{"id":147409,"date":"2025-10-01T12:29:35","date_gmt":"2025-10-01T05:29:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=147409"},"modified":"2025-10-01T12:29:35","modified_gmt":"2025-10-01T05:29:35","slug":"investor-ragu-umkm-menjerit-krisis-listrik-di-aceh-jadi-ancaman-serius","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/10\/01\/investor-ragu-umkm-menjerit-krisis-listrik-di-aceh-jadi-ancaman-serius\/","title":{"rendered":"Investor Ragu, UMKM Menjerit: Krisis Listrik di Aceh Jadi Ancaman Serius"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh, Infoaceh.net<\/strong> \u2013 Pemadaman listrik berkepanjangan yang melanda Banda Aceh dan sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir menuai keluhan keras dari masyarakat.<\/p>\n<p>Kondisi ini bukan hanya membuat aktivitas sehari-hari warga terganggu, tetapi juga memukul dunia usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada listrik untuk beroperasi.<\/p>\n<p>Lilin kini kembali menjadi primadona di rumah-rumah warga. Banyak keluarga yang terpaksa menyalakan lilin setiap malam demi penerangan, sementara sebagian lainnya menggunakan genset atau lampu darurat seadanya.<\/p>\n<p>Namun, tidak semua mampu melakukan hal itu karena biaya operasional genset dinilai sangat tinggi.<\/p>\n<p>\u201cBayangkan, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, masyarakat dipaksa membeli lilin setiap malam. Ini seperti kembali ke masa lalu, padahal kita sudah merdeka lebih dari tujuh dekade,\u201d keluh Amiruddin, salah satu warga Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.<\/p>\n<p>Pelaku UMKM juga menjadi pihak yang paling terdampak. Dari warung kopi, toko kelontong, hingga usaha percetakan dan laundry, semuanya merasakan kerugian akibat mati listrik. Peralatan tidak bisa dipakai, bahan baku terbuang, hingga pelanggan beralih ke tempat lain yang memiliki genset.<\/p>\n<p>\u201cSudah beberapa hari ini saya rugi. Mesin cuci tidak bisa beroperasi, pelanggan kecewa. Kalau begini terus, usaha kecil seperti kami bisa bangkrut,\u201d ujar Rina, pemilik usaha laundry di kawasan Peunayong.<\/p>\n<p>Hal senada juga disampaikan Zulkifli, pemilik kafe. Ia mengaku kehilangan omset hingga 70 persen dalam tiga hari terakhir. \u201cKopi bisa diseduh, tapi orang datang ke kafe kan juga butuh listrik. Mereka butuh colokan, butuh Wi-Fi. Kalau mati lampu, siapa yang mau duduk?\u201d keluhnya.<\/p>\n<p>Ancaman Bagi Investasi<\/p>\n<p>Krisis listrik ini juga memicu kekhawatiran serius terhadap iklim investasi di Aceh.<\/p>\n<p>Pemerhati kebijakan publik Aceh, Isa Alima, menilai bahwa kondisi listrik yang tidak stabil membuat investor berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di daerah ini.<\/p>\n<p>\u201cInvestor itu butuh kepastian dan keandalan energi. Kalau listrik sering padam, bagaimana mungkin mereka mau membuka pabrik atau bisnis di Aceh? UMKM saja sudah menjerit, apalagi investasi skala besar,\u201d tegas Isa, Selasa (30\/9\/2025).<\/p>\n<p>Isa menyebut bahwa pemerintah daerah bersama PLN harus segera mengambil langkah strategis dan tidak hanya memberikan janji.<\/p>\n<p>Ia juga mendesak agar DPRA dan DPRK Banda Aceh memanggil General Manager PLN UID Aceh melalui rapat dengar pendapat (RDP).<\/p>\n<p>\u201cDewan harus hadir di tengah keresahan rakyat. Jangan diam saja. Rakyat butuh penjelasan kenapa listrik bisa padam berhari-hari. Panggil GM PLN, biar ada transparansi dan kejelasan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Isa juga menyinggung polemik interkoneksi listrik Aceh dengan Sumatera Utara (Sumut) yang selama ini menjadi perdebatan.<\/p>\n<p>\u201cApakah ini ada kaitan dengan masalah razia BL dan BK? Candanya begitu. Karena ternyata listrik Aceh masih sangat bergantung ke Sumut. Kalau terjadi masalah di Sumut, Aceh ikut gelap,\u201d sindirnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, ketergantungan ini harus segera diatasi dengan pembangunan infrastruktur energi di Aceh. \u201cAceh punya potensi besar, ada PLTA, ada energi terbarukan, ada gas. Tapi kenapa kita masih tergantung ke daerah lain? Ini pertanyaan besar yang harus dijawab pemerintah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Masyarakat juga berharap PLN tidak hanya memperbaiki jaringan, tetapi juga memberi kompensasi atas kerugian yang mereka alami.<\/p>\n<p>\u201cKami bayar listrik tiap bulan, tapi giliran listrik padam berhari-hari siapa yang tanggung kerugian kami? UMKM sudah jelas rugi besar. Harus ada kompensasi yang adil,\u201d kata Rina, pelaku UMKM.<\/p>\n<p>Isa Alima pun menguatkan tuntutan tersebut. \u201cPLN tidak boleh hanya minta maaf. Harus ada tanggung jawab nyata. Masyarakat dan UMKM sudah jadi korban. Kalau perlu, kompensasi dipotong langsung dari tagihan bulan depan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Darurat Energi Aceh<\/p>\n<p>Dengan kondisi listrik yang terus padam, warga Banda Aceh menilai bahwa Aceh kini sedang mengalami darurat energi. Bukan hanya kenyamanan yang terganggu, tapi juga keberlangsungan ekonomi, dunia usaha, bahkan kepercayaan investor terhadap daerah.<\/p>\n<p>\u201cKalau listrik di Aceh tidak stabil, jangan harap ada kemajuan ekonomi. UMKM mati, investasi lari, rakyat menderita. Pemerintah harus menjadikan ini prioritas utama,\u201d pungkas Isa Alima.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/147409?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh, Infoaceh.net \u2013 Pemadaman listrik berkepanjangan yang melanda Banda Aceh dan sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir menuai keluhan keras dari masyarakat. Kondisi ini bukan hanya membuat aktivitas sehari-hari warga terganggu, tetapi juga memukul dunia usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada listrik untuk beroperasi. Lilin kini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":147410,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-147409","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/10\/41d97b15-f199-4ad1-8d88-4a237c8dc716.jpeg?fit=1280%2C925&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/147409","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=147409"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/147409\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/147410"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=147409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=147409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=147409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}