{"id":156514,"date":"2026-01-03T02:15:34","date_gmt":"2026-01-02T19:15:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=156514"},"modified":"2026-01-03T14:44:20","modified_gmt":"2026-01-03T07:44:20","slug":"kerugian-sektor-perikanan-aceh-timur-capai-rp264-triliun-akibat-banjir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/01\/03\/kerugian-sektor-perikanan-aceh-timur-capai-rp264-triliun-akibat-banjir\/","title":{"rendered":"Kerugian Sektor Perikanan Aceh Timur Capai Rp2,64 Triliun Akibat Banjir"},"content":{"rendered":"<p><strong>Aceh Timur, Infoaceh.net<\/strong> \u2014\u00a0 Kerugian sektor perikanan di Kabupaten Aceh Timur akibat banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 ditaksir mencapai Rp2,64 triliun.<\/p>\n<p>Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur tambak, tetapi juga melumpuhkan sumber penghidupan utama ribuan warga pesisir dan pedesaan.<\/p>\n<p>Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur Afifullah, mengatakan banjir merendam ribuan hektare tambak ikan dan udang, termasuk tambak budi daya serta lokasi produksi garam milik masyarakat di sejumlah kecamatan terdampak.<\/p>\n<p>\u201cKerusakan paling signifikan terjadi pada sektor perikanan. Banyak tambak masyarakat rusak berat, kolam budi daya jebol, ikan dan udang hanyut, serta sarana pendukung seperti pintu air, tanggul tambak, dan peralatan budi daya tidak bisa diselamatkan,\u201d kata Afifullah di Aceh Timur, Jum&#8217;at (2\/1\/2026), dikutip dari Antara.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, banjir yang berlangsung cukup lama menyebabkan sebagian besar pembudidaya perikanan mengalami gagal panen.<\/p>\n<p>Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan sepenuhnya karena aktivitas perikanan lumpuh total.<\/p>\n<p>\u201cSebagian besar tambak masih terendam sehingga masyarakat belum dapat beraktivitas. Dari laporan sementara yang masuk, kerugian perikanan diperkirakan mencapai Rp2,64 triliun,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain kerusakan fisik tambak, banjir juga berdampak serius terhadap ekosistem perairan.<\/p>\n<p>Air banjir yang bercampur lumpur dan limbah menyebabkan penurunan kualitas air secara drastis, yang berpotensi memicu kematian massal ikan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cDampak lanjutan ini tidak bisa dianggap ringan. Setelah banjir surut pun, masyarakat masih membutuhkan waktu dan biaya besar untuk memulihkan tambak agar bisa kembali digunakan,\u201d kata Afifullah.<\/p>\n<p>Saat ini, lanjutnya, pemerintah daerah masih memfokuskan penanganan tanggap darurat, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.<\/p>\n<p>Namun ke depan, BPBD mendorong adanya perhatian dan intervensi khusus untuk pemulihan sektor perikanan.<\/p>\n<p>\u201cSektor perikanan merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh Timur. Karena itu, kami berharap ada dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, khususnya untuk pemulihan sektor perikanan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sebagai informasi, banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Timur pada 26 November 2025 berdampak pada 443 gampong di 24 kecamatan.<\/p>\n<p>Total warga terdampak mencapai 290.582 jiwa dari 81.603 kepala keluarga.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156514?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur Afifullah, mengatakan banjir merendam ribuan hektare tambak ikan dan udang, termasuk tambak budi daya serta lokasi produksi garam milik masyarakat di sejumlah kecamatan terdampak.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":156515,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[27],"tags":[3146],"class_list":["post-156514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-utama"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/01\/1767380982810.jpg?fit=432%2C324&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=156514"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156514\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/156515"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=156514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=156514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=156514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}