{"id":153607,"date":"2025-11-29T00:29:16","date_gmt":"2025-11-28T17:29:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=153607"},"modified":"2025-11-29T00:29:16","modified_gmt":"2025-11-28T17:29:16","slug":"korban-meninggal-banjir-aceh-bertambah-jadi-35-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/11\/29\/korban-meninggal-banjir-aceh-bertambah-jadi-35-orang\/","title":{"rendered":"Korban Meninggal Banjir Aceh Bertambah Jadi 35 Orang"},"content":{"rendered":"<strong>Banda Aceh, Infoaceh.net \u2014<\/strong> Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh terus bertambah.\n\nKepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa hingga Jum&#8217;at (28\/11), tercatat 35 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka di berbagai wilayah Aceh.\n\nData tersebut dipaparkan dalam konferensi pers yang digelar di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, saat BNPB merilis perkembangan penanganan bencana hidrometeorologi di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.\n\nKorban Terbanyak dari Dataran Tinggi Aceh\n\nBNPB menyebutkan bahwa tiga kabupaten dengan korban terbanyak adalah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara. Sementara pendataan masih terus berlangsung di Aceh Timur, Aceh Singkil dan Aceh Utara.\n\n\u201cIni akan berkembang terus datanya. Sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia,\u201d ujar Suharyanto.\n\nPengungsian Tersebar di 20 Kabupaten\/Kota\n\nHingga Jum&#8217;at sore ini, pengungsian tercatat tersebar di 20 kabupaten\/kota. Kota Lhokseumawe memiliki titik pengungsian terbanyak, yakni 96 titik.\n\nSecara keseluruhan, jumlah warga mengungsi mencapai 4.846 kepala keluarga (KK).\n\nAkses Transportasi Terputus\n\nKerusakan infrastruktur menghantam sejumlah daerah. Akses jalur nasional di perbatasan Sumut\u2013Aceh terputus akibat longsor.\n\nKerusakan jembatan di Meureudu menyebabkan terganggunya jalur Banda Aceh \u2013 Lhokseumawe \u2013 Aceh Timur \u2013 Langsa \u2013 Aceh Tamiang.\n\nBeberapa wilayah kini benar-benar terisolir, seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, yang tidak dapat diakses lewat jalur darat akibat kerusakan jalan nasional dan jembatan.\n\nSebagai alternatif, distribusi bantuan mulai mengandalkan jalur udara melalui Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele di Bener Meriah.\n\nStarlink Dipasang di Daerah Terisolir\n\nUntuk menjaga kelancaran komunikasi, BNPB memasang perangkat Starlink di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.\n\n\u201cStarlink sudah didistribusikan ke titik pengungsian maupun posko penanganan darurat,\u201d jelas Suharyanto.\n\nBantuan logistik untuk para pengungsi juga mulai disalurkan, termasuk beras, mie instan, minyak goreng, telur, gula, diaper, serta obat-obatan.\n\nDukungan Nasional Dikerahkan\n\nPemerintah pusat mengirimkan bantuan Presiden melalui tiga pesawat Hercules, membawa logistik berupa beras, gula, minyak, mie instan, tenda, perangkat komunikasi, genset, perahu LCR, dan kompresor. Sebanyak 26 personel BNPB dikerahkan untuk memperkuat operasi di lapangan.\n\nBencana di Sumatera Utara: 116 Meninggal, 42 Hilang\n\nSelain Aceh, bencana hidrometeorologi juga menimbulkan dampak besar di Sumatera Utara. BNPB mencatat 116 korban meninggal dunia, 42 orang hilang, dan ratusan pengungsi di sejumlah kabupaten\/kota.\n\nWilayah dengan korban terbanyak antara lain Tapanuli Tengah (51 orang), Tapanuli Selatan (32 orang), dan Kota Sibolga (17 orang).\n\nAkses transportasi di sejumlah jalur nasional dan provinsi terputus akibat longsor.\n\nBantuan logistik dan armada TNI\/Polri telah dikerahkan, termasuk pesawat Caravan dan helikopter Airbus EC 155 untuk distribusi bantuan ke wilayah terisolir.\n\nSumatera Barat: 23 Meninggal Dunia\n\nProvinsi Sumatera Barat juga terdampak signifikan dengan 23 korban meninggal, 12 hilang, dan 4 luka-luka. Pengungsian tersebar di berbagai wilayah, termasuk 50 titik di Pesisir Selatan.\n\nKerusakan infrastruktur meliputi lima jembatan di Padang Pariaman serta longsor di jalur nasional Bukittinggi\u2013Padang. Sekitar 200 kendaraan sempat terjebak di Kecamatan Ampek Koto.\n\nOperasi Modifikasi Cuaca Dimulai di Tiga Provinsi\n\nSebagai langkah mitigasi, BNPB resmi memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serentak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.\n\nAceh: OMC dimulai hari ini menggunakan pesawat PK-SNP dari Bandara Sultan Iskandar Muda.\n\nSumut: Sudah berlangsung sejak 27 November, menggunakan 3.200 kg NaCl dan CaO.\n\nSumbar: Mulai 29 November menggunakan pesawat PK-DPI dan PK-SNK.\n\nOMC bertujuan mengurangi potensi hujan ekstrem dan risiko lanjutan seperti longsor dan banjir bandang.\n\nKepala BNPB memimpin langsung komando penanganan dari Silangit, didampingi Deputi Penanganan Darurat BNPB. Untuk Aceh, penanganan dipimpin Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, sementara di Sumatera Barat dipimpin Sekretaris Utama BNPB.\n\nBNPB memastikan seluruh upaya terus dimaksimalkan: pencarian korban, pembukaan akses darat,\ndistribusi logistik, penyiapan jaringan komunikasi, serta koordinasi lintas K\/L dan relawan.\n\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/153607?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh, Infoaceh.net \u2014 Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh terus bertambah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa hingga Jum&#8217;at (28\/11), tercatat 35 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka di berbagai wilayah Aceh. Data tersebut dipaparkan dalam konferensi pers yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":153608,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-153607","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/11\/IMG-20251128-WA0228.jpg?fit=1125%2C620&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/153607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=153607"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/153607\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/153608"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=153607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=153607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=153607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}