{"id":110299,"date":"2025-06-14T20:07:11","date_gmt":"2025-06-14T13:07:11","guid":{"rendered":"https:\/\/infoaceh.net\/?p=110299"},"modified":"2025-06-14T20:07:11","modified_gmt":"2025-06-14T13:07:11","slug":"kisah-riski-mahasiswa-aceh-yang-tembus-harvard-dan-connecticut-belajar-di-kampus-kelas-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/06\/14\/kisah-riski-mahasiswa-aceh-yang-tembus-harvard-dan-connecticut-belajar-di-kampus-kelas-dunia\/","title":{"rendered":"Kisah Riski: Mahasiswa Aceh yang Tembus Harvard dan Connecticut, Belajar di Kampus Kelas Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Ajaib. Begitulah Riski Nopriyama, alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Syiah Kuala (USK), angkatan 2018, menggambarkan pengalamannya dalam program prestisius Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship 2025.<\/p>\n<p>Program yang berlangsung selama enam pekan, dari 17 April hingga 25 Mei 2025 di Amerika Serikat itu, membuka jalan bagi pengetahuan, pengalaman lintas budaya, dan koneksi global yang akan dikenangnya seumur hidup, sebuah bab yang tak terlupakan dalam perjalanan pribadi dan profesionalnya.<\/p>\n<p>Berasal dari Aceh, daerah yang masih menghadapi tantangan lingkungan dan ketimpangan akses pendidikan, Riski terdorong untuk melihat bagaimana negara lain, khususnya Amerika Serikat, mengatasi isu-isu penting ini melalui kewirausahaan dan inovasi.<\/p>\n<p>\u201cSaya selalu penasaran bagaimana AS memberdayakan komunitas melalui pendidikan dan kewirausahaan sosial, terutama di wilayah-wilayah yang sumber dayanya terbatas,\u201d ujar Riski, Jum&#8217;at (13\/6).<\/p>\n<p>Proses seleksi YSEALI sangat kompetitif dan ketat. Riski mempersiapkan diri untuk dua tahap seleksi: administrasi dan wawancara, dengan tetap jujur pada ceritanya sendiri.<\/p>\n<p>\u201cSaya menulis esai aplikasi dengan kejujuran, mencerminkan nilai-nilai yang saya pegang, tantangan yang saya hadapi, dan tujuan yang ingin saya capai. Saat wawancara, saya sampaikan dengan tulus keinginan belajar saya dan ketertarikan terhadap isu keberlanjutan dan ekonomi biru,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Kabar diterimanya ia peroleh saat sedang belajar di Pare, Jawa Timur. Ia mengaku bahagia sekaligus kaget. Di University of Connecticut, Riski bergabung dengan kelompok yang berfokus pada inovasi, kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi.<\/p>\n<p>Selama program, ia mengunjungi berbagai kota di Amerika Serikat seperti New York, Boston, Philadelphia, New Jersey, New Haven, Chicago, Princeton, dan Washington, DC.<\/p>\n<p>Riski mengikuti seminar, kunjungan ke perusahaan, kegiatan relawan, serta sesi akademik di universitas-universitas Ivy League seperti Harvard, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Yale, Brown, dan Princeton. Salah satu momen paling berkesan adalah sesi kepemimpinan.<\/p>\n<p>\u201cSesi ini mengajarkan saya banyak tentang ketahanan dan empati. Ini benar-benar mengubah cara saya memaknai kekuatan dan kolaborasi,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Pengalaman bermakna lainnya adalah ketika ia diundang untuk memperkenalkan budaya Indonesia dalam sebuah sesi akademik di University of Connecticut. Mewakili Indonesia dan Asia Tenggara di depan audiens yang begitu beragam,<br \/>\nsungguh pengalaman sangat berarti bagi Riski.<\/p>\n<p>Menurutnya, tinggal dan belajar bersama 24 pemimpin muda dari seluruh Asia Tenggara merupakan pengalaman yang membuka mata dan penuh emosi. \u201cKami belajar satu sama lain. Perpisahan di akhir program adalah salah satu momen tersulit\u2014kami telah membangun ikatan yang begitu bermakna.\u201d<\/p>\n<p>Riski juga aktif memperkenalkan budaya Indonesia selama program. Ia mengenakan batik saat acara formal, membagikan souvenir khas Aceh, dan bersama rekan-rekan asal Indonesia mengadakan \u2018pesta mie instan\u2019 yang menjadi favorit para peserta. Tentu saja, ada momen penyesuaian.<\/p>\n<p>\u201cCuacanya sangat dingin, sampai 1\u00b0C. Dan shalat lima waktu tanpa adanya jeda khusus seperti di Indonesia butuh penyesuaian. Tapi saya belajar untuk menyampaikannya secara baik-baik, dan semua orang sangat menghargai,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Salah satu pelajaran terbesar yang dibawa Riski pulang adalah perubahan cara pandangnya terhadap makna kepemimpinan.<\/p>\n<p>\u201cDi AS, kami bertemu banyak orang yang pekerjaannya didorong oleh tujuan, bukan keuntungan. Itu sangat membekas bagi saya. Sekarang saya percaya bahwa kepemimpinan harus berlandaskan pada kebaikan, kolaborasi, dan dampak jangka panjang,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Sekembalinya ke Indonesia, Riski mulai mengembangkan platform yang mengadvokasi isu keberlanjutan, pendidikan, dan dukungan untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Ia juga terus aktif dalam jaringan alumni YSEALI, memanfaatkannya untuk memperluas akses terhadap peluang pengembangan bagi generasi muda di Aceh.<\/p>\n<p>Selama program, ia turut menggagas inisiatif kolaboratif regional yang mendorong keterlibatan pemuda dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di kawasan Asia Tenggara. Bagi mahasiswa yang bermimpi mengikuti program YSEALI, Riski membagikan pesan penuh semangat.<\/p>\n<p>\u201cJangan ragu untuk mendaftar, dan jangan biarkan latar belakangmu menjadi penghalang. Berasal dari daerah terpencil atau kurang berkembang justru merupakan kekuatan, itu memberikanmu perspektif yang nyata dan tulus. Dan jangan khawatir jika Bahasa Inggris-mu tidak sempurna atau belum punya skor TOEFL. Selama kamu bisa menyampaikan ide dengan jelas dan jujur, itu sudah cukup,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia juga mendorong calon peserta untuk merenungkan secara mendalam apa yang ia sebut sebagai: Tiga Mengapa. Mengapa kamu? Mengapa isu tersebut penting bagimu? Dan mengapa kamu perlu belajar ke AS melalui YSEALI?<\/p>\n<p>\u201cJika kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur dan jelas, kamu akan menonjol. Dan jangan ragu untuk menghubungi alumni\u2014kami siap membantu,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Perjalanan Riski bersama YSEALI bukan sekadar kisah sukses pribadi. Ini adalah contoh inspiratif tentang bagaimana ketulusan, tekad, dan semangat untuk menciptakan perubahan dapat membuka pintu menuju peluang global.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di Amerika Serikat\u2014apalagi bisa berbicara di kampus-kampus seperti Harvard atau MIT. Perjalanan ini sungguh magis. Ini mengubah cara saya memimpin, berpikir, dan berkontribusi bagi dunia,\u201d pungkas Riski.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/110299?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ajaib. Begitulah Riski Nopriyama, alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Syiah Kuala (USK), angkatan 2018, menggambarkan pengalamannya dalam program prestisius Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship 2025. Program yang berlangsung selama enam pekan, dari 17 April hingga 25 Mei 2025 di Amerika Serikat itu, membuka jalan bagi pengetahuan, pengalaman lintas budaya, dan koneksi global [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":110300,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-110299","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-14-at-19.32.04.jpeg?fit=1000%2C667&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/110299","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=110299"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/110299\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/110300"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=110299"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=110299"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=110299"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}