{"id":118417,"date":"2025-06-29T17:24:24","date_gmt":"2025-06-29T10:24:24","guid":{"rendered":"https:\/\/infoaceh.net\/?p=118417"},"modified":"2025-06-29T17:24:24","modified_gmt":"2025-06-29T10:24:24","slug":"tahun-baru-islam-1-muharram-sepi-di-banda-aceh-meriah-di-aceh-besar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/06\/29\/tahun-baru-islam-1-muharram-sepi-di-banda-aceh-meriah-di-aceh-besar\/","title":{"rendered":"Tahun Baru Islam 1 Muharram: Sepi di Banda Aceh, Meriah di Aceh Besar"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh, Infoaceh.net<\/strong> \u2013 Jum&#8217;at pagi, 27 Juni 2025, langit Banda Aceh cerah. Hari itu bukan hari biasa bagi umat Islam: 1 Muharram 1447 Hijriah, menandai masuknya tahun baru dalam kalender Islam.<\/p>\n<p>Suasana peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, tampak sepi dan minim kegiatan syiar keagamaan.<\/p>\n<p>Hingga hari ketiga tahun baru Islam, Ahad (29\/6\/2025), tidak tampak pawai, doa bersama, atau bentuk kemeriahan lainnya yang biasanya menandai perayaan tahun baru hijriah.<\/p>\n<p>Kondisi ini sangat kontras dengan kemeriahan perayaan tahun baru Masehi yang kerap diramaikan pesta kembang api dan acara hiburan di kota yang dikenal sebagai pusat pelaksanaan Syariat Islam tersebut.<\/p>\n<p>Satu-satunya kegiatan tingkat provinsi yang tercatat adalah tausiyah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, yang dihadiri Wakil Gubernur Aceh. Acara ini digelar oleh Dinas Syariat Islam Aceh secara sederhana, tanpa gebyar syiar Islam yang meriah seperti yang diharapkan masyarakat.<\/p>\n<p>Namun, skala dan gema acaranya jauh dari harapan, tidak membangun atmosfer kebersamaan, apalagi semarak. Banda Aceh, Serambi Mekkah, tampak sunyi di hari yang semestinya sakral bagi umat Islam.<\/p>\n<p>Tak ada tanda-tanda kemeriahan lain di ibu kota Provinsi Aceh yang dikenal sebagai wilayah syariat Islam itu.<\/p>\n<p>Tak tampak iring-iringan pawai, tak terdengar lantunan zikir di jalanan, bahkan spanduk atau baliho ucapan Tahun Baru Islam pun nyaris tak terlihat.<\/p>\n<p>Masyarakat menjalani aktivitas seperti hari-hari biasa. Di sejumlah masjid, tidak terdengar pengajian akbar atau tausiyah khusus menyambut pergantian tahun hijriah. Suasana hening, sunyi dari syiar.<\/p>\n<p>Kalah Gaung dari Tahun Baru Masehi<\/p>\n<p>Perbandingan pun tak terhindarkan. Setiap 31 Desember menuju 1 Januari, Banda Aceh meski tak seberisik kota-kota lain di Indonesia, tetap diramaikan oleh aktivitas hiburan, pesta kembang api, dan perayaan semalam suntuk \u2014 baik secara terbuka maupun tersembunyi.<\/p>\n<p>Masyarakat tumpah ke jalan, tempat wisata ramai, dan media sosial dipenuhi ucapan serta kilas balik setahun.<\/p>\n<p>Kontras dengan itu, peringatan 1 Muharram \u2014 simbol hijrah Rasulullah SAW, awal penanggalan Islam \u2014 justru tak mendapat perhatian yang sepadan.<\/p>\n<p>Padahal, nilai spiritual dan pendidikan yang melekat pada tahun baru Islam jauh lebih dalam daripada sekadar euforia akhir tahun Masehi.<\/p>\n<p>Tokoh masyarakat Aceh, Drs M Isa Alima, Ketua DPD Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap situasi ini.<\/p>\n<p>\u201cAceh dikenal dengan penerapan Syariat Islam, tapi ketika datang tahun baru Islam, kita sunyi. Sementara ketika 1 Januari, kita malah ikut-ikutan budaya barat yang tidak ada nilai ruhiyahnya,\u201d katanya kepada Infoaceh.net, Sabtu (28\/6).<\/p>\n<p>Menurut Isa, sepinya 1 Muharram di Aceh adalah cerminan dari lemahnya kesadaran kolektif untuk menghidupkan budaya keagamaan yang mendidik dan mencerdaskan. Ia menyebutnya sebagai krisis identitas.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan soal kegiatan seremonial semata. Ini soal jati diri. Soal bagaimana kita memposisikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial kita, terutama generasi muda,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia juga mendorong pemerintah daerah menjadikan 1 Muharram sebagai perayaan keagamaan resmi \u2014 sebagaimana peringatan Maulid Nabi, Isra Mi\u2019raj, dan hari besar Islam lainnya yang sudah membudaya di Aceh.<\/p>\n<p>Aceh Besar Menjawab dengan Syiar Meriah<\/p>\n<p>Namun, tak semua wilayah di Aceh diam. Kabupaten Aceh Besar justru menjawab sunyinya 1 Muharram dengan gelaran Pawai Ta\u2019aruf yang meriah, religius, dan sarat makna.<\/p>\n<p>Sabtu (28\/6), suasana di halaman Gedung Dekranasda Aceh Besar di kawasan Blang Bintang berubah menjadi lautan manusia. Ratusan peserta dari 68 kontingen \u2014 terdiri atas OPD, dayah, dan perwakilan masyarakat \u2014 berkumpul dengan mengenakan busana Muslim yang indah dan membawa atribut Islami.<\/p>\n<p>Spanduk bertema hijrah, poster motivasi Islami, serta lantunan shalawat menggema sepanjang rute pawai yang melewati Bundaran Lambaro.<\/p>\n<p>Acara ini dibuka oleh Bupati Aceh Besar Muharram Idris atau Syech Muharram, yang tampil dengan penuh semangat dan nada optimisme tinggi.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, ini bukan sekadar pawai. Ini syiar Islam, ini sejarah. Tahun Baru Islam harus dibesarkan. Saya ingin menegaskan, mari kita besarkan Tahun Baru Islam. Jangan sampai kita lebih semarak memperingati tahun masehi 1 Januari dibandingkan tahun hijriah 1 Muharram . Ini adalah bagian dari jati diri kita sebagai umat Islam. Ini budaya kita. Ini identitas kita,\u201d ujar Bupati dalam sambutannya.<\/p>\n<p>Syech Muharram mengajak semua pihak menjadikan momen tahun baru hijriah sebagai titik tolak perubahan spiritual dan sosial, serta momentum kebangkitan umat di tengah tantangan zaman.<\/p>\n<p>\u201cKita ingin generasi muda Aceh tumbuh dengan memahami makna hijrah: berpindah dari yang buruk menuju yang lebih baik. Bukan sekadar menghibur diri dengan petasan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Aceh Besar, Wakil Wali Kota Banda Aceh, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Plt. Sekda Aceh Besar, serta unsur TNI dan Polri.<\/p>\n<p>Rangkaian Penuh Makna, Antusiasme Tinggi<\/p>\n<p>Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Besar, Rusdi, menyebut bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bahkan beberapa dayah dan pesantren mendaftarkan santrinya secara sukarela untuk ikut pawai.<\/p>\n<p>\u201cIni menunjukkan masyarakat Aceh Besar punya semangat kuat dalam menyambut tahun baru hijriah. Mereka ingin hadir, tidak hanya secara fisik, tapi juga secara batin,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda tahunan yang lebih besar ke depannya dan bisa menjadi model bagi daerah lain di Aceh.<\/p>\n<p>Refleksi untuk Banda Aceh dan Wilayah Lainnya<\/p>\n<p>Realitas yang terjadi di Banda Aceh menunjukkan bahwa keberislaman bukan hanya soal regulasi. Syariat Islam bukan sekadar qanun dan razia, tapi ruh yang hidup dalam budaya, tradisi, dan aktivitas sosial masyarakat. Tahun Baru Islam seharusnya menjadi tonggak penting untuk menghidupkan ruh tersebut.<\/p>\n<p>Pengamat Sosial Aceh Drs M Isa Alima mengingatkan bahwa semangat keislaman tidak cukup hanya diwujudkan dalam kebijakan, tapi juga dalam pembiasaan budaya.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita tidak mulai dari sekarang, maka anak-anak kita akan tumbuh tanpa tahu makna 1 Muharram, tanpa bangga terhadap kalender Islam. Lalu, bagaimana kita bisa mempertahankan identitas sebagai Serambi Mekkah?\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menyerukan agar tahun depan, seluruh pemerintah kabupaten\/kota di Aceh, bersama tokoh agama, dayah, dan organisasi pemuda masjid, mulai menyiapkan peringatan 1 Muharram yang terstruktur dan bermakna.<\/p>\n<p>Saatnya Hijrah Kolektif Menuju Budaya Islami<\/p>\n<p>Tahun Baru Islam seharusnya bukan hanya penanggalan dalam kalender. Ia adalah simbol hijrah, transisi menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih spiritual. Aceh yang selama ini menjadi simbol peradaban Islam di Nusantara, punya tanggung jawab moral untuk memberi contoh bahwa ruh hijrah hidup, tumbuh, dan diwariskan.<\/p>\n<p>Jangan sampai 1 Muharram hanya jadi tanggal merah di kalender \u2014 tapi tak ada kegiatan atau syiar Islami dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/118417?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh, Infoaceh.net \u2013 Jum&#8217;at pagi, 27 Juni 2025, langit Banda Aceh cerah. Hari itu bukan hari biasa bagi umat Islam: 1 Muharram 1447 Hijriah, menandai masuknya tahun baru dalam kalender Islam. Suasana peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, tampak sepi dan minim kegiatan syiar keagamaan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":400001,"featured_media":118418,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[252,3146],"class_list":["post-118417","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-aceh","tag-utama"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/06\/IMG-20250629-WA0029-e1751192502925.jpg?fit=800%2C527&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/118417","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/400001"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=118417"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/118417\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/118418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=118417"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=118417"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=118417"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}