{"id":143116,"date":"2025-09-04T09:49:11","date_gmt":"2025-09-04T02:49:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=143116"},"modified":"2025-09-04T09:49:11","modified_gmt":"2025-09-04T02:49:11","slug":"makam-permaisuri-sultan-iskandar-muda-di-pidie-tak-terurus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/09\/04\/makam-permaisuri-sultan-iskandar-muda-di-pidie-tak-terurus\/","title":{"rendered":"Makam Permaisuri Sultan Iskandar Muda di Pidie Tak Terurus"},"content":{"rendered":"<p><strong>SIGLI, Infoaceh.net<\/strong> \u2013 Makam Putroe Tsani, isteri (permaisuri) Sultan Iskandar Muda (1607-1636 Masehi) yang terletak di Gampong Runtoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, tampak tak terurus alias terlantar.<\/p>\n<p>Tiga pemerhati sejarah Aceh, yaitu Budayawan Tarmizi A Hamid, Arkeolog Universitas Syiah Kuala (USK) Prof Dr Husaini Ibrahim MA dan Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur PhD, secara khusus berkunjung ke lokasi makam sang permaisuri pada Selasa sore (2\/9\/2025).<\/p>\n<p>Mereka melakukan observasi di sekitar makam dan menggali informasi dari warga sekitar terkait makam dan perawatannya.<\/p>\n<p>\u201cKesan yang kami tangkap, makam permaisuri dari Sultan Iskandar Muda tersebut tak terurus atau terbengkalai,\u201d ujar Tarmizi A Hamid alias Cek Midi kepada media ini, Rabu (3\/9).<\/p>\n<p>Dalam amatan Cek Midi, kondisi batu pada badan makam terputus dan disambung dengan semen.<\/p>\n<p>\u201cSementara kepala dan kaki batu nisan tidak ada lagi. Pagar mulai roboh. Tak ada papan informasi seputar sejarah hidup sang permaisuri Raja Aceh tersebut selain papan pengumuman bahwa itu adalah benda cagar budaya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cSemua kita sekarang ngaku sebagai cucu Sultan Iskandar Muda. Tapi pada makam permaisuri Sang Sultan tak ada yang peduli,\u201d ujar Cek Midi.<\/p>\n<p>Di sekitar lokasi makam tak ada tempat istirahat bagi pengunjung. Adapun sumur adalah sedekah dari seorang pengunjung.<\/p>\n<p>\u201cSumur ini yang ada di dekat makam adalah sumbangan dari seorang pengunjung yang prihatin melihat tak ada sumber air bersih di situ,\u201d ungkap Ramadhan alias Rama (37), pengusaha kerupuk kulit di desa setempat.<\/p>\n<p>Menurut Rama, tak ada yang peduli pada kondisi makam. Tak ada upacara apapun di sana.<\/p>\n<p>\u201cSaya yang rutin melaksanakan kenduri setiap tahun pada jeurat itu agar warga mengetahui betapa pentingnya makam ini,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cPengunjung dari luar Pidie sering berkunjung kemari. Ada dari Aceh Timur, Aceh Barat dan lain-lain,\u201d lanjut Rama.<\/p>\n<p>Prof Husaini mengaku prihatin atas kurangnya perhatian dari Pemerintah Aceh dan Pemkab Pidie.<\/p>\n<p>\u201cIni adalah makam permaisuri dari Sultan Besar Aceh. Tak pantas mendapat perlakuan seperti ini,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dari beberapa referensi disebutkan, permaisuri tersebut adalah putri dari Teungku Syik di Reubee. Teungku Syik di Reubee adalah bangsawan, selain ulama besar.<\/p>\n<p>Menurut tokoh adat Aceh, Nurdin AR, nama permaisuri tersebut adalah Puteri Sendi Ratna Setia. Namun, penduduk setempat menyebutnya sebagai Putroe Tsani. Tsani maksudnya adalah Sendi.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/143116?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tiga pemerhati sejarah Aceh, yaitu Budayawan Tarmizi A Hamid, Arkeolog Universitas Syiah Kuala (USK) Prof Dr Husaini Ibrahim MA dan Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur PhD, secara khusus berkunjung ke lokasi makam sang permaisuri pada Selasa sore (2\/9\/2025).<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":143118,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-143116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-04-at-010528.webp?fit=527%2C300&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/143116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=143116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/143116\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/143118"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=143116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=143116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=143116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}