{"id":156621,"date":"2026-01-04T15:08:19","date_gmt":"2026-01-04T08:08:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=156621"},"modified":"2026-01-05T14:37:40","modified_gmt":"2026-01-05T07:37:40","slug":"lebih-sebulan-mengungsi-warga-ketol-aceh-tengah-jadi-buruh-harian-demi-bertahan-hidup-usai-bencana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/01\/04\/lebih-sebulan-mengungsi-warga-ketol-aceh-tengah-jadi-buruh-harian-demi-bertahan-hidup-usai-bencana\/","title":{"rendered":"Lebih Sebulan Mengungsi, Warga Ketol Aceh Tengah Jadi Buruh Harian Demi Bertahan Hidup Usai Bencana"},"content":{"rendered":"<p><strong>Takengon, Infoaceh.net<\/strong> \u2014 Lebih dari sebulan pascabencana banjir bandang dan longsor, kehidupan warga Kampung Bintang Pepara, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, masih jauh dari kata pulih.<\/p>\n<p>Mengungsi di SMP Negeri 32 Takengon sejak 27 November lalu, puluhan keluarga berjuang bertahan di tengah keterbatasan, tanpa menggantungkan sepenuhnya harapan pada bantuan.<\/p>\n<p>Di antara para pengungsi itu, Sri Murni tak kuasa menahan air mata saat mengingat hari bencana yang memaksanya meninggalkan rumah dan kampung halaman.<\/p>\n<p>\u201cKalau teringat kejadian itu, masih menangis. Sedih sekali, Pak. Sudah tak sanggup diceritakan,\u201d ujarnya lirih, Sabtu (3\/1\/2026).<\/p>\n<p>Akses jalan yang terputus membuat distribusi bantuan sering terhambat. Logistik pangan hanya bisa masuk melalui jalur udara, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.<\/p>\n<p>Dalam kondisi itulah, Sri Murni dan warga lainnya memilih bekerja sebagai buruh harian demi memenuhi kebutuhan keluarga.<\/p>\n<p>Setiap hari, ia memetik cabai di perbukitan dengan upah sekitar Rp50 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli makanan bagi anak-anaknya.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, meski sedikit, bisa untuk makan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Namun, kebutuhan mendesak warga bukan hanya pangan. Tempat tinggal menjadi persoalan utama.<\/p>\n<p>Aktivitas sekolah yang akan kembali normal membuat para pengungsi berharap segera dipindahkan dari lokasi pengungsian.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin cepat pindah. Rumah gubuk pun tak apa, asal aman. Kampung lama sudah tidak layak, kami takut kembali,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Reje Kampung Bintang Pepara, Misran SH menyebutkan saat ini terdapat 99 kepala keluarga dengan total 360 jiwa yang masih mengungsi.<\/p>\n<p>Persediaan logistik pangan diperkirakan hanya cukup untuk empat hingga lima hari ke depan. Air bersih dan listrik juga masih menjadi kendala serius.<\/p>\n<p>\u201cListrik belum normal, masih pakai genset bantuan. Ekonomi warga berat, rata-rata hanya dapat Rp50 ribu per hari dari pekerjaan serabutan,\u201d jelas Misran.<\/p>\n<p>Menjelang bulan suci Ramadhan, warga berharap hunian sementara segera dibangun. Bahkan, masyarakat telah sepakat direlokasi ke lokasi yang lebih aman demi keselamatan jangka panjang.<\/p>\n<p>Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah meninjau lokasi calon hunian sementara di Kampung Jalan Tengah, Lapangan Sepak Bola, Kecamatan Ketol.<\/p>\n<p>Bupati bersama tim memastikan percepatan pembangunan hunian sementara agar warga tidak terlalu lama hidup di pengungsian.<\/p>\n<p>Kisah warga Bintang Pepara menjadi potret keteguhan para korban bencana: terluka oleh alam, terhimpit keadaan, namun tetap menjaga martabat dengan bekerja dan berharap pada masa depan yang lebih aman.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156621?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengungsi di SMP Negeri 32 Takengon sejak 27 November lalu, puluhan keluarga berjuang bertahan di tengah keterbatasan, tanpa menggantungkan sepenuhnya harapan pada bantuan.<br \/>\n\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":156623,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[229],"tags":[],"class_list":["post-156621","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-surat-warga"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/01\/20260104_150135.jpg?fit=1704%2C768&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156621","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=156621"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156621\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/156623"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=156621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=156621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=156621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}