{"id":155781,"date":"2025-12-22T23:10:16","date_gmt":"2025-12-22T16:10:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=155781"},"modified":"2025-12-22T23:10:16","modified_gmt":"2025-12-22T16:10:16","slug":"pemenuhan-kebutuhan-dasar-lambat-trauma-massal-korban-banjir-aceh-lebih-berat-dari-tsunami-2004","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2025\/12\/22\/pemenuhan-kebutuhan-dasar-lambat-trauma-massal-korban-banjir-aceh-lebih-berat-dari-tsunami-2004\/","title":{"rendered":"Pemenuhan Kebutuhan Dasar Lambat, Trauma Massal Korban Banjir Aceh Lebih Berat dari Tsunami 2004"},"content":{"rendered":"<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\"><strong>Aceh Tamiang, Infoaceh.net \u2014<\/strong> Di bawah terpal-terpal pendek yang berdiri di atas Jembatan Sungai Tamiang, Aceh Tamiang, ratusan korban banjir bandang berusaha bertahan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Mereka tidak hanya melawan panas, debu, dan nyamuk, tetapi juga menghadapi luka batin yang kian hari kian dalam.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Ahli psikologi klinis menilai trauma bencana banjir dan longsor yang kini melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara justru lebih berat dibandingkan trauma tsunami Aceh 2004.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Penyebab utamanya bukan semata dahsyatnya bencana, melainkan lambannya pemenuhan kebutuhan dasar korban.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cSecara psikologis ini sangat berbahaya. Ketika kebutuhan paling mendasar saja belum terpenuhi, manusia kehilangan kemampuan untuk pulih,\u201d kata psikolog klinis Yulia Direzkia, yang pernah menjadi relawan pada tsunami 2004.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Sebelum bencana, para korban bisa tidur di ranjang sendiri, makan dengan tenang, dan bercengkerama bersama keluarga. Kini, untuk masuk ke tenda pengungsian saja mereka harus membungkuk. Terpal tipis tak mampu menahan panas siang hari maupun dingin malam.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Ratnawati (54), warga Desa Suka Jadi, telah berpindah lima kali lokasi pengungsian. Tak satu pun benar-benar aman dari genangan air hujan. <\/span><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cIni tempat terakhir. Ke mana lagi kami mau lari,\u201d katanya kepada BBC News Indonesia.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Ia tinggal bersama anak, menantu, dan tujuh cucunya di satu tenda sempit. Malam hari diisi gigitan nyamuk, siang hari terik matahari menembus terpal. Setiap hari dilalui dengan kelelahan fisik dan emosi yang naik turun.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Banjir bandang yang terjadi pada 26 November dini hari menghapus rumah Ratnawati yang berada di tepi Sungai Tamiang. Lumpur dan gelondongan kayu datang tanpa memberi waktu menyelamatkan apa pun.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cHingga sekarang masih mimpi dikejar air. Kalau lihat sungai, rasanya tidak sanggup,\u201d ujarnya sambil menangis.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Ratnawati mengakui emosinya kini sulit dikendalikan. Hal-hal kecil mudah memancing amarah. Kekecewaan juga muncul ketika melihat bantuan yang dibagikan tidak merata.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Perubahan ini, katanya, juga dialami anak-anak dan cucunya. Mereka menjadi lebih rewel, sering menangis, dan terus meminta pulang ke rumah yang kini sudah tak ada.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Penyintas lain, Warno (56), memilih diam. Sejak banjir menghanyutkan rumahnya, ia sering melamun di sudut jembatan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cKalau bisa jangan ada pagi. Malam saja terus, supaya tidur dan tidak ingat apa-apa,\u201d katanya.<\/span>\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Warno memendam kesedihan agar terlihat kuat di depan istri dan anak-anaknya. Namun luka batin itu terus mengendap.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Hingga kini, belum tersedia layanan konseling psikologis di posko pengungsian Jembatan Sungai Tamiang. Padahal, menurut para penyintas, terutama ibu-ibu dan anak-anak, bantuan psikologis sangat dibutuhkan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cAnak-anak trauma. Mereka perlu ditenangkan,\u201d ujar Nursahati (30), penyintas lainnya.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Menurut Yulia, pada tsunami 2004, meski skala kehancuran sangat besar, pemenuhan kebutuhan dasar relatif cepat. Bantuan nasional dan internasional datang dalam hitungan hari, rumah sakit darurat tersedia, dan sistem penanganan terpusat.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Kini, lebih dari 20 hari pascabencana, masih banyak wilayah terisolasi. Air bersih terbatas, akses kesehatan jauh, listrik dan komunikasi belum pulih, serta pengungsian tersebar tanpa koordinasi matang.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cKondisi ini membuat penyintas tidak mampu melakukan self-healing. Dari stres akut, mereka bisa jatuh ke PTSD kronis,\u201d jelas Yulia.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Gejalanya antara lain kilas balik kejadian, emosi meledak-ledak, menarik diri, hingga gangguan fisik akibat tekanan psikologis.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Yulia juga menilai bencana kali ini lebih kompleks karena bercampur dengan persoalan ekologis. Gelondongan kayu yang terbawa banjir diduga berasal dari pembabatan hutan, memperparah dampak kerusakan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Trauma tidak hanya dialami penyintas, tetapi juga relawan, aparat, tenaga kesehatan, jurnalis, dan masyarakat luas yang terus terpapar berita bencana\u2014fenomena yang dikenal sebagai secondary trauma.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">Dengan keterbatasan jumlah psikolog trauma di Aceh, Yulia mendorong pemerintah segera memetakan wilayah terdampak secara psikologis dan mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 10pt;\">\u201cDalam kondisi seperti ini, bantuan sekecil apa pun bisa menyelamatkan kesehatan mental penyintas,\u201d pungkasnya.<\/span>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/155781?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aceh Tamiang, Infoaceh.net \u2014 Di bawah terpal-terpal pendek yang berdiri di atas Jembatan Sungai Tamiang, Aceh Tamiang, ratusan korban banjir bandang berusaha bertahan. Mereka tidak hanya melawan panas, debu, dan nyamuk, tetapi juga menghadapi luka batin yang kian hari kian dalam. Ahli psikologi klinis menilai trauma bencana banjir dan longsor yang kini melanda Aceh, Sumatera [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":155782,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-155781","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2025\/12\/Screenshot_20251222_223947_TikTok.jpg?fit=648%2C634&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/155781","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=155781"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/155781\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/155782"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=155781"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=155781"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=155781"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}