{"id":156749,"date":"2026-01-05T18:53:24","date_gmt":"2026-01-05T11:53:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=156749"},"modified":"2026-01-05T18:53:24","modified_gmt":"2026-01-05T11:53:24","slug":"1-794-hektare-tambak-tenggelam-luka-yang-tersisa-pascabanjir-pidie","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/01\/05\/1-794-hektare-tambak-tenggelam-luka-yang-tersisa-pascabanjir-pidie\/","title":{"rendered":"1.794 Hektare Tambak Tenggelam, Luka yang Tersisa Pascabanjir Pidie"},"content":{"rendered":"<p><strong><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt; color: #000000;\">Oleh: Drs. M Isa Alima*<\/span><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt; color: #000000;\">Genangan banjir telah pergi meninggalkan daratan. Air kembali ke sungainya. Namun, di pesisir Pidie, luka tidak ikut surut.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt; color: #000000;\">Ia tinggal, menetap dan dirasakan setiap hari oleh masyarakat tambak yang kehilangan sandaran hidupnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt; color: #000000;\">Hasil verifikasi mencatat 1.794 hektare tambak masyarakat di Kabupaten Pidie terdampak banjir.<\/span><\/p>\n\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Angka ini bukan sekadar data administratif. Ia adalah kisah tentang kolam yang rusak, benur yang mati, pintu air yang hancur, dan modal usaha yang hilang tanpa sempat diselamatkan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Di balik luasan itu, ada wajah-wajah letih yang tetap mencoba tegar, menunggu kapan kehidupan kembali bergerak.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Pidie dalam percepatan pemulihan patut diapresiasi.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Negara memang harus hadir ketika rakyatnya paling rapuh. Rehabilitasi tambak, perbaikan sarana-prasarana, bantuan budidaya, serta pendampingan teknis menjadi langkah awal yang penting agar masyarakat tidak dibiarkan bangkit sendirian dari reruntuhan.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Namun, bencana ini juga menyampaikan pesan yang lebih dalam: pemulihan tidak cukup jika hanya bersifat tambal sulam.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Banjir yang berulang adalah cermin dari persoalan yang lama diabaikan hulu yang gundul, sungai yang menyempit, tata ruang yang abai, dan mitigasi bencana yang sering kalah cepat dari kerusakan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Jika akar masalah ini tidak disentuh, maka tambak yang hari ini dipulihkan bisa kembali tenggelam di musim hujan berikutnya.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Lebih dari itu, pemulihan tidak akan bermakna tanpa keberanian mengambil langkah struktural. Pembersihan dan pengerukan sungai induk menjadi keharusan yang tidak bisa ditunda.\u00a0<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Sungai yang dangkal, dipenuhi sedimen dan kayu gelondongan, serta penyempitan alur telah menjelma ancaman senyap setiap musim hujan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Selama kapasitas sungai tidak dikembalikan, air akan terus mencari jalan sendiri masuk ke perkampungan, menggenangi sawah, dan menenggelamkan tambak rakyat.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Normalisasi sungai bukan proyek seremonial, melainkan ikhtiar perlindungan kehidupan.\u00a0<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Ia harus dirancang terpadu, lintas sektor dan berkelanjutan: dari hulu hingga hilir, dari kawasan hutan, daerah aliran sungai, hingga pesisir.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Jika sungai kembali lapang dan alurnya terjaga, maka air hujan akan mengalir sebagaimana mestinya, bukan berubah menjadi ancaman bagi rumah, ladang, dan sumber nafkah rakyat.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Masyarakat tambak Pidie tidak sedang meminta dikasihani. Mereka hanya menuntut keadilan kebijakan.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Mereka ingin kembali bekerja, menghidupi keluarga dengan keringat sendiri. Yang mereka butuhkan adalah kecepatan, kepastian, dan keberpihakan nyata, bukan janji yang larut dalam rapat dan laporan.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah harus diterjemahkan secara konkret: jadwal pemulihan yang jelas, mekanisme bantuan yang transparan, serta pengawasan yang tegas agar bantuan benar-benar sampai ke tangan yang berhak.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Jangan biarkan penderitaan rakyat kalah oleh lambannya birokrasi.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Tambak-tambak itu adalah nadi ekonomi pesisir. Ketika nadi ini melemah, denyut kesejahteraan masyarakat ikut terhenti. Tetapi jika dipulihkan dengan sungguh-sungguh, ia akan kembali mengalirkan kehidupan lebih kuat, lebih siap, dan lebih bermartabat.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Di Pidie hari ini, ujian sesungguhnya bukan lagi pada banjir.<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span>\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">Ujian itu ada pada keseriusan negara menutup luka yang ditinggalkan air.<\/span>\n\n<span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 12pt;\">*<strong>Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh<\/strong><\/span>\n\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156749?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Drs. M Isa Alima* &nbsp; Genangan banjir telah pergi meninggalkan daratan. Air kembali ke sungainya. Namun, di pesisir Pidie, luka tidak ikut surut. &nbsp; Ia tinggal, menetap dan dirasakan setiap hari oleh masyarakat tambak yang kehilangan sandaran hidupnya. &nbsp; Hasil verifikasi mencatat 1.794 hektare tambak masyarakat di Kabupaten Pidie terdampak banjir. Angka ini bukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":156750,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-156749","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/01\/IMG-20250826-WA0402.jpg?fit=1331%2C1179&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156749","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=156749"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/156749\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/156750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=156749"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=156749"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=156749"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}