

Menurutnya, penyajian data perdagangan secara terbuka menjadi langkah penting dalam memberikan gambaran nyata terhadap kekuatan ekonomi daerah, sekaligus menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan pembangunan sektor industri berbasis sumber daya lokal.

“Melalui penyajian data yang readiness criteria ini, kami ingin memberikan gambaran utuh mengenai peta kekuatan komoditas daerah. Data kinerja kelapa sawit yang melonjak tajam hingga April 2026 ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa Aceh memiliki basis volume yang kuat untuk dikembangkan lebih jauh melalui industri pengolahan produk turunan,” ujar Bier Budy, Senin (25/5/2026).

Ia menambahkan, tren peningkatan volume komoditas sawit dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan industri hilir berbasis konsep zero waste atau pemanfaatan menyeluruh tanpa limbah.

Dalam industri pengolahan sawit, berbagai limbah produksi masih memiliki nilai ekonomi tinggi jika dioptimalkan.

Misalnya, tandan kosong kelapa sawit dapat diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung sektor pertanian berkelanjutan.

Sementara itu, bungkil inti sawit (palm kernel cake) dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku pakan ternak berkualitas tinggi.

Baca Juga:  ACF 2026 Jadi Panggung Kuliner Aceh, 100 Lebih UMKM Unjuk Cita Rasa di Taman Sulthanah Safiatuddin

Produk sampingan tersebut tidak hanya potensial memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga membuka peluang baru untuk ekspor nontradisional yang bernilai tambah lebih tinggi dibanding ekspor bahan mentah.

Di sisi lain, peningkatan ekspor langsung melalui pelabuhan Aceh juga dipandang sebagai sinyal positif terhadap semakin meningkatnya aktivitas perdagangan internasional dari daerah, yang selama ini masih banyak bergantung pada pelabuhan di luar Aceh.

Kanwil DJBC Aceh berharap transparansi data perdagangan dan pemetaan potensi ekonomi daerah dapat menjadi dasar penguatan kebijakan investasi, terutama dalam menarik industri pengolahan kelapa sawit masuk ke Aceh agar manfaat ekonominya tidak hanya berhenti pada sektor hulu.

Selain mendukung stabilitas ekonomi wilayah, DJBC Aceh juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola birokrasi yang bersih dan profesional sebagai bagian dari upaya meraih predikat Zona Integritas Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada tahun 2026.

Lonjakan ekspor sawit ini menjadi momentum penting bagi Aceh untuk tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, melainkan juga bergerak menuju penguatan industri hilirisasi agar nilai ekonomi komoditas unggulan daerah dapat dinikmati lebih maksimal oleh masyarakat.

image_print
Harian Aceh Indonesia
Netizen Harian Aceh

Artikel Terkait