{"id":106110,"date":"2025-06-09T02:19:10","date_gmt":"2025-06-08T19:19:10","guid":{"rendered":"https:\/\/infoaceh.net\/?p=106110"},"modified":"2025-06-09T02:30:44","modified_gmt":"2025-06-08T19:30:44","slug":"pentas-bohku-ketika-puisi-menampar-keangkuhan-kekuasaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/06\/09\/pentas-bohku-ketika-puisi-menampar-keangkuhan-kekuasaan\/","title":{"rendered":"Pentas &#8220;Bohku&#8221;: Ketika Puisi Menampar Keangkuhan Kekuasaan"},"content":{"rendered":"<p><strong>ACEH<\/strong> bukan hanya tentang masa lalu yang heroik. Ia juga tentang hari ini yang getir. Di tanah <a title=\"Serambi Mekkah\" href=\"https:\/\/infoaceh.net\/opini\/pentas-bohku-ketika-puisi-menampar-keangkuhan-kekuasaan\/\">Serambi Mekkah<\/a> ini, kekuasaan tak lagi sekadar soal amanah.<\/p>\n<p>Ia telah menjadi gelanggang adu licik, tempat syahwat jabatan bertarung tanpa malu. Saling cakar, saling tikam, berebut remah kuasa yang tak seberapa. Dan dalam gaduh itu, puisi masih berani bicara.<\/p>\n<p>Adalah Din Saja\u2014budayawan, sastrawan, dan penafsir keresahan zaman\u2014yang tak gentar menyuarakan suara hati rakyat lewat pementasan puisi bertajuk \u201cBohku\u201d.<\/p>\n<p>Tapi lihatlah, betapa ironi itu nyata: pentas yang seharusnya berlangsung di gedung megah <a title=\"Taman Budaya Aceh\" href=\"https:\/\/infoaceh.net\/opini\/pentas-bohku-ketika-puisi-menampar-keangkuhan-kekuasaan\/\">Taman Budaya Aceh<\/a>, malah diusir ke kantin. Ya, kantin, tempat makan pegawai, tempat sisa kopi dingin dan piring kotor.<\/p>\n<p>Begitu rendahnya nilai seni di mata penguasa, hingga disingkirkan dari ruang resmi hanya karena ia terlalu jujur.<\/p>\n<p>Pertanyaannya: apakah ini Aceh yang dulu berdarah demi kehormatan? Apakah ini negeri yang katanya menjunjung syariat dan akhlak? Atau justru sekarang berubah menjadi tanah absurd, tempat budaya diinjak-injak, dan seniman dipaksa diam?<\/p>\n<p>Bohku bukan sekadar puisi. Ia adalah peluru nurani. Dalam kesederhanaan ruang, puisi-puisi <a title=\"Din Saja\" href=\"https:\/\/infoaceh.net\/opini\/pentas-bohku-ketika-puisi-menampar-keangkuhan-kekuasaan\/\">Din Saja<\/a> menyala seperti bara, menyuarakan kekecewaan rakyat yang lelah ditipu.<\/p>\n<p>Ia menelanjangi tabiat penguasa yang menyulap hukum menjadi alat balas dendam, menjadikan korupsi sebagai ibadah berjamaah, dan menghalalkan segala cara demi tampuk jabatan.<\/p>\n<p>Tak ada lampu sorot. Tak ada dekorasi megah. Tapi justru dari situlah puisi menjadi murni. Karena puisi sejatinya bukan tontonan, tapi perlawanan.<\/p>\n<p>Sebab di saat lisan para elite sibuk berdusta, puisi hadir sebagai suara kebenaran yang tak bisa disuap.<\/p>\n<p>Hadir di acara itu politisi, sastrawan, dan seniman nasional seperti Nasir Djamil, Mulyadi, Sarjev, dan Thayeb Loh Angen. Tapi mereka tak datang untuk selfie atau cari panggung.<\/p>\n<p>Mereka datang untuk menjadi saksi: bahwa puisi belum mati. Bahwa di Aceh, masih ada suara yang tak bisa dibungkam.<\/p>\n<p>Dan bagi mereka yang mabuk kuasa, puisi Din Saja mungkin terasa seperti cambuk. Menyakitkan. Mengganggu. Seperti azan yang terdengar mengusik di telinga orang-orang yang tak ingin diingatkan Tuhan.<\/p>\n<p>Tapi bagi kami yang masih percaya, puisi adalah doa yang bersajak. Ia menyejukkan. Ia menguatkan. Dan yang paling penting, ia mengingatkan: bahwa kekuasaan adalah titipan, bukan warisan.<\/p>\n<h5><strong>Penulis: Sri Radjasa MBA (Pekerja Kesenian)<\/strong><\/h5>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/106110?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dan bagi mereka yang mabuk kuasa, puisi Din Saja mungkin terasa seperti cambuk. Menyakitkan. Mengganggu. Seperti azan yang terdengar mengusik di telinga orang-orang yang tak ingin diingatkan Tuhan.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":106115,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[3146],"class_list":["post-106110","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-utama"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-09-at-00.48.19.jpeg?fit=1600%2C807&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/106110","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=106110"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/106110\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/106115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=106110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=106110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=106110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}