{"id":155502,"date":"2025-12-19T11:50:17","date_gmt":"2025-12-19T04:50:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=155502"},"modified":"2025-12-19T11:56:46","modified_gmt":"2025-12-19T04:56:46","slug":"bencana-aceh-sumatera-negara-hadir-dalam-rapat-dan-pidato","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/12\/19\/bencana-aceh-sumatera-negara-hadir-dalam-rapat-dan-pidato\/","title":{"rendered":"Bencana Aceh-Sumatera, Negara Hadir dalam Rapat dan Pidato\u00a0"},"content":{"rendered":"<strong><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Oleh: Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen)<\/span><\/strong>\n\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Di saat air banjir menghancurkan rumah-rumah warga di Aceh dan sebagian Sumatera, negara justru sibuk menata citra. Di tenda-tenda pengungsian, doa dilantunkan lirih oleh mereka yang kehilangan segalanya.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Doa orang-orang teraniaya, yang dalam keyakinan agama diyakini tak berjarak dengan langit, kini menjelma menjadi kritik paling sunyi sekaligus paling keras terhadap kekuasaan yang kehilangan kepekaan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Bencana banjir bandang dan longsor yang berulang bukan lagi peristiwa alam semata. Ia adalah hasil dari akumulasi panjang kebijakan yang menempatkan eksploitasi di atas perlindungan, pertumbuhan di atas keberlanjutan, dan kekuasaan di atas keselamatan rakyat.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Data kebencanaan nasional menunjukkan tren peningkatan frekuensi dan dampak banjir serta longsor. Namun pola respons negara nyaris tak berubah, yaitu reaktif, seremonial, dan miskin evaluasi struktural. Negara hadir setelah bencana, bukan sebelum petaka.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Dalam kontrak sosial modern, legitimasi negara lahir dari kemampuannya melindungi warganya.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Thomas Hobbes menyebut perlindungan sebagai inti dari ketaatan. Ketika negara gagal melindungi, ketaatan berubah menjadi keterpaksaan. Di sinilah problem kita hari ini.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Konstitusi menjanjikan pengelolaan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya: kerusakan lingkungan meluas, daya dukung alam runtuh, dan rakyat kecil menjadi korban pertama.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Ironi makin kentara ketika krisis kemanusiaan berjalan beriringan dengan konflik elite. Alih-alih memusatkan energi pada penyelamatan korban, panggung politik nasional dipenuhi manuver kekuasaan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Pembangkangan terhadap putusan lembaga hukum tertinggi dipertontonkan tanpa rasa malu. Presiden, sebagai pemegang otoritas tertinggi, memilih sikap minimalis, yakni diam yang dibaca publik sebagai pembiaran.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Dalam negara hukum, diam penguasa sering kali lebih berbahaya daripada keputusan yang keliru.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Sepak terjang aparat penegak hukum selama satu dekade terakhir juga meninggalkan jejak problematik. Institusi yang seharusnya menjadi penjaga keadilan justru dipersepsikan publik sebagai alat pengaman kekuasaan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Kepercayaan publik tergerus, dan hukum kehilangan wibawanya. Max Weber mengingatkan, ketika otoritas legal-rasional digantikan oleh loyalitas personal, negara sedang bergerak menuju krisis legitimasi.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Fenomena \u201crelawan\u201d politik memperlihatkan degradasi makna solidaritas. Relawan semestinya hadir di lokasi bencana, memikul logistik, dan memulihkan harapan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Namun yang tampak justru militansi membela figur dan simbol kekuasaan lama. Energi sosial diarahkan untuk mempertahankan berhala politik, bukan untuk menyelamatkan korban. Politik telah menggerus empati, menjadikan penderitaan sebagai latar belakang pertarungan elite.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Warisan sepuluh tahun kekuasaan sebelumnya meninggalkan bangsa yang terbelah. Hukum digunakan secara selektif, kritik diperlakukan sebagai ancaman, dan kekuasaan dipelihara melalui rasa takut.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan baru seharusnya tampil sebagai koreksi sejarah. Reformasi struktural, penegakan hukum yang adil, serta pemulihan kepercayaan publik mestinya menjadi agenda utama.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Namun lebih dari setahun kepemimpinan berjalan, yang terlihat justru kecenderungan sebaliknya. Presiden tampak memilih menjadi tameng bagi kesalahan masa lalu, alih-alih membuka lembaran baru.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Kebijakan dan gaya kekuasaan menunjukkan pola yang familiar berupa sentralisasi wewenang, alergi terhadap kritik, dan pembiaran terhadap penyimpangan hukum.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Dalam kajian psikologi politik, ini dikenal sebagai otoritarian personality, yakni watak kekuasaan yang merasa selalu benar dan menolak koreksi.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Aceh memiliki ingatan kolektif yang panjang tentang luka dan ketabahan. Dari konflik bersenjata hingga tsunami, rakyat Aceh belajar bahwa negara sering datang terlambat. Hari ini, ketika banjir kembali merendam tanah mereka, sejarah seolah berulang.\u00a0<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Negara hadir dalam pidato dan rapat, tetapi absen dalam kebijakan yang menyentuh akar persoalan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Doa-doa dari pengungsian itu sejatinya bukan sekadar ekspresi religius. Ia adalah alarm moral bagi negara yang mulai kehilangan nurani.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;\">Kekuasaan boleh kokoh secara formal, tetapi tanpa empati dan keadilan, ia rapuh secara etis. Sejarah selalu mencatat satu hal, bahwa negara tidak runtuh karena bencana alam, melainkan karena kegagalannya mendengar jerit rakyat yang memohon perlindungan.<\/span>\n\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/155502?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen) Di saat air banjir menghancurkan rumah-rumah warga di Aceh dan sebagian Sumatera, negara justru sibuk menata citra. Di tenda-tenda pengungsian, doa dilantunkan lirih oleh mereka yang kehilangan segalanya. Doa orang-orang teraniaya, yang dalam keyakinan agama diyakini tak berjarak dengan langit, kini menjelma menjadi kritik paling sunyi sekaligus paling keras terhadap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":155503,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-155502","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/12\/IMG-20251219-WA0051.jpg?fit=800%2C533&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/155502","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=155502"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/155502\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/155503"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=155502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=155502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=155502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}