{"id":157600,"date":"2026-01-18T08:32:54","date_gmt":"2026-01-18T01:32:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.infoaceh.net\/?p=157600"},"modified":"2026-01-18T15:12:30","modified_gmt":"2026-01-18T08:12:30","slug":"etika-komunikasi-di-tengah-bencana-kata-kata-jangan-jadi-luka-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.infoaceh.net\/2026\/01\/18\/etika-komunikasi-di-tengah-bencana-kata-kata-jangan-jadi-luka-baru\/","title":{"rendered":"Etika Komunikasi di Tengah Bencana, Kata-kata Jangan Jadi Luka Baru"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh, Infoaceh.net<\/strong> \u2014 Di tengah suasana duka yang menyelimuti masyarakat Aceh akibat bencana banjir bandang dan longsor, etika komunikasi menjadi hal penting yang harus dijaga oleh semua pihak.<\/p>\n<p>Cara berbicara, menyampaikan pendapat, maupun merespons keluhan warga terdampak bencana dinilai dapat menjadi penguat, namun juga berpotensi menambah luka baru jika tidak disampaikan dengan empati.<\/p>\n<p>Hal tersebut disampaikan Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Drs M. Isa Alima, pada Sabtu (17\/1\/2026).<\/p>\n<p>Ia menegaskan, masyarakat yang terdampak bencana berada dalam kondisi psikologis yang sangat rentan, sehingga setiap pernyataan yang muncul ke ruang publik harus diungkapkan dengan kehati-hatian.<\/p>\n<p>\u201cWarga terdampak sedang mengalami tekanan berat, kehilangan, dan ketidakpastian. Jangan sampai kata-kata yang kita sampaikan justru melukai perasaan mereka dan menambah beban trauma,\u201d ujar Isa Alima.<\/p>\n<p>Menurutnya, komunikasi yang tidak sensitif, bernada menyalahkan, atau mengabaikan kondisi emosional korban bencana dapat memicu keresahan sosial, memperkeruh suasana, bahkan membuka kembali luka lama yang belum pulih.<\/p>\n<p>Karena itu, etika komunikasi harus menjadi panduan utama, baik bagi pejabat publik, tokoh masyarakat, media massa, maupun masyarakat umum.<\/p>\n<p>Isa Alima menekankan bahwa pada masa krisis, informasi dan pernyataan seharusnya disampaikan secara akurat, menenangkan, serta mengedepankan empati dan rasa kemanusiaan.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan agar semua pihak menahan diri dari pernyataan yang berpotensi menimbulkan polemik atau perpecahan di tengah situasi yang sulit.<\/p>\n<p>\u201cDi saat seperti ini, kata-kata seharusnya menjadi penyejuk hati dan penguat jiwa. Bukan justru menjadi sumber luka baru bagi masyarakat yang sedang berduka,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti jeritan dan keluhan warga terdampak yang kerap disampaikan secara spontan.<\/p>\n<p>Menurutnya, hal tersebut merupakan luapan duka dan tekanan batin yang dialami korban bencana, sehingga perlu disikapi dengan sikap mendengar yang tulus dan respons yang penuh empati.<\/p>\n<p>\u201cJeritan warga lahir dari penderitaan yang mereka alami. Maka kita harus peka dalam mendengarkan dan meresponsnya, bukan menghakimi atau menyederhanakan rasa sakit mereka,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Ketua Patriot Bela Nusantara (PBN) Aceh ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian sosial.<\/p>\n<p>Ia menilai bahwa bencana bukan hanya ujian dari alam, tetapi juga ujian empati dan tanggung jawab sosial semua pihak.<\/p>\n<p>\u201cCara kita berkomunikasi di tengah bencana mencerminkan kualitas empati dan kepedulian kita sebagai masyarakat. Mari pastikan kata-kata yang kita ucapkan menjadi penguat, bukan luka baru,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/157600?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/apps\/pdf-print\/images\/print.png?ssl=1\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cWarga terdampak sedang mengalami tekanan berat, kehilangan, dan ketidakpastian. Jangan sampai kata-kata yang kita sampaikan justru melukai perasaan mereka dan menambah beban trauma,\u201d ujar Isa Alima.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":157601,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[229],"tags":[],"class_list":["post-157600","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-surat-warga"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/www.infoaceh.net\/foto\/2026\/01\/perbaiki-komunikasi-publik-pemerintah-perlu-praktikkan-3-hal-ini-vsp.jpg?fit=992%2C606&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/157600","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=157600"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/posts\/157600\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media\/157601"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=157600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=157600"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.infoaceh.net\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=157600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}