{"id":157237,"date":"2026-01-13T00:32:47","date_gmt":"2026-01-12T17:32:47","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=157237"},"modified":"2026-01-14T09:18:32","modified_gmt":"2026-01-14T02:18:32","slug":"ratusan-sekolah-di-aceh-utara-masih-berlumpur-46-hari-pascabanjir-ribuan-siswa-butuh-perlengkapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/01\/13\/ratusan-sekolah-di-aceh-utara-masih-berlumpur-46-hari-pascabanjir-ribuan-siswa-butuh-perlengkapan\/","title":{"rendered":"Ratusan Sekolah di Aceh Utara Masih Berlumpur 46 Hari Pascabanjir, Ribuan Siswa Butuh Perlengkapan"},"content":{"rendered":"<p><strong>ACEH UTARA, Infoaceh.net<\/strong> \u2014 Empat puluh enam hari setelah banjir bandang dan longsor melanda Aceh sejak 26 November 2025, kondisi ratusan sekolah di Kabupaten Aceh Utara masih memprihatinkan.<\/p>\n<p>Hingga Senin (12\/1\/2026), sebanyak 747 sekolah berbagai jenjang pendidikan dilaporkan masih dipenuhi lumpur, menghambat pemulihan aktivitas belajar mengajar.<\/p>\n<p>Dari jumlah tersebut, 132 sekolah merupakan SMA sederajat dan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh serta Kementerian Agama.<\/p>\n<p>Sementara 615 sekolah lainnya berada dalam kewenangan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan tersebar di 27 kecamatan.<\/p>\n<p>Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan ruang-ruang kelas pada umumnya telah dibersihkan agar proses pembelajaran dapat kembali berjalan.<\/p>\n<p>Namun, kondisi lingkungan sekolah dan akses jalan menuju sekolah masih tertutup lumpur tebal.<\/p>\n<p>\u201cKami fokus membuka kembali ruang kelas supaya anak-anak bisa belajar. Tetapi halaman sekolah, parit, dan jalan menuju sekolah masih belum tertangani sepenuhnya,\u201d ujar Jamaluddin, dikutip dari Kompas.com, Senin (12\/1\/2026).<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, proses belajar mengajar saat ini dilakukan dengan sistem jam fleksibel, termasuk di lima sekolah yang mengalami kerusakan total.<\/p>\n<p>Untuk sekolah-sekolah tersebut, guru mendatangi siswa di lokasi pengungsian agar kegiatan belajar tidak terhenti.<\/p>\n<p>Menurut Jamaluddin yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, data seluruh sekolah terdampak telah disampaikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk ditindaklanjuti dalam proses pembersihan.<\/p>\n<p>\u201cPembersihan dilakukan bersama TNI, Polri, relawan, dan pemerintah daerah. Namun karena jumlah sekolah sangat banyak dan lokasinya menyebar, tentu butuh waktu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain persoalan lumpur, kebutuhan perlengkapan sekolah menjadi masalah serius.<\/p>\n<p>Jamaluddin menyebutkan sekitar 7.000 siswa terdampak banjir kehilangan seragam, sepatu, tas, alat tulis, hingga buku pelajaran.<\/p>\n<p>\u201cBanyak siswa datang ke sekolah tanpa perlengkapan lengkap. Buku pelajaran dan alat peraga juga rusak akibat banjir,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia mengakui bantuan perlengkapan sekolah sebanyak 900 unit dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI telah diterima.<\/p>\n<p>Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cKami terus berkoordinasi dengan Kemendikdasmen dan mengajak semua pihak, baik lembaga pemerintah, swasta, maupun organisasi kemanusiaan dari dalam dan luar negeri, untuk membantu pemulihan pendidikan di Aceh Utara,\u201d pungkas Jamaluddin.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/157237?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari jumlah tersebut, 132 sekolah merupakan SMA sederajat dan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh serta Kementerian Agama.<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":157241,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-157237","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/01\/20260113_011059.jpg?fit=852%2C384&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/157237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=157237"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/157237\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/157241"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=157237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=157237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=157237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}